Kelebihan dan Kekurangan PTK

Sejarah PTK
     Cikal bakal lahirnya penelitian tindakan kelas (PTK) dapat ditelusuridari awal penelitian dalam ilmu pendidikan yang diinspirasi melaluipendekatan ilmiah yang diadvokasi oleh filsuf John Dewey (1910) dalambukunya How We Think dan The Source of a Science of Education (Supardi,2002:101). Pendekatan ilmiah yang dianut Dewey sangat ideal, namun pendekatan demikian tidak mampu menyelesaikan masalah sosial menjadisebuah inkuiri sosial maupun kependidikan yang merupakan sebuahupaya kolaboratif dengan munculnya suatu kebutuhan yang mendesakdalam ilmu pendidikan yang lebih memfokuskan pada masalah praktikbukan pada teori.
      Kebutuhan terhadap sebuah upaya kolaboratif dalammenyibak tabir pendidikan semakin hari dirasakan semakin mendesak. Perkembangan selanjutnya mengenai PTK digagas oleh seorangpsikolog sosial Amerika yang bernama Kurt Lewin pada tahun 1946.Gagasan Lewin dikembangkan oleh ahli-ahli lain seperti Stephen Kemmis, Robin McTaggart, John Elliot dan Dave Ebbut dan sebagainya. Lewinmendirikan lembaga riset The Research Center For Group Dynamics diMassachusset Institute of Tecnology. Lewin mengunakan istilah actionresearch dalam upaya memecahkan persoalan di masyarakat. Dalamrisetnya, Lewin menekankan pentingnya kerjasama dalam mengumpulkandata sosial. Action research dikembangkaan Kurt Lewin dengan tujuan untukmencari penyelesaian terhadap problem sosial, seperti pengangguranatau kenakalan remaja yang berkembang di masyarakat. Action researchdiawali oleh suatu kajian terhadap suatu problem secara sistematis.
      Hasil kajian ini kemudian dikembangkan sebagai dasar untuk menyusunsuatu rencana kerja sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam proses pelaksanaan dan rencana kerja yang telah disusun, dilakukansuatu observasi dan evaluasi yang hasilnya digunakan sebagai masukkanuntuk melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada saat tahapanpelaksanaan.
Hasil dari proses refleksi ini, melandasi upaya perbaikandan penyempurnaan rencana tindakan selanjutnya.Menurut Lewin, action research dapat dibedakan menjadi duabentuk yaitu:
  • penelitian komparatif yang membandingkan kondisi dan pengaruh dari berbagai ragam tindakan sosial
  • penelitian yang merespon konflik-konflik sosial tertentu dan mengarahkannyapada tindakan sosial. Pengetahuan (teori) tentang tindakan sosial dapat dikembangkan dari hasil pengamatan terhadap tindakan dalam konteks.
     Riset tindakan yang dilakukan Lewin secara umum menggunakan langkah spiral yang terdiri dari planning, action, observation, reflectiondan planning act. Riset tindakan bukan hanya membantu manusia danorganisasi bersikap terhadap dunia luar, tetapi juga membantu mengubahdan berefleksi tentang sistemnya sendiri.
      Riset tindakan bukan hanyaakan mengembangkan suatu organisasi keluar, tetapi juga pengembangan ke dalam (Suparno, 2008:11). Dekade 50-an Stephen Corey mengembangkan action research dalamdunia pendidikan dengan melibatkan guru, supervisor, orang tua dan administrator sekolah. Corey menyatakan bahwa metode penelitian ilmiahkuantitatif kurang memberikan sumbangan nyata pada praktek pendidikandan sebagian besar peneliti kependidikan hanya sampai pada generalisasi tanpa diikuti tindakan dari hasil penelitiannya. Dalam penelitian tindakan, perubahan-perubahan dalam praktek pendidikan sangat mungkin terjadi, sebab pengajar, pengawas dan tenaga kependidikan lainnya terlibat langsung dalam penelitian dan mengaplikasikan temuannya. Selanjutnya Corey, menjelaskan bahwa manfaat penelitian tindakan dalam pendidikan terletak pada aspek peningkatan kualitas praktek kependidikan. Generalisasi yang dihasilkan dari penelitian tindakan sangat tepat untuk diterapkan pada situasi penelitian itu sendiri, bukan yang lebih luas.Tahun 1957, Hodgkinson menyampaikan beberapa kritik terhadap penelitian tindakan. Menurutnya, praktisi pendidikan kurang akrab dengan teknik-teknik dasar penelitian dan penelitian bukan merupakan pekerjaan amatiran.
      Guru tidak memiliki cukup waktu untuk melakukanpenelitian dan waktu yang mereka gunakan untuk penelitian sering dikacaukan dengan kegiatan pengajaran yang dilakukannya.Riset tindakan juga diadopsi dalam dunia pendidikan pada awal dekade 70-an di Inggris bertepatan dengan munculnya gerakan “guru sebagai peneliti “teacher-reseachers” yang dikembangkan Lawrence Stenhouse. Stenhouse membantu guru mengembangkan peran gurusebagai peneliti. Guru diajak berefleksi secara kritis dan sistematis tentang praktik mengajar sehingga dapat membangun teori kurikulum sendiri. Guru harus menjadi ahli dalam bidangnya lewat penelitian terhadap tindakannya sendiri sebagai upaya melihat persoalan dan mencari pemecahan tentang persoalan yang ditemui. 
     Akhir dekade 70-an dan awal dekade 80-an di Amerika Serikat juga muncul keinginan mewujudkan riset tindakan dengan melakukan kolaborasi sehingga dengan demikian mampu mengembangkan profesionalisme pendidik dan tenaga kependidikan. Tahun 1972-1973 John Elliot dan Adelman memimpin sebuah proyek penelitian pembelajaran yang melibatkan sekitar 40 guru sekolah dasar dan sekolah menengah. Dalam penelitian tersebut disusun hipotesis yang berkaitan dengan upaaya meningkatkandan memperbaiki proses pengajaran guru dan hasilnya digunakan guru. 
     Dari sinilah muncul istilah guru peneliti, penelitian praktis dan penelitiantindakan. Sekitar tahun 1980, proyek John Elloit melakukan kajian yang berfokus pada penelaahan kesenjangan antara mengajar yang seharusnya dengan mengajar pada praktik. Pada tahun 1976, di Universitas Cambridge didirikan jaringan penelitian tindakan kelas yang dinamai dengan classroom action research. Gideonse(1983) dalam Supardi (2002:101) menjelaskan bahwa perlu dilakukan restorasi terhadap pendekatan penelitian sehingga penelitian tindakan merupakan suatu investigasi terkendali terhadap berbagai faset pendidikan dan pembelajaran dengan cara reflektif dan sistematis. 
     Dukungan kolaboratif semakin meluas sehingga dikenal dengan suatu penelitian tindakan kelas (class room action research). Perkembangan PTK semakin meluas dibelahan dunia ini, termasuk di Indonesia mulai dikenal pada akhir dekade 80-an. Di Indonesia, PTK mulai digerakkan pada waktu upaya-upaya perbaikan mutu pendidikan di mulai dengan renovasi di tingkat pendidikan guru sekolah dasar, kemudian meluas ke kalangan guru-guru sekolah menengah. Saat ini, PTK banyak dilakukan para tenaga pengajar sebagai upaya pemecahan masalah dan peningkatan mutu pendidikan dan pembelajaran. Jenis penelitian ini bermanfaat bagi tenaga pengajar dalam rangka meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran. Melalui PTK tenaga pengajar dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri. Di samping itu laporan PTK dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mendapatkan angka kredit dalam kepangkatan karirnya sebagai pendidik

 Kelebihan dan Kekurangan PTK

    Menurut Sanjaya 2009: Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut. Dari pengertian PTK tersebut, ada lima hal yang harus diperhatikan dalam melaksanakan PTK, yaitu:

  1. PTK merupakan proses, yang artinya PTK adalah rangkaian kegiatan yang dimulai dengan menyadari adanya masalah, kemudian tindakan untuk memecahkan masalah, dan refleksi terhadap tindakan yang dilakukannya tersebut.
  2. PTK mengkaji masalah pembelajaran di dalam kelas, yang artinya berkaitan dengan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa.
  3. PTK dimulai dan diakhiri dengan refleksi diri, artinya yaitu yang melaksanakannya adalah guru sendiri.
  4. PTK dilakukan berbagai tindakan, artinya tidak hanya ingin mengetahui sesuatu, tetapi ada aksi dari guru untuk proses perbaikan.
  5. PTK dilakukan dalam situasi nyata, artinya aksi yang dilakukan guru dilaksanakan dalam setting pembelajaran yang sebenarnya, tidak mengganggu proses pembelajaran yang sudah direncanakan.

Kelebihan dan kelemahan PTK

Penelitian PTK mempunyai beberapa kelebihan menurut Sanjaya (2009), diantaranya:

  1. PTK tidak dilaksanakan oleh seseorang saja akan tetapi dilaksanakan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak antara lain guru sebagai pelaksana tindakan sekaligus sebagai peneliti, observasi baik yang dilakukan oleh guru lain sebagai teman sejawat atau oleh orang lain.
  2. kerjasama sebagai ciri khas dalam PTK, memungkinkan dapat menghasilkan sesuatu yang lebih kreatif dan inovatif, sebab setiap yang terlibat memiliki kesempatan untuk memunculkan pandangan-pamndangan kritisnya. 
  3. hasil atau simpulan yang diperoleh adalah hasil kesepakatan semua pihak khususnya antara guru sebagai peneliti dengan mitranya, demikian akan meningkatkan validitas dan reliabilitas hasil penelitian.
  4. PTK berangkat dari masalah yang dihadapi guru secara nyata. Oleh karena itu hasil yang diperoleh dapat secara langsung diterapkan oleh guru.

Kelemahan PTK menurut (2009) Sanjaya diantaranya: 

  • keterbatasan yang berkaitan dengan aspek peneliti atau guru itu sendiri. 
  • PTK berangkat dari masalah praktis yang dihadapi oleh guru, dengan demikian simpulan yang dihasilkan tidak bersifat universal yang berlaku secara umum. 
  • PTK adalah penelitian yang bersifat situasional dan kondisional, yang bersifat longgar yang kadang-kadang tidak menerapkan prinsip-prinsip metode ilmiah secara ajeg.


Menurut pendapat yang lain, kelebihan atau keunggulan PTK adalah sebagai berikut:

  • Praktis dan langsung relevan untuk situasi yang aktual.
  • Kerangka kerjanya teratur.
  • Berdasarkan pada observasi nyata dan objektif.
  • Fleksibel dan adaptif.
  • Dapat digunakan untuk inovasi pembelajaran.
  • Dapat digunakan untuk mengembangkan kurikulum tingkat kelas.
  • Dapat digunakan meningkatkan kepekaan atau profesionalisme guru.
  • Sedangkan kekurangan atau kelemahan PTK adalah sebagai berikut:

Shumsky (1982) dalam Suwarsih (2006) mengemukakan kelebihan PTK sebagai berikut:

  • Kerjasama dalam PTK menimbulkan rasa memiliki.
  • Kerjasama dalam PTK mendorong kreativitas dan pemikiran kritis, dalam hal ini guru yang sekaligus sebagai peneliti.
  • Melalui kerjasama, kemungkinan untuk berubah meningkat.
  • Kerjasama dalam PTK meningkatkan kesepakatan dalam penyelesaian masalah yang terjadi.

Sementara itu kelemahan dari PTK adalah sebagai berikut:

  • Kurangnya pengetauan dan keterampilan dalam teknik dasar PTK pada pihak peneliti (guru).
  • Berkenaan dengan waktu. Karena PTK memerlukan komitmen peneliti untuk terlibat dalam prosesnya, maka faktor waktu dapat menjadi kendala yang cukup besar.  Hal ini disebabkan belum optimalnya pembagian waktu, antara kegiatan rutinnya dalam mengajar dengan aktivitas PTK.  Oleh karena itu dibutuhkan kemampuan mengelola waktu yang optimal sehingga kegiatan rutin dan aktivitas penelitian dapat dilaksanakan secara efektif, sebab pada hakekatnya kegiatan PTK dapat dilakukan bersama- sama tanpa saling menggangu dengan tugas rutin (mengajar)


Faktor- faktor yang mendukung berlangsungnya kegiatan PTK.

Mungkin ada orang yang beranggapan bahwa pemelitian tindakan kelas itu mudah. Bahkan mungkin suatu anggapan bahwa penelitian tingkatan sebatas cerita yang sifatnya sudah umum ditemukan dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas. Hal itu menjadi benar bila ditinjau dari segi teknis pelaksanaan, ruang lingkup, subjek penelitian, dan analisis data yang tampak sangat sederhana, dibandingkan dengan penelitian tradisional. Namun bila ditinjau dari segi nonteknis, ada kecenderungan bahwa pelaksanaan penelitian tindakan menjadi begitu sulit, disebabkan kunci utama dan yang paling penting  dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas adalah faktor kamauan dan kesiapan pihak sekolah dan guru- guru itu sendiri.

Internal sekolah sangat mempengaruhi pelaksanaan penelitian tindakan di sekolah, terutama iklim sekolah, sarana dan prasarana, yang memadai, serta anggaran yang mencukupi. Hal itu sedikit banyak akan memotivasi warga sekolah, khususnya para guru untuk melakukan kegiatan penelitian. Namun dukungan dari internal sekolah saja juga tidak cukup, harus diikuti dengan adanya dukungan aspek- aspek internal (yang sifatnya nonteknis) dari para guru.


 

logoblog
Previous
« Prev Post