TANYA JAWAB TASAWUF: APAKAH ORANG RAJIN SHALAT ADALAH SUFI

PERTANYAAN AKHLAK TASAWUF-3

Pertanyaan:
Dalam Buku yang berjudul "Sufi Healing" salah satu bab mengatakan bahwa dalam sejarah perkembangannya Tasawuf pernah mengalami masa pemurnian kembali, artinya dalam praktiknya tasawuf pernah diklaim menyimpang dari syari'at kemudian dimurnikan kembali agar sesuai dengan syari'at. Pada fase ini, (abad ke-8 H) praktik tasawuf pada masa ini dianggap telah jauh dari ajaran Islam sehingga banyak pihak menganggap tasawuf adalah bid'ah, penuh kufarat, mengabaikan syari'at, serta irasional. Oleh karena itu, praktik tasawuf mendapat kritikan keras dari Ibnu Taimiyah dan Ibnu Attah'illah.
Pertanyaan saya, bagaimana bentuk praktik tasawuf yang menyimpang, dan cara menghindarinya agar kita tidak terjerumus ke jalan penyimpangan tersebut? Sehingga kita dapat menjalankan tasawuf sesuai dengan tujuan asal, yaitu mencapai kebahagiaan bersama Allah. Terimakasih.
(by: Adhimas Alifian Yuwono)

Jawaban:
Thanks mas Adhimas untuk pertanyaannya, jalan tasawuf adalah jalan yang paling menenangkan dalam kehidupan. Namun, seseorang tidak bisa langsung berada pada tahapan ini. seseorang yang memilih hidup bertasawuf, harus melewati maqam-maqam sebelumnya, yaitu - Syariat- Hakikat- Thariqat--. kata sederhananya begini, manusia harus kaya dan sukses dahulu untuk menuju sufi. jangan sampai sufi dianggap hidup dengan dzikir saja. sebab, orang yang telah menikmati dunia dengan cukup, kedekatan diri dengan Tuhan serta semesta jauh lebih bermanfaat dan hikmah.
sayangnya praktek tasawuf di dunia ini sering kali disalah pahami hidup zuhud tanpa berusaha keras untuk kebahagiaan keluarga, tidak bekerja dan hanya disibukkan dengan dzikir. padahal tanggung jawab manusia di dunia ini salah satunya ada "bekerja" baik untuk keluarga orang tua atau pasangan hidup serta anak.
menurut al-Jilani Penyimpangan di bidang tasawuf adalah penyimpangan pelaksanaan ajaran tasawuf dari akidah dan syari'at Islam. Al-Jilani menganggap bahwa kelompok-kelompok sesat tersebut tidak kafir. Kecuali bid'ahnya sangat berat sehingga menjadikannya murtad/kafir.
selanjutnya, penyimpangan tentang kekeliruan dalam memahami konsep "wahdatul wujud-manunggaling kawulo gusti" banyak beberapa orang memahmi kalimat tersebut dengan meninggalkan syariat. Contohnya: orang merasa dirinya sufi namun tidak shalat, puasa dll..
Syeih KH. Hasyim Asy’ari pendiri NU, menjelaskan tentang hakikat tasawuf serta penyimpangannya dalam dua kitab yaitu, Risalah ahli sunah waljamaah dan al dhurrar al Muntahsirah fi al-masail al-tïsa’as syarah. Kitab Al dhurar ditulis oleh Syekh Hasyim Asy’ari khusus mengkaji tentang wali dan tariqah tasawuf.
Dalam dunia tasawuf juga dalam cabang-cabang ilmu lain dalam kenyataannya memang terdapat cendekiawan palsu yang membelokan jalan dari aturan syariah. Kewajiban syariat bagi penganut tariqoh sufi dan para sufi tetaplah wajib dijalankan, dimanapun kapanpun dalam keadaan apapun. Syeikh Hasyim menolak jika kewajiban syariat Nabi Muhammad itu terpakai untuk orang tertentu dan terbatas pada waktu tertentu. Orang yang meyakini gugurnya syariat pada orang dan waktu tertentu dikatakan sebagai orang yang mendustakan dan merendahkan al-Qur’an yang agung (istihza anil Qur’anil ‘adzim).

Cara menghindari dari ajaran tasawuf yang menyimpang adalah mencari guru spiritual yang benar-benar shaleh secara general, bisa dilihat dari nasab, sejarah perjalanan beliau, sikap dan ucapan (apabila orang tersebut adalah orang yang takut dengan tuhan- rajin ibadah, baik dan menghormati sesame manusia, bermanfaat bagi banyak umat, tidak culas, jujur, pandai dan cerdas), bahkan ada yang menambah syarat menjadi guru spiritual/kiai adalah yang pernah bermimpi atau langsung ketemu dengan Nabi Muhammad SAW. Wallahua’lam


Pertanyaan
Bagaimana seseorang dapat menjadi seorang sufi? Apakah dengan berguru kepada ahli sufi terdahulu, atau belajar dengan sendiri atau bagaimana?. Lalu, bagaimana sikap kita apabila bertemu dengan sekumpulan atau seorang sufi tapi orang tersebut tidak berperilaku seperti sufi. Apakah kita harus mengabaikannya atau seperti apa?
Mengingat, kita bukan seorang sufi. Terima kasih.
(by Adika Hary Hermawan)

Jawaban:

Thanks mas Adika, seseorang menjadi sufi harus melewati beberapa maqam yaitu syariat-hakikat-thariqat. Tanpa melewati maqam-maqam tersebut, sufi kita hanya sebatas fatamorgana. Sebab menjadi sufi adalah sangat berat-berat bagi manusia yang masih menginginkan uang, kekuasaan dan penghormatan. Namun, bukan berarti kita tidak bisa mencoba, mendkatkan diri kepada Tuhan dengan berpedoman pada teks adalah pilihan. Mendekatkan diri kepada Tuhan tidak hanya melalui shalat, puasa, zakat dan lain-lain. Shalat dan sebagainya adalah kewajiban kita sebagai umat muslim, namun kita juga harus berbuat baik dengan sesame manusia dan alam sekitar, bahkan terhadap arwah pendahulu kita memiliki etika untuk mendokan. Ulama yang telah sampai pada tingkat ma'rifat, ia semakin arif, ibarat padi, semakin berisi semakin menunduk. Semakin tinggi derajat kesufiannya semakin tidak diketahui orang bahwa ia akhli ibadah. Oleh karena itu riyadah (usaha) yang bisa kita lakukan untuk menuju ke jalan tasawuf adalah:
            -takut kepada Tuhan dengan menjalankan segala aturan dan mnjauhi larangan
            -jujur, bertanggung jawab dan sebagainya
            -melakukan olah batin untuk menundukkan hawa nafsu (pamer, iri dengki)
Untuk mendalami jalan tasawuf usahakan memiliki guru spiritual yang dipercayai kealimannya (orang alim bukan hanya yg rajin shalat, namun sikap dan perilakunya kepada hamba Tuhan sangat manusiawi, menundukkan hawa nafsu, menguasai ilmu Tuhan, dll), usahakan guru bisa ditemui secara face to face, bukan berguru dari tulisan-tulisannya saja, sedangkan tulisan-tulisan ulama sufi terdahulu sebagai penguat dan penambah wawasan. Sebab, jika tanpa guru, dikhawatirkan nalar manusia akan salah faham dan menjadi ajaran yang kurang benar.
Jika kita bertemu dengan sufi namun karakternya tidak mencerminkan hamba yang tunduk kepada Tuhan (masih ada sombong, iri dengki, tidak bisa menghilangkan keduniaan) maka kita harus menghormatinya sebagai sesame manusia, dan berlindung kepada Tuhan dari godaan sikap-sikap yang dapat merusak keimanan. Wallahua’lam

 
Pertanyaan:
mengenai materi yang mba-aris sampaikan, pada penjelasan dr PPT akhlak Tasawuf adalah hubungan manusia dengan tuhan-nya.. dan Kalau tidak salah orang yang sudah mencapai titik Tasawuf ini disebut "Sufi", pertanyaan saya :
~sebenarnya apakah hakikat Dari Tasawuf dan sufi ini ?
~ Apakah ciri orang yang dianggap sufi ini adalah orang yang Setiap hari nya mendatangii majelis ilmu/pengajian dll, dilihat rajin ke masjid. Apakah Itu Termasuk Sufi ?
~ Bagaimana kah ciri orang yang benar" mencapai titik Tasawuf Itu?
Terima kasih . (by Rizqita)

Jawaban:
Thanks mb Rizqita, pertanyaa pertama mengenai hakikat tasawuf adalah ketaatan kepada Allah SWT,  cinta kepada  sesama  makhluk,  makrifat  akan kekurangan yang ada pada diri sendiri, mengetahui tipu muslihat dari  setan  dan pencegahannya,  serta  perhatian  mereka  dalam meningkatkan jiwa ke tingkat yang murni dan menjauhi  hal-hal   yang   menyimpang   dan terlampau  berlebih-lebihan.
Pertanyaan selanjutnya tentang orang yg rajin melakukan ibadah wajib, tidak selalu. Sebab shalat-puasa dan sebagainya adalah kewajiban muslim. Faktanya, banyak orang rajin datang ke tempat majlis agama namun sifatnya masih suka iri dengki, julid dan lain sebagainya. menjadi sufi adalah sikap bagaikan padi semakin berisi semakin merunduk.
Ciri yang utama adlah orang tersebut bersikap tenang, tawadu’, mencintai Tuhan dan ciptaannya, cinta kasih kepada sesame. Wallahu a’lam.

 
logoblog
Previous
« Prev Post