Jumat, 17 Agustus 2012

ETIKA TERHADAP BUKU


ETIKA TERHADAP BUKU
(Studi Pemikirian Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari)
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Dalam tradisi Islam ilmu menempati posisi yang sangat tinggi. Beberapa ayat al Quran berbicara mengenai posisi ahli ilmu yang sangat dihormati oleh Tuhan. Ilmu ibarat cahaya dalam kegelapan yang menerangi manusia dalam menapaki kehidupan di dunia. pencarian terhadap ilmu merupakan kewajiban dalam agama baik kepada pria atau wanita. Bahkan dalam salah satu sabdanya Nabi mengatakan bahwa pencarian terhadap ilmu tidak mengenal batas ruang dan waktu.
            Semangat mencari ilmu di kalangan umat Islam telah timbul pada masa-masa di mana Nabi hidup sebagai suri teladan dan guru bagi para sahabatnya. Pada masa nabi pula penyebaran guru-guru al Quran ke beberapa daerah telah dilakukan. Dalam hal ini kita bisa membaca kisah yang sangat masyhur mengenai Muaz bin Jabal yang diutus oleh Nabi untuk mengajarkan al Quran di Yaman. Pada masa ini setidaknya ada dua sumber pengetahuan, yaitu al Quran dan Nabi.
            Al Quran dan hadist begitu dimuliakan di kalangan muslim. Banyak hadist nabi menyebutkan etika terhadap al Quran, salah satunya untuk menyentuhnya seseorang harus dalam keadaan suci. Fenomena ini merambat ke berbagai hal yang tidak hanya al Quran tapi semua kitab yang berbau agama, sehingga para ulama’ memberikan formulasi tersendiri bagaimana cara memuliakan buku.   
Sebagaimana syaikh Syamsul Aimmah pernah berkata,
“Sesungguhnya saya berhasil mendapat ilmu ini adalah dengan penghormatan, karena saya tidak pernah menyentuh kertas belajar selain dalam keadaan suci”.[1]

             Memuliakan buku ternyata memiliki etika tersediri, namun etika tersebut sudah jarang diperhatikan oleh pelaku pendidikan di era modern. Mungkin karena dianggap sepele atau ribet, sehingga perilaku-perilaku ulama’ salaf seperti membawa buku harus diletakkan sejajar dengan dada (tidak boleh dijinjing), tidak boleh di belakangi, tidak boleh melempar buku, tidak boleh meletakkan di tanah (di tempat yang lebih tinggi) dan lain-lainnya.
            Hal-hal semacam di atas nyatanya sudah dilupakan oleh orang-orang modern, namun terlepas dari itu semua ketika kita menengok celah-celah pesantren salafiyah, tradisi semacam itu masih dilestarikan. Sayangnya mereka tidak memahami substansi yang ada, sehingga terkesan normatif.
            Bagi mereka etika terhadap buku adalah semacam nilai tawadu’ kepada kiai, dan ketawadu’an yang disuguhkan seakan-akan menuhankan kiai demi mencari barakah. Padahal, jika dipahami lebih lanjut etika terhadap buku adalah salah satu upaya dimana untuk memperbaiki sistem pendidikan kita yang terkesan hedonis dan termakan kapitalis.
            Salah satu sumbangan pemikiran mengenai hal tersebut adalah KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul ‘Alim Wa al Muta’aluum. Disini penulis berharap untaian kata kiai besar Nahdlatul Ulama’ ini mampu menjadi udara segar dalam sumbangsih pemikiran pendidikan di Indonesia, khususnya umat Islam.
Dengan niat ingin berperan serta dalam merevitalisasi nilai-nilai yang telah ditanamkan ulama terdahulu, makalah ini mencoba memaparkan ulang dengan aroma baru yang akan disajikan sesegar mungkin tentang etika terhadap buku yang dikonstruk dari pemikiran pendidikan KH. Hasyim Asy’ari yang corak pemikirannya tradisionalis.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana profil KH. Hasyim Asy’ari?
2.      Bagaimana etika terhadap buku menurut KH. Hasyim Asy’ari?
3.      Bagaimana kontribusi etika terhadap buku dalam pendidikan?






PEMBAHASAN

A.    Profil KH. Hasyim Asy’ari
Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim yang lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur.[2]
Semasa hidupnya kiai tidak pernah berpoligami, walaupun dalam catatan sejarah beliau pernah menikah 7 kali. Hal ini karena setiap kali istri beliau meninggal beliau menikah lagi. Sehingga tidak sampai memiliki dua atau tiga istri dalam kurun waktu yang bersamaan.
KH. Hasyim Asy’ari mendapatkan pendidikan dari ayahnya sendiri, Abd al-Wahid, terutama pendidikan di bidang Al-qur’an dan penguasaan beberapa literature keagamaan. Setelah itu ia pergi untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren, terutama di Jawa, yang meliputi Shona, Siwalan Baduran, Langitan Tuban, Demangan Bangkalan, dan Sidoarjo.
Selain di dalam negeri beliau juga belajar di Makkah, Diantara guru-gurunya yang terkenal yaitu Syaikh Mahfudh al-Tarmisi, Syaikh Ahmad Khatib seorang imam  di Masjid al-Haram untuk para penganut Mazhab Syafi’i, Syaikh al-Allamah Abdul Hamid al-Darutsani, Syaikh Muhammad Syuaib al-Maghribi, Syaikh Ahmad Amin al-Athar, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Ahmad ibn Hasan al-Attar, Syaikh Sayid Yamay, Sayyid Alawi ibn Ahmad as-Saqaf, Sayyid Abbas Maliki, Sayyid Abdullah al-Zawawy, Syaikh Shaleh Bafadhal dan Syaikh Sultan Hasyim Dagatsani.[3]
Bertepatan dengan 6 Februari 1906 M, KH Hasyim Asy’ari mendirikan pondok pesantren Tebuireng. Di pesantren inilah banyak melakukan aktivitas-akivitas sosial-kemanusiaan sehingga ia tidak hanya berperan sebagai pimpinan pesantren secara formal, tetapi juga pemimpin kemasyarakan secara informal.
Sebagai pemimpin pesantren, beliau melakukan pengembangan institusi pesantrennya, termask mengadakan pembaharuan sistem dan kurikulum. Jika pada saat itu pesantren hanya mengembangkan sistem halaqah, maka beliau mmperkenalkan sistem belajar madrasah dan memasukkan kurikulum pendidikan umum, disamping pendidikan keagamaan.
Aktifitas KH. Hasyim Asy’ari di bidang sosial yang lain adalah mendirikan organisasi Nahdhaul Ulama, bersama dengan ulama besar lainnya, seperti kiai Abdul Wahab dan kiai Bishri Syamsuri, pada tanggal 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H.
Sebagai seorang intelektual, KH Hasyim Asy’ari telah menyumbangkan banyak hal yang berharga bagi pengembangan peradaban, diantaranya adalah sejumlah literatur keagamaan dan sosial. Karya-karya tulis KH. Hasyim Asy’ari diantaranya sebagai berikut:[4]
1)      Adab al-alim wa al-muta’allim
2)      Ziyadat Ta’liqat
3)      At Tanbihat al Wajibat Liman Yasna’ul  al Maulid bi al Munkarat
4)      Ar Risalah al Jami’ah
5)      Annur al Mubin fi Mahabbati Sayyid al Mursalin
6)      Ad Durar al Muntasirah fi al masail at Tis’a ’Asyarata
7)      At Tibyan fi al Nahy’an Muqatha’ah al Arham wa al Aqarib wa al Ikhwan
8)      Muqaddimah al Qanun al Asay li Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’
9)      Risalah fi Ta’kid al Akhdz bi Madzhab al A’immah al Arba’ah
10)  Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’iyyah Nahdlatul Ulama’
11)  Risalah Ahli Sunnah wal Jama’ah fi al Hadist
12)  Ad-Durrah al Muntasyiroh fi Masail Tis’a Asyarah
13)  Dhau’ul Misbah fi Bayan ahkam al Nikah

B.     Etika Terhadap Buku
Kajian mengenai etika terhadap buku bukan hal yang baru, karena jauh sebelum KH. Hasyim Asyari sebenarnya banyak ulama’ telah memulai kajian tersebut. Etika terhadap buku biasanya dimasukan pada bab etika mencari ilmu. Sampai saat ini di Indonesia kitab Ta’lim Mutaalim merupakan kitab yang paling masyhur dalam kajian ini. Bila dilacak lebih jauh lagi penghormatan terhadap buku merupakan turunan dalam penghormatan kepada buku umat Islam pertama yaitu al Quran.
Al Quran bisa dikatakan buku pertama bagi umat Islam. Pada masa Nabi tidak ada satu pun kata dan ajaran Islam yang boleh dicatat kecuali al Quran. Dalam beberapa hadits Nabi menyebutkan larangan untuk mencatat ucapan Nabi atau Hadits. Melalui al Quran ini umat Islam kemudian diperkenalkan dengan sebuah tradisi baru yaitu tradisi tulis menulis, yang kemudian hal ini terus berkembang dan dikembangkan oleh umat Islam dengan menghasilkan buku-buku lainya seperti buku-buku tentang hadits, tafsir, fiqh dan sebagainya. Buku-buku ini, walaupun tidak sesuci al Quran, namun bisa dikatakan bahwa buku-buku tersebut adalah upaya manusia untuk memahami al Quran yang di dalamnya terdapat petunjuk Allah SWT.  Sehingga memuliakan buku-buku tersebut bisa juga diakatakan sebagai pemuliaan terhadap al Quran itu sendiri.
Sebelum munculnya bahasan mengenai etika terhadap buku, para ulama pada awalnya memang hanya membahas bagaimana etika terhadap al Quran. Pada bagian ini kita bisa menyebut karya masyhur al Nawawi yaitu at Tibyan, sebuah karya monumental mengenai tuntunan bagaimana umat Islam memperlakukan al Quran sebagai suatu yang mulia. Dalam karyanya al Nawawi pertama-pertama menyebut mengenai keutamaan mempelajari al Quran sembari mengutip beberapa ayat dan Hadits Nabi mengenai hal itu. Dan pada bagian akhir karyanya tersebut al Nawawi membahas bagaimana memperlakukan al Quran yang secara fisik adalah berupa buku. Ia menyebutkan bahwa seorang muslim harus terlebih dahulu berwudlu ketika ingin menyentuh dan membacanya. Bahkan dalam karya tersebut ia juga berbicara mengenai hukum jual beli al Quran. Dari semua gagasan pemikiran al Nawawi tersebut dapat disimpulkan bahwa hal itu adalah upaya seorang pemikir Islam mengenai etika terhadap al Quran.
Pelajar hendaknya bisa menghormati buku, karena itu adalah satu bentuk untuk menghormati ilmu. Beberapa hadist menyebutkan dengan jelas bahwa ilmu lebih mulia dari harta. Dengan ilmu, manusia bisa menelusuri nikmatnya kehidupan di dunia ini sebagai bekal di akhirat kelak.
KH. Hasyim Asy’ari adalah salah satu contoh ulama’ yang memiliki sumbangsih pemikiran tentang etika terhadap buku. Pemikiran beliau mengenai hal ini masih diikuti oleh lembaga-lembaga pendidikan non formal yaitu pesantren, lebih khususnya pesantren salafiyah.
Etika terhadap buku menyangkut bagaimana cara memperoleh, meletakkan atau menyimpan, menulis atau mengutip, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, KH. Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul ‘Alim Wa al Muta’aluum mengungkapkan 5 macam etika yang harus diperhatikan oleh seorang yang sedang belajar termasuk juga guru, diantaranya:[5]
1)      Buku adalah salah satu sarana pokok dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya, hendaknya orang yang sedang belajar memilikinya, baik dengan cara membeli, menyewa atau meminjam.
Hal yang lebih penting setelah buku itu diperoleh adalah memahami isinya. Jadi, jangan sampai buku tersebut dimiliki hanya untuk dikumpulkan atau dikoleksi sebagaimana dilakukan oleh banyak orang.
Hasyim memulai pemikiran etika terhadap buku dengan asumsi bahwa buku adalah sarana penting bagi proses pembelajaran. Buku merupakan hasil perenungan-perenungan para ulama yang kemudian dituliskan dalam sebuah bentuk fisik. Tanpa buku tersebut mungkin tidak akan ada informasi yang dapat dinikmati oleh manusia di masa selanjutnya.
Oleh karenanya penguasaan terhadap buku atau yang dalam bahasa modern kita sebut sebagai referensi akan menghasilkan pengetahuan yang utuh mengenai satu kajian. Tidak jarang kita menemukan bahwa para ulama terdahulu sangat giat dalam memiliki buku bahkan menghafalkanya. Dalam sejarah kita bisa menengok al suyuthi yang disebut sebagai ibnu kutb[6] dimana karena kesungguhanya dalam menguasai referensi.
Dalam kajian Islam kita dapat membuktikan bahwa penguasaan terhadap referensi merupakan hal yang penting. Dalam kajian fiqh misalnya kita tidak dapat mengusainya secara holistik bila mengabaikan pendapat-pendapat imam mazhab yang termaktub dalam buku-bukunya. Begitu juga dalam kajian-kajian ilmu yang lain dimana buku merupakan pintu masuk memasuki samudera pengetahuan yang luas. Setidaknya Hasyim Asyari menyadari bahwa pengetahuan adalah sejarah itu sendiri yaitu sejarah yang muncul dari sejarah sebelumnya.
2)      Apabila seseorang siswa meminjam suatu buku dari orang lain, hendaknya ia langsung mengembalikannya begitu ia telah selesai menggunakan buku tersebut, serta tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada pemiliknya.
Terhadap buku pinjaman tersebut ia tidak dibenarkan melakukan tindakan apapun tanpa seizin pemiliknya, seperti membuat catatan-catatan, meminjamkannya kepada orang lain, termasuk mengutip sebagian isinya. Jadi, buku tersebut hendaknya dijaga dengan baik dan dikembalikan lagi kepada pemiliknya dalam kondisi seperti semula.
Hasyim Asy’ari dalam hal ini tidak hanya menguraikan tentang hal-hal subtansif dalam suatu pengetahuan, namun beliau juga membahas dalam perspektif fisik. Seperti misalnya seseorang yang meminjam buku di perpustakaan, tidak boleh mencoret atau menggaris dengan stabilo kata-kata yang dianggap penting, karena hal itu sudah merubah bentuk fisik suatu buku.
Begitu juga hal kecil yang sering dilupakan yaitu ucapan terimaksih. Biasanya mahasiswa atau pelajar setelah mengembalikan buku tanpa berucap apapun langsung pergi. Hal tersebut terlihat sangat sepele, padahal itu adalah pembelajaran etika yang sangat penting. apalagi bagi seorang pendidik dan calon pendidik, sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan hendaknya mereka dapat memberikan pesan moral yang baik yaitu membiasakan mengucapkan terimakasih atas setiap kebaikan manusia.

3)      Ketika menulis atau mengutip suatu buku, ia hendaknya tidak meletakkan buku yang tengah dikutip tersebut di atas tanah (lantai). Namun hendaknya ia meletakkannya di tempat yang lebih tinggi dan terhormat (di atas meja dan sebagainnya).
Kemudian, hendaknya ia juga memperhatikan etika menyusun buku. Dalam hal ini hendaknya ia menyusun urutannya berdasarkan tingkat keagungan pembahasan (materi) yang terkandung dari masing-masing buku itu atau berdasarkan tingkat integritas pengarangnya.
Misalnya penyusunan urutan buku dari atas ke bawah berdasarkan tingkat keagungan materinya:
a)      Al Quran
b)      Buku-buku hadist
c)      Buku-buku tafsir
d)     Buku-buku ushuluddin
e)      Buku-buku ushul Fiqh
f)       Buku-buku Fiqh dan seterusnya
Secara normatif, pemikiran KH. Hasyim Asy’ari menjelaskan bahwa kitab yang paling utama adalah al Quran sehingga penghormatan terhadapnya diistemawakan dari buku-buku lain. Selain sumber pokok, al Quran juga merupakan identitas umat Islam. Hal ini tidak terlepas dari geneologi beliau yang hidup dalam lingkungan pesantren salafiyah yang bermadzhab Syafi’i di mana Imam Syafi’i terkenal sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam meutuskan hukum. Menempatkan al Quran sebagai suatu yang pokok tidak hanya dalam wilayah pengetahuan, namun juga dalam memberlakukan al Quran itu sendiri. Sebagaimana disebut di atas bahwa seorang muslim harus meletakan al Quran di tempat yang lebih tinggi dari buku-buku yang lain.
Kalau kita kembangkan lebih luas lagi, pemikiran Hasyim mengenai peletakan al Quran pada peringkat teratas, kemudian disusul oleh kitab hadits dan fiqh, menunjukan bahwa seorang yang mempelajari sebuah pengetahuan harus melihat pada referensi pokok kajian tersebut. Dan susunan yang dibuat Hasyim tentu berlaku hanya pada seseorang mempelajari Islam. Hal ini tentu berbeda pada mereka yang mempelajari filsafat misalnya, dimana karya Plato dan Aristoteles merupakan karya pokok dalam bidang ini yang wajib dirujuk oleh setiap mahasiswa filsafat.

4)      Setiap kali akan meminjam atau membeli suatu buku, hendaknya terlebih dahulu ia memeriksa dan memastikan kesempurnaan susunan dan isi (pembahasan).
Pada bagian ini Hasyim Asyarai berbicara mengenai aksiologi atau nilai dari sebuah pendidikan. Kita sama-sama mengetahui bahwa buku adalah pintu memasuki pengetahuan. Buku memberikan banyak informasi mengenai suatu hal yang ingin diketahui oleh pelajar. Mengenai buku ini seorang pelajar kemudian menjadi faham akan satu objek kajian. Bagi Hasyim pemilihan bidang kajian menjadi penting bagi seorang pelajar. Hasyim berpendapat bahwa ketika seorang ingin belajar mengenai suatu objek kajian baik melalui buku atau guru, ia terlebih dahulu harus meneliti isi buku tersebut. Pertanyaan yang harus dijawab seseorang ketika memulai pendidikan adalah apakah hal itu bermanfaat baginya atau tidak?. Pertanyaan manfaat dan tidak manfaat menjadi penting karena dalam tradisi Islam aspek manfaat merupakan tujuan dari aktivitas manusia. Hal ini setidaknya berdasarkan pada sabda Nabi yang artinya:
“Di antara kesempurnaan Islamnya seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.”[7]

5)      Dalam hal mengutip atau mencatat suatu materi (terutama materi-materi yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syariat agama Islam), hendaknya ia melakukannya dalam keadaan suci, menghadap arah ke kiblat, serta berpakaian yang bersih lagi sopan.
Disamping itu, dalam kitab ini juga dijelaskan dalam menulis lafadz “Allah” hendaknya tidak lupa mengikutinya dengan sebutan-sebutan yang memiliki makna pengagungan atas-Nya, seperti “ta’ala, subhanahu, azza wajalla” dan lain-lain. Begitu juga dengan nama Nabi Muhammad hendaknya selalu menyertai lafadz-lafadz seperti “Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, Assholatu Wassalamu ‘Alaih” dan sebagainya.
Keterangan di atas berdasarkan firman Allah SWT,

صلوا عليە وسلموا تسليما

Artinya: bershalawatlah kalian untuknya (Rasulullah) dan berikanlah salam kepadanya dengan salam kesejahteraan.[8]

Bagian ini mungkin merupakan bagian yang menarik mengenai pemikiran Hasyim mengenai etika terhadap buku. Pemikiran Hasyim mungkin terlihat sangat repot bila dipraktekan dalam dunia pendidikan saat ini. Namun faktanya bahwa etika semacam ini telah lama dipraktekan oleh ulama-ulama terdahulu. Kita bisa melihat cerita bagaimana penulisan hadits yang dilakukan oleh Imam Bukhori. Konon sebelum beliau menuliskan hadits dan memutuskan apakah hadits ini sahih atau tidak, beliau selalu memulainnya dengan melakukan shalat sunnah dua rakaat. Tradisi ini yang tampaknya ingin dipertahankan oleh Hasyim.
Namun sebenarnya apa maksud dari etika semacam ini? Penulis berasumsi bahwa pemikiran seperti ini muncul karena sebuah anggapan bahwa pengetahuan secara asal merupakan anugerah dari Allah swt, terlepas itu terwujud dengan usaha manusia. Dengan asumsi seperti ini mendorong para ulama untuk lebih dahulu meminta petunjuk Allah swt sebelum melakukan proses belajar. Aturan seperti ini harus dalam keadaan suci, menghadap kiblat dan memulainya dengan basmalah tampaknya diadopsi dari etika berdoa yang dipraktikan oleh Nabi Muhammad saw.
Ketika menulis, hendaknya ia mengawali tulisannya itu dengan tulisan basmalah. Kemudian, setiap kali ia mencatat (mengutip) suatu pendapat atau penjelasan yang dikemukakan oleh seorang ulama, hendaknya ia menuliskan penjelasan di bawahnya mengenai sumber dari kutipan tersebut.[9]
Hasyim juga sangat memperhatikan berkaitan dengan plagiatisme dan bajakisme yang sekarang marak di Indonesia. beliau mengingatkan kepada pelajar agar berlaku jujur dengan tidak mengutip apalagi membajak hasil karya orang lain tanpa seizin penulisnya. Para ulama terdahulu sebenarnya telah mencontohkan bagaimana cara mengutip pendapat atau perkataan dari orang lain. Dalam kajian hadits kita mengenal sanad atau silisilah pengetahuan. Dalam kajian fiqh kita juga mengenal bagaimana mereka mencantumkan nama-nama ulama yang dinukil pendapatnya. hal ini sebenarnya bertujuan untuk menunjukan semangat kejujuran dalam memperoleh pengetahuan.
Walaupun begitu dalam realitanya plagiat selalu tumbuh dari masa ke masa, seperti pada zaman al Jahizh, diantara model plagiat zaman ini adalah mereka mencuri materi dan karya yang mereka kritik itu, yang sebelumnya mereka katakan tak berharga kemudian mengemasnya sebagai karya mereka sendiri kemudian mendedikasikannya kepada pribadi berpengaruh lainnya di masa itu, dengan harapan mendapat hadiah.[10]
Jika dibandingkan dengan zaman sekarang, model plagiat dilakukan dengan cara mengedit teks-teks ulama’ terdahulu bahkan menambahkan keterangan-keterangan baru yang sesuai dengan ideologi pengedit tersebut, kemudian dinisbatkan kepada ulama’-ulama’ tersebut. Dengan demikian, buku-buku baru yang telah diedit sedimikian rupa seolah-olah adalah hasil ulama salaf.[11] Seperti contohnya banyak dilakukan oleh orang-orang Wahabi dan Salafi.[12]

C.    Kontribusi Etika Terhadap Buku dalam Pendidikan
Secara definisi etika adalah perbuatan manusia yang dapat diberi hukum baik atau buruk, dengan kata lain perkataan dan perbuatan-perbuatan yang dimasukkan ke dalam perbuatan akhlak.[13] Begitu juga dengan etika Islam yang memiliki pengertian tingkah laku dalam bentuk perbuatan, ucapan dan pikiran yang sifatnya membangun, tidak merusak lingkungan dan tidak pula merusak tatanan sosial budaya dan tidak pula bertentangan dengan ajaran Islam, namun berlandaskan dengan al Qur’an dan al Hadist.[14]
Etika menjadi sangat penting dan berharga bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara. Mengingat dengan etika akan membentuk watak bangsa yang berkarakter dan memiliki jati diri.[15]
Menururt Franz Magnis Suseno, etika memiliki fungsi dapat membantu menggali rasionalitas moral agama, membantu dalam menginterpretasikan ajaran agama yang saling bertentangan dan membantu menerapkan ajaran moral agama terhadap masalah-masalah baru dalam kehidupan manusia.[16]
Derasnya tantangan kultural yang kini terjadi akan kian terasakan tatkala kita melihat fenomena kembar dalam pendidikan dan pengajaran. Prosesi pengajaran di satu sisi, semakin kehilangan jelajah moralnya, sementara disisi lain, inherensi moral dalam pendidikan justru teraliensi oleh para pelakunnya. Uniknya, fenomena tersebut terjadi di saat semua pihak merasakan arti penting pendidikan sebagai investasi.
Oleh karena itu, bagian kecil dalam dunia pendidikan adalah etika terhadap buku. Namun, disini timbul masalah mengenai apakah buku-buku yang dimuliakan hanya buku-buku agama, sedangkan buku-buku biologi, fisika, ekonomi boleh diinjak-injak, dilempar atau diduduki?.
Menanggapi masalah tersebut, al Ghazali menyatakan bahwa sangat naif dan keliru sekali kalau kita mengira bahwa ilmu pengetahuan yang baik terpuji hanyalah fikqh dan tafsir serta ilmu-ilmu lainnya yang serupa dengan itu, sedangkan ilmu-ilmu pengetahuan di luar itu kita anggap tidak penting.[17]
Anggapan seperti itu keliru sekali, ilmu alam dan ilmu hayat serta hasil-hasil ilmu penyelidikan yang terus menerus mengenai rahasia langit dan bumi tidak kurang pentingnya dibandingkan dengan ilmu-ilmu keagamaan yang semurni-murninya. Bahkan hasil-hasil ilmu pengetahuan itu banyak kaitannya dengan ilmu agama untuk lebih memperdalam ilmu syari’at.[18]
Disinilah posisi pemikiran Hasyim perlu diketengahkan kembali sebagai solusi untuk memperbaiki etika pelajar terhadap ilmu lebih khususnya terhadap buku. Dengan beberapa modifikasi, penafsiran dan pemaknaan yang lebih luas, penulis yakin bahwa pemikiran Hasyim masih sangat relevan dan memiliki kontribusi yang penting dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang sesuai dengan UUD negara. Beberapa kontribusi tersebut adalah:
1)      Mensistematikan pemahaman pelajar dan pengajar, sehingga para pelaku pendidikan benar-benar orang yang berkompeten dan bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang dimilikinya.
2)      Dengan etika terhadap buku, dapat memberikan contoh karakter yang baik terhadap sesama, tidak saling merusak milik orang lain dan tentunya selalu bersyukur atas pertolongan tuhan dan manusia.
3)      Ketelitian dalam memahami materi-materi pendidikan
4)      Sebagai petuah dalam memahami materi, hendaknya membaca buku pokoknya. Sehingga pemahaman tidak parsial.
5)      Dengan etika terhadap buku, dapat mengurai atau mencegah adanya plagiatisme. Sehingga menghambat atau memusnahkan kecurangan-kecurangan pada sarjana Indonesia.



PENUTUP

Kesimpulan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.      Nama lengkap KH. Hasyim Asy’ari (1871-1947) adalah Muhammad Hasyim Asy’ari ibn ‘Abd al-Wahid ibn ‘Abd al-Halim yang lahir di Gedang, sebuah desa di daerah Jombang, Jawa Timur. Beliau memiliki sumbangsih terhadap dunia pendidikan dengan bukti berdirinya pesantren Tebuireng dan aktif di dunia sosial sebagai pendiri NU. Dan hal yang tak kalah penting lagi, dalam kehidupan pribadinya beliau tidak pernah berpoligami seperti kiai salaf pada umumnya.
2.      Adapun etika terhadap buku yang diungkapkan KH. Hasyim Asy’ari adalah:
a)      Buku adalah salah satu sarana pokok dalam kegiatan pembelajaran. Oleh karenanya, hendaknya orang yang sedang belajar memilikinya, baik dengan cara membeli, menyewa atau meminjam.
b)      Apabila seseorang siswa meminjam suatu buku dari orang lain, hendaknya ia langsung mengembalikannya begitu ia telah selesai menggunakan buku tersebut, serta tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada pemiliknya.
c)      Ketika menulis atau mengutip suatu buku, ia hendaknya tidak meletakkan buku yang tengah dikutip tersebut di atas tanah (lantai). Namun hendaknya ia meletakkannya di tempat yang lebih tinggi dan terhormat (di atas meja dan sebagainnya).
d)     Setiap kali akan meminjam atau membeli suatu buku, hendaknya terlebih dahulu ia memeriksa dan memastikan kesempurnaan susunan dan isi (pembahasan).
e)      Dalam hal mengutip atau mencatat suatu materi (terutama materi-materi yang berkaitan dengan ilmu-ilmu syariat agama Islam), hendaknya ia melakukannya dalam keadaan suci, menghadap arah ke kiblat, serta berpakaian yang bersih lagi sopan.

3.      Beberapa kontribusi etika terhadap buku dalam pendidikan adalah:
a)      Mensistematikan pemahaman pelajar dan pengajar, sehingga para pelaku pendidikan benar-benar orang yang berkompeten dan bertanggung jawab terhadap pengetahuan yang dimilikinya.
b)      Dengan etika terhadap buku, dapat memberikan contoh karakter yang baik terhadap sesama, tidak saling merusak milik orang lain dan tentunya selalu bersyukur atas pertolongan tuhan dan manusia.
c)      Ketelitian dalam memahami materi-materi pendidikan.
d)     Sebagai petuah dalam memahami materi, hendaknya membaca buku pokoknya. Sehingga pemahaman tidak parsial.
e)      Dengan etika terhadap buku, dapat mengurai atau mencegah adanya plagiatisme. Sehingga menghambat atau memusnahkan kecurangan-kecurangan pada sarjana Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, M. Yatimin. 2006. Pengantar Studi Etika. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Asy’ari, M. Hasyim. 2007. Etika Pendidikan Islam: Petuah KH. M. Hasyim Asy’ari untuk Para Guru (Kiai) dan Murid (Santri), terj. Mohammad Kholil, Yogyakarta: Titian Wacana.

Atjeh, Abu Bakar. 1975. Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karang Tersiar. Jakarta: Panitia Buku Peringatan KHA Wahid Hasyim.

Djatmika, Rachmat. 1996. Sistem Etika Islam: Akhlak Mulia. Jakarta: Pustaka Panjimas.

El Fadl, Khaled Abou. 2002. Musyawarah Buku: Menelusuri Keindahan Islam dari Kitab ke Kitab. Jakarta: Serambi.

Ghazali M. Akhlak Seorang Muslim. 1995. terj. Abu Laila dan M. Thohir. Bandung: PT. Al Ma’arif.

Hadziq, Muhammad Ishomuddin. Kumpulan Kitab Karya Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari. 1991. Tebuireng: Pustaka Pelajar.

Nawawi, Imam. 2007. Hadits Arba’in, terj. Ibnu Nidzamuddin. Jakarta: Gema Insani.
Rahmaniyah, Istighfarotur . 2010. Pendidikan Etika. Malang; UIN Press.

Rosenthal, Franz. 1996. Etika Kesarjanaan Islam: Dari al Farabi hingga Ibnu Khaldun, terj. Ahsin Muhammad. Bandung: Mizan.

Suwendi. 2005. Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari. Jakarta: LeKDis.

Apik, Pentingnya Memuliakan Kitab, http://apikdewefppundip2011.wordpress.com/2012/04/06/pentingnya-memuliakan-kitab/, diakses pada 19 Juni 2012.


[1] Apik, Pentingnya Memuliakan Kitab, http://apikdewefppundip2011.wordpress.com/2012/04/06/pentingnya-memuliakan-kitab/, diakses pada 19 Juni 2012
[2] Suwendi, Konsep Pendidikan KH. Hasyim Asy’ari (Jakarta: LeKDis, 2005), hlm. 13
[3] H. Abu Bakar Atjeh, Sejarah Hidup KH A Wahid Hasyim dan Karang Tersiar, (Jakarta: Panitia Buku Peringatan KHA Wahid Hasyim, 1975), hlm. 35
[4] Muhammad Ishomuddin Hadziq, Kumpulan Kitab Karya Hadratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng: Pustaka Pelajar, 1991), hlm. 5
[5] KH. M. Hasyim Asy’ari, Etika Pendidikan Islam: Petuah KH. M. Hasyim Asy’ari untuk Para Guru (Kiai) dan Murid (Santri), terj. Mohammad Kholil, (Yogyakarta: Titian Wacana, 2007), hlm. 95-97
[6] Khaled Abou El Fadl, Musyawarah Buku: Menelusuri Keindahan Islam dari Kitab ke Kitab (Jakarta: Serambi, 2002), hlm. 25
[7] Imam Nawawi, Hadits Arba’in, terj. Ibnu Nidzamuddin (Jakarta: Gema Insani, 2007), hlm. 38
[8] Asy’ari, Ibid, hlm. 98
[9] Asy’ari, Ibid, hlm. 97
[10] Franz Rosenthal, Etika Kesarjanaan Islam: Dari al Farabi hingga Ibnu Khaldun, terj. Ahsin Muhammad (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 112
[11] El Fadl, Ibid, hlm. 124
[12] Ibid, hlm. 20
[13] Rachmat Djatmika, Sistem Etika Islam: Akhlak Mulia (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1996), hlm. 45
[14] M. Yatimin Abdullah, Pengantar Studi Etika (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 319
[15] Istighfarotur Rahmaniyah, Pendidikan Etika (Malang; UIN Press, 2010), hlm. 3
[16] Ibid, 65
[17] M. Al Ghazali, Akhlak Seorang Muslim, terj. Abu Laila dan M. Thohir (Bandung: PT. Al Ma’arif, 1995), hlm. 417
[18] Ibid

Rabu, 23 Mei 2012

Profil Syekh Siti Jenar





Syekh Siti Jenar
 
A.      Biografi Syekh Siti Jenar
         1.         Asal Usul Syekh Siti Jenar Syekh Siti Jenar
Sebenarnya asal usul Syekh Siti Jenar sampai sekarang masih belum jelas, belum ada sumber yang dianggap sahih. Dari beberapa informasi Serat Syekh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Agus Sunyoto, Suluk Abdul Jalil Perjalanan Rohani Syaikh Syekh Siti Jenar dan Sang Pembaharu dan Sartono Kartodirjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia bahwa Syekh Siti Jenar lahir sekitar tahun 829 H/1348 C/1426 M. dilingkungan Pakuwuan Caruban, pusat kota Caruban larang waktu itu, yg sekarang lebih dikenal sebagai Astana japura, sebelah tenggara Cirebon. Suatu lingkungan yg multi-etnis, multi-bahasa dan sebagai titik temu kebudayaan serta peradaban berbagai suku.
Nama Syekh Siti Jenar kadang-kadang disebut Syekh Siti Brit atau Syekh Lemah Abang. Dalam bahasa Jawa, Jenar berarti kuning, sedang brit berasal dari abrit artinya merah, sama seperti abang yang juga berarti merah.[1]
Syekh Siti Jenar (829-923 H/1348-1439 C/1426-1517 M), memiliki banyak nama : San Ali (nama kecil pemberian orangtua angkatnya, bukan Hasan Ali Anshar seperti banyak ditulis orang); Syekh ‘Abdul Jalil (nama yg diperoleh di Malaka, setelah menjadi ulama penyebar Islam di sana); Syekh Jabaranta (nama yg dikenal di Palembang, Sumatera dan daratan Malaka); Prabu Satmata (Gusti yg nampak oleh mata; nama yg muncul dari keadaan kasyf atau mabuk spiritual; juga nama yg diperkenalkan kepada murid dan pengikutnya); Syekh Lemah Abang atau Lemah Bang (gelar yg diberikan masyarakat Lemah Abang, suatu komunitas dan kampung model yg dipelopori Syekh Siti Jenar; melawan hegemoni kerajaan. Wajar jika orang Cirebon tidak mengenal nama Syekh Siti Jenar, sebab di Cirebon nama yg populer adalah Syekh Lemah Abang); Syekh Siti Jenar (nama filosofis yg mengambarkan ajarannya tentang sangkan-paran, bahwa manusia secara biologis hanya diciptakan dari sekedar tanah merah dan selebihnya adalah roh Allah; juga nama yg dilekatkan oleh Sunan Bonang ketika memperkenalkannya kepada Dewan Wali, pada kehadirannya di Jawa Tengah/Demak; juga nama Babad Cirebon); Syekh Nurjati atau Pangran Panjunan atau Sunan Sasmita (nama dalam Babad Cirebon, S.Z. Hadisutjipto); Syekh Siti Bang, serta Syekh Siti Brit; Syekh Siti Luhung (nama-nama yg diberikan masyarakat Jawa Tengahan); Sunan Kajenar (dalam sastra Islam-Jawa versi Surakarta baru, era R.Ng. Ranggawarsita [1802-1873]); Syekh Wali Lanang Sejati; Syekh Jati Mulya; dan Syekh Sunyata Jatimurti Susuhunan ing Lemah Abang.[2]
Siti Jenar lebih menunjukkan sebagai simbolisme ajaran utama Syekh Siti Jenar yakni ilmu kasampurnan, ilmu sangkan-paran ing dumadi, asal muasal kejadian manusia, secara biologis diciptakan dari tanah merah saja yg berfungsi sebagai wadah (tempat) persemayaman roh selama di dunia ini. Sehingga jasad manusia tidak kekal akan membusuk kembali ketanah. Selebihnya adalah roh Allah, yg setelah kemusnaan raganya akan menyatu kembali dengan keabadian. Ia di sebut manungsa sebagai bentuk “manunggaling rasa” (menyatu rasa ke dalam Tuhan).
Dan karena surga serta neraka itu adalah untuk derajad fisik maka keberadaan surga dan neraka adalah di dunia ini, sesuai pernyataan populer bahwa dunia adalah penjara bagi orang mukmin. Menurut Syekh Siti Jenar, dunia adalah neraka bagi orang yg menyatu-padu dgn Tuhan. Setelah meninggal ia terbebas dari belenggu wadag-nya dan bebas bersatu dgn Tuhan. Di dunia manunggalnya hamba dgn Tuhan sering terhalang oleh badan biologis yg disertai nafsu-nafsunya. Itulah inti makna nama Syekh Siti Jenar.
Nenek moyang Syekh Siti Jenar adalah Syekh Abdul Malik yang menikah dengan anak penguasa setempat, lalu diberi nama Asamat Khan, dari perkawinan itu beliau mempunyai beberapa anak,diantaranya bernama Abdullah Khanuddin atau Maulana Abdullah.[3]
Kemudian Maulana Abdullah mempunyai beberapa anak, dua diantaranya adalah Ahmadsyah Jalaluddin atau Jainal Abidin Al-Kabir dan Syekh Kadir Kaelani. Setelah dewasa, Achmadsyah pindah ke kamboja dan menjadi penyiar agama islam disana. Syekh Kadir Kaelani sendiri mempunyai anak bernama Syekh Maulana Isa yang bermukim di Malaka. Syekh Maulana Isa mempunyai dua orang anak, yaitu Syekh Datuk Achmad dan Syekh Datuk Sholeh.[4] 
Menurut pendapat yang lain, Abdul Munir Mulkhan mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari daerah Cirebon. Ayahnya seorang raja pendeta bernama Resi Bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Ali Hasan alias Syekh Abdul Jalil. Suatu ketika ayah Syekh Siti Jenar marah lalu anaknya itu disihir menjadi cacing dan dibuang ke sungai. Pada waktu itu sunan Mbonang sedang mengajar ilmu luhur di atas perahu kepada murid-muridnya, termasuk sunan Kalijogo, perahu yang ditumpanginya bocor lalu ditambal dengan tanah. Ternyata didalam tanah itu terdapat cacing jelmaan syekh Siti Jenar tersebut. Karena sunan Mbonang tahu ada seseorang nguping, maka cacing tersebut lalu dirubah menjadi manusia kembali seperti wujudnya semula dan diberi nama Siti Jenar.[5]
Tetapi pada halaman yang berbeda terdapat cerita yang berbeda, yaitu setelah perahu tidak bocor, maka sunan Mbonang melanjutkan wejangannya. Karena kecerdasan Syekh Siti Jenar mampu menyerap ajaran sunan Mbonang tersebut. Namun karena tidak lengkap, atau karena tidak mendapat perkenan dari gurunya, maka Syekh Siti Jenar menjadi sombong dan menyebarkan ajaran sesat. Beliau mengajarkan agama islam menurut pandanganya sendiri. Bahkan Syekh Siti Jenar menganggap dirinya sebagai dzat Allah, dan memandang budi serta kesadaran manusia sebagai tuhan itu sendiri. Menurut Syekh Siti Jenar, sifat Allah yang 20 terkonsentrasi melekat dalam budi manusia yang dapat bersifat kekal dan abadi dalam kodrat dan irodatnya. Inilah yang oleh Syekh Siti Jenar dinamakan ilmu Sejati.[6] 
Selama ini, silsilah Syekh Siti Jenar masih sangat kabur. Kekurangjelasan asal-usul ini juga sama dgn kegelapan tahun kehidupan Syekh Siti Jenar sebagai manusia sejarah.
Pengaburan tentang silsilah, keluarga dan ajaran Beliau yg dilakukan oleh penguasa muslim pada abad ke-16 hingga akhir abad ke-17. Penguasa merasa perlu untuk “mengubur” segala yg berbau Syekh Siti Jenar akibat popularitasnya di masyarakat yg mengalahkan dewan ulama serta ajaran resmi yg diakui Kerajaan Islam waktu itu. Hal ini kemudian menjadi latar belakang munculnya kisah bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari cacing.
Dalam sebuah naskah klasik, cerita yg masih sangat populer tersebut dibantah secara tegas,
“Wondene kacariyos yen Lemahbang punika asal saking cacing, punika ded, sajatosipun inggih pancen manungsa darah alit kemawon, griya ing dhusun Lemahbang.”

Artinya: Adapun diceritakan kalau Lemahbang (Syekh Siti Jenar) itu berasal dari cacing, itu salah. Sebenarnya ia memang manusia berdarah kecil saja (rakyat jelata), bertempat tinggal di desa Lemah Abang]….

Jadi Syekh Siti Jenar adalah manusia lumrah hanya memang ia walau berasal dari kalangan bangsawan setelah kembali ke Jawa menempuh hidup sebagai petani, yg saat itu, dipandang sebagai rakyat kecil oleh struktur budaya Jawa, disamping sebagai wali penyebar Islam di Tanah Jawa.
Syekh Siti Jenar yg memiliki nama kecil San Ali dan kemudian dikenal sebagai Syekh ‘Abdul Jalil adalah putra seorang ulama asal Malaka, Syekh Datuk Shaleh bin Syekh ‘Isa ‘Alawi bin Ahmadsyah Jamaludin Husain bin Syekh ‘Abdullah Khannuddin bin Syekh Sayid ‘Abdul Malikal-Qazam. Maulana ‘Abdullah Khannuddin adalah putra Syekh ‘Abdul Malik atau Asamat Khan. Nama terakhir ini adalah seorang Syekh kalangan ‘Alawi kesohor di Ahmadabad, India, yg berasal dari Handramaut. Qazam adalah sebuah distrik berdekatan dgn kota Tarim di Hadramaut.
Syekh ‘Abdul Malik adalah putra Syekh ‘Alawi, salah satu keluarga utama keturunan ulama terkenal Syekh ‘Isa al-Muhajir al-Bashari al-‘Alawi, yg semua keturunannya bertebaran ke berbagai pelosok dunia, menyiarkan agama Islam. Syekh ‘Abdul Malik adalah penyebar agama Islam yg bersama keluarganya pindah dari Tarim ke India. Jika diurut keatas, silsilah Syekh Siti Jenar berpuncak pada Sayidina Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib, menantu Rasulullah. Dari silsilah yg ada, diketahui pula bahwa ada dua kakek buyutnya yg menjadi mursyid thariqah Syathariyah di Gujarat yg sangat dihormati, yakni Syekh Abdullah Khannuddin dan Syekh Ahmadsyah Jalaluddin. Ahmadsyah Jalaluddin setelah dewasa pindah ke Kamboja dan menjadi penyebar agama Islam di sana.
Adapun Syekh Maulana ‘sa atau Syekh Datuk ‘Isa putra Syekh Ahmadsyah kemudian bermukim di Malaka. Syekh Maulana ‘Isa memiliki dua orang putra, yaitu Syekh Datuk Ahamad dan Syekh Datuk Shaleh. Ayah Syekh Siti Jenar adalah Syekh Datuk Shaleh adalah ulama sunni asal Malaka yg kemudian menetap di Cirebon karena ancaman politik di Kesultanan Malaka yg sedang dilanda kemelut kekuasaan pada akhir tahun 1424 M, masa transisi kekuasaan Sultan Muhammad Iskandar Syah kepada Sultan Mudzaffar Syah. Sumber-sumber Malaka dan Palembang menyebut nama Syekh Siti Jenar dgn sebutan Syekh Jabaranta dan Syekh ‘Abdul Jalil.
Pada akhir tahun 1425, Syekh Datuk Shaleh beserta istrinya sampai di Cirebon dan saat itu, Syekh Siti Jenar masih berada dalam kandungan ibunya 3 bulan. Di Tanah Caruban ini, sambil berdagang Syekh Datuk Shaleh memperkuat penyebaran Islam yg sudah beberapa lama tersiar di seantero bumi Caruban, besama-sama dgn ulama kenamaan Syekh Datuk Kahfi, putra Syehk Datuk Ahmad. Namun, baru dua bulan di Caruban, pada tahun awal tahun 1426, Syekh Datuk Shaleh wafat.
Sejak itulah San Ali atau Syekh Siti Jenar kecil diasuh oleh Ki Danusela serta penasihatnya, Ki Samadullah atau Pangeran Walangsungsang yg sedang nyantri di Cirebon, dibawah asuhan Syekh datuk Kahfi.
Jadi walaupun San Ali adalah keturunan ulama Malaka, dan lebih jauh lagi keturunan Arab, namun sejak kecil lingkungan hidupnya adalah kultur Cirebon yg saat itu menjadi sebuah kota multikultur, heterogen dan sebagai basis antarlintas perdagangan dunia waktu itu.
Saat itu Cirebon dengan Padepokan Giri Amparan Jatinya yg diasuh oleh seorang ulama asal Makkah dan Malaka, Syekh Datuk Kahfi, telah mampu menjadi salah satu pusat pengajaran Islam, dalam bidang fiqih dan ilmu ‘alat, serta tasawuf. Sampai usia 20 tahun, San Ali mempelajari berbagai bidang agama Islam dengan sepenuh hati, disertai dengan pendidikan otodidak bidang spiritual.
Menurut pendapat yang lainya, Widji Saksono mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar merupakan keturunan nabi Muhammad Saw melalui jalur Siti Fatimah, Imam husen, Said Jenal Ngabidin, Muhammad Bakir, Datuk Ngisa Tuwu yang tinggal di Malaka, Syekh Datuk Salek, kemudian Syekh Lemah Abang. Rinkes menganggap bahwa informasi ini merupakan sesuatu yang menggelikan, ia justru lebih tertarik untuk memperhatikan tulisan tangan R Ng Ronggowarsito, yang menganggap Syekh Siti Jenar adalah putra dari sunan Gunungjati yang demikian besar minat dan tekunnya mengaji berbagai ilmu keislaman, terutama mistik. Syekh Siti Jenar berguru kepada sunan Ampel, dan saking cintanya beliau tidak mau menikah. Selesai belajar di Ampeldenta beliau menetap di Kediri. Dr. H Kraemer menamakan Syekh Siti Jenar sebagai Al-Hallaj Jawa, yang menurut para wali kesalahanya bukan langsung terletak pada ajaranya, melainkan pada kenyataan bahwa Syekh Siti Jenar miak wirana (membuka rahasia tertinggi yang sesungguhnya, dan hanya boleh disampaikan kepada orang-orang khawwas).[7] 
Pendapat semacam itu memang diyakini oleh banyak tokoh dan penulis, padahal bukankah ajaran Islam yang benar boleh diajarkan kepada siapa saja dan kapan saja?. Hanya ajaran Islam yang menyimpang yang memilah-milah siapa yang boleh menerimanya dan siapa yang belum boleh menerimanya. Uka tjandrasasmita termasuk yang mempunyai pendapat itu, ia mengatakan bahwa untuk murid yang sudah dianggap mampu menerima, di pesantren juga diajarkan ilmu tasawuf. Lebih lanjut diterangkan bahwa tasawuf merupakan salah satu faktor yang penting perananya dalam perkembangan Islam di Indonesia. Islam dengan warna tasawuf di Indonesia terutama terjadi sejak abad ke 15-18 M.[8]
Ensiklopedi Kebudayaan Jawa juga menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar bergelar prabu satmata atau raja yang tampak oleh mata. Syekh Siti Jenar itu masih berpengaruh pada aliran kebatinan dan kejawen, yaitu konsep Manunggaling Kawula Gusti.[9]
Satu pendapat lagi di dalam Serat Siti Jenar karya Ki Panji Notoroto mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar adalah keturunan elit hindu-Budha dari Jawa Barat (Cirebon). Asal-usul Syekh Siti Jenar ini ada pula yang mengkaitkan bahwa orang tua Syekh Siti Jenar adalah keturunan penguasa di daerah Jawa yang sedang runtuh. Runtuhya penguasa tersebut barangkali oleh kekuatan baru, yaitu Islam. 
Sampai disini ada empat versi asal usul Syekh Siti Jenar. Pertama, bernama Syekh Abdul Jalil atau Syekh Jabaranta itu adalah putra Syekh Datuk Sholeh. Kedua, Syekh Siti Jenar berasal dari daerah Cirebon. Ayahnya seorang raja pendeta bernama Resi Bungsu. Nama asli Syekh Siti Jenar adalah Ali Hasan alias Syekh Abdul Jalil. Ketiga, Syekh Siti Jenar merupakan keturunan nabi Muhammad Saw melalui jalur Siti Fatimah, Imam husen, Said Jenal Ngabidin, Muhammad Bakir, Datuk Ngisa Tuwu yang tinggal di Malaka, Syekh Datuk Salek, kemudian Syekh Lemah Abang. Keempat, Syekh Siti Jenar adalah putra dari sunan Gunungjati yang demikian besar minat dan tekunnya mengaji berbagai ilmu keislaman, terutama mistik.
Menurut Rahimsyah, ketika memasuki usia remaja, Syekh jabaranta pergi ke Persia lalu tinggal selama beberapa tahun di Baghdad. Baik ketika tinggal di Persia maupun di Baghdad, Syekh Jabaranta belajar agama Islam dari ulama Syi’ah. Dari Baghdad Syekh jabaranta lalu pergi ke Gujarat. Di Gujarat Syekh Jabaranta sempat nikah dengan wanita Gujarat dan mempunyai beberapa anak, di antaranya adalah Ki Datuk Pardun dan Ki Datuk Bardut. Dari Gujarat Syekh Jabaranta kembali ke kampung halamannya di Malaka selama beberapa tahun, lalu kembali ke Baghdad sampai akhirnya pindah ke Jawadwipa sampai akhirnya hayatnya. Di pulau Jawa ini Syekh Jabaranta dikenal dengan membawa faham Syi’ah. Pada waktu itu Islam di Jawa baru mengalami perkembangan yang pesat dengan corak Sunni.[10]
Versi mana yang benar sulit untuk ditetapkan. Versi satu dengan yang lain sangat jauh berbeda, hampir-hampir tidak ada kemiripannya sama sekali. Dan nampaknya penulis-penulis hanya membiarkan kesimpang siuran itu, sehingga masalah Syekh Siti Jenar tetap menjadi misteri. Olek karena itu terserah kita mengambil yang mana sesuai dengan pemahaman dan kepercayaan masing-masing.
         2.         Kisah Perjalanan Syekh Siti Jenar
Dikisahkan dalam Suluk Malang Sungsang, setelah memasuki tahun kelima dari perjalanannya di pedalaman Nusa jawa, sampailah Abdul Jalil di dukuh Lemah Abang yang terletak di kaki utara gunung Mahendra (Lawu) di lembah selatan bengawan Sori. Di dukuh yang dibukannya barang enam tahun silam itu ia disambut dengan penuh suka cita oleh murid-murid yang sangat merindukannya. Namun, ia memutuskan tidak tinggal di Lemah Abang. Ia tinggal dan mengajar di Siti Jenar, yang terletak di utara Bengawan Sori. Berbeda dengan tampilan keseharian sewaktu ia menggunakan nama masyhur Syaikh Jabaranta, di dukuh Siti Jenar itu ia melepaskan khirqah sufi dan tidak memperkenalkan diri dengan nama Syaikh Jabarantas. Hal ini dikarenakan peringatan dari istrinya menyangkut sikap para wiku yang sangat berlebihan menghormatinya, seolah-olah mereka adalah sekumpulan umat yang menunggu sabda Nabi panutannya. Para wiku selalu mengiyakan apa saja yang di sampaikan Abdul Jalil tanpa ada yang bertanya apalagi membantah.[11]
Sadar anggapan keliru para wiku itu bakal mendatangkan masalah yang tidak kalah pelik dibanding nama mashur Syaikh lemah Abang di Caruban, Abdul Jalil pun buru-buru melepas khirqah ketika akan memasuki dukuh Siti Jenar. Itu sebabnya, tidak ada seorangpun yang mengenalnya sebagai guru suci termasyhur bernama Syekh jabarantas. Kepada para murid yang semula mengenalnya dengan nama Syaikh Lemah Abang, ia meminta untuk tidak menggunakan nama itu lagi. Para murid dan penduduk desa-desa sekitar menyebutnya dengan nama baru sesuai dukuh tempatnya mengajar, yaitu Syaikh Siti Jenar (Jawa Kuno: guru suci dari dukuh Siti Jenar).[12]
Versi yang berbeda menyatakan, nama Syekh Siti Jenar diberikan karena Ali Hasan pernah menjadi seekor cacing tanah. Sebelum Ali Hasan yang sekarang memiliki julukan Syekh Siti Jenar dinobatkan menjadi anggota dewan walisongo, terlebih dahulu Siti Jenar belajar kepada Sunan Giri. Karena ia merupakan salah satu anggota yang bisa dikatakan juga sebagai murid baru, maka Syekh Siti Jenar hanya diberikan ajaran yang sekiranya perlu.[13]
Ia mencuri ilmu, dikarenakan saat itu ia merasa sudah menguasai ilmu yang diberikan oleh Sunan Giri, untuk itu ia mempelajari yang belum ia ketahui.[14]
Tidak lama kemudian setelah ia sadar, bahwa dirinya diberhalakan oleh murid-muridnya, ia mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan dukuh Siti Jenar, meski ia tahu istrinya sedang hamil tua. Sebelum pergi, ia menyampaikan khotbah Tauhid kepada para murid dan orang-orang yang mengaku pengikutnya. Inti dari khotbah itu adalah setiap orang harus sadar jika segala sesuatu yang tergeletak di alam semesta ini adalah nisbi. Tidak ada yang bersifat mutlak. Lantaran itu, masing-masing orang harus hidup madya (tengah-tengah), ora ngoyo (tidak berlebihan), dan ora ngongso (tidak melampui batas).
Setelah itu ia dan istrinya melewati jalan setapak berliku atau lembah yang tak banyak dilewati manusia. Namun, sepanjang perjalanan yang diliputi kesunyian itu, ia justru merasakan kerinduan yang kuat untuk berbagi keberlebihan-kelimpahannya kepada manusia. Ia merasa berat untuk menggenggam tangannya erat-erat dan tidak memberi. Ia merasakan jiwanya seperti air mata berbual-bual yang airnya tidak dapat mengalir karena tertahan tumpukan batu-batu berbalut lumpur kotor. Akhirnya ia bersinggah di kerajaan Pengging.
Pengging adalah daerah yang subur makmur, gemah ripah loh jinawi, yang membentang sejak lembah selatan dan tenggara gunung Candrageni hingga wilayah timur gunung Candramukha, terus ke utara hingga perbatasan Kadipaten Semarang. Meski Pengging hanya negeri kecil sempalan Majapahit yang lebih sempit wilayahnya dibandingkan Pajang, Mataram, dan Paris Luhur, di bawah kepemimpinan Prabu Adi Andayaningrat, kemakmuran Pengging tidak kalah dibandingkan ketiga kerajaan tersebut. Bahkan dalam hal keamanan boleh dikata pengging sangat kuat dan mantab kecuali wilayah perbatasan Mataram-Pajang-Pasir-Pengging yang seperti tanpa penguasa.[15]
         3.         Kematian Syekh Siti jenar
Kematian Syekh Siti Jenar tidak terlepas dari kisah persidangan Walisongo, dengan memperhatikan akibat buruk tibdakan-tindakan Syekh Siti Jenar itu akhirnya sidang Walisongo memutusakan hukum kisas baginya.
            Sidang dihadiri oleh delapan wali yang lain dan dipimpin oleh Sunan Giri sebagai ketua. Sunan Giri mengutus dua santri pilihan untuk menyampaikan hasil keputusan Walisongo itu kepada Syekh Siti Jenar. Ketika dua utusan itu tiba di tempat tinggal Syekh Siti Jenar, Syekh Siti Jenar menanyakana bagaimana sebutan dirinya dalam undangan sunan Giri itu. Kedua utusan mengatakan bahwa yan diundang adalah Syekh Lemah Abang, maka Syekh Siti Jenar menjawab bahwa Syekh Lemah Abang tidak ada disini, yang ada ialah pangeran Sejati (Allah), yaitu Jatining Pangeran Muya. Dengan kesal kedua utusan itu kembali tanpa hasil.
            Ketika mendengar laporan tersebut, sunan Giri marah sekali, tetapi masih dapat di sabarkan oleh wali yang lain. Kedua utusan disuruh kembali untuk memnaggil pangeran sejati. Dipanggil dengan sebutan itu, Syekh Siti Jenar menyarankan agar utusan itu kembali ke Giri karena tidak ada disitu pangeran sejati, yang ada Syekh Lemah Abang utusan kembali lagi dengan tangan hampa dan kesal. Sesampai di Giri, utusan itu disuruh kembali untuk mengundang Pangeran Sejati alias Syekh Lemah Abang, atau Syekh Lemah Abang alias Pangeran Sejati. Dengan panggilan itu barulah Syekh Siti Jenar mau memenuhi undangan Sunan Giri atas nama Walisongo. Setelah Walisongo berkumpul semua, forum terpecah menjadi dua kubu, yaitu walisono (delapan orang) berhadapan dengan Syekh Siti Jenar seorang diri. Setelah nyata dan yakin bahwa Syekh Siti Jenar tersesat dan bid’ah, maka para wali berusaha untuk menginsyafkannya. Tetapi ajakan itu ditolak, seperti diberitakan kitab walisana dalam langgam Asmarandana, pupuh XXXII bait 20-21.
Mengahadapi masalah itu, patih Wonosalam mengusulkan kepada raja agar membuat surat dengan ditandatangani oleh patih, penghulu dan jaksa. Isi surat minta agar Syekh Siti Jenar menghadap raja Demak dan kalau tidak mau datang akan dihukum kisas. Sunan Kalijogo mengusulkan agar orang yang ditunjuk sebagai utusan adalah semua wali. Namun sunan Maulana Maghribi mengusulkan cukup lima wali saja yang masing-masing disertai oleh murid-muridnya. Atas dasar itu lalu berangkatlah Sunan Mbonang, Sunan Kalijogo, Pangeran Modang, pangeran Kudus dan Sunan Geseng. Utusan berangkat ke desa Krendhasewa diikuti oleh 40 santri. Para santri memakai pakaian serba putih dan membawa senjata tajam.[16] Menghemat penulisan, akhirnya memutuskan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar. Sampai sekarang tidak diketahui dengan pasti di mana letak desa Krendhasawa, tempat tinggal Syekh Siti Jenar tersebut.
            Walaupun Walisongo telah memutuskan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar, namun pelaksanaan pidanannya masih ditangguhkan sampai berdirinya pemerintahan atau kerajaan Islam di Demak. Para wali berpendapat bahwa masalah eksekusi hukuman mati sebagai perkara pidana adalah hak penguasa negara Islam yang sah, bukan hak pribadi seseorang. Sebagai pribadi para wali tidak mempunyai hak untuk menetapkan suatu pidana, apalagi pidana mati atas seseorang. Setelah kerajaan Islam Demak Bintara berdiri, Syekh Siti Jenar dipanggil oleh sidang Walisongo. Tetapi ternyata pendirian Syekh Siti Jenar tidak berubah sehingga hukum kisas dilaksanakan atasnya.[17] 
            Tentang pemberian hukuman mati kepada Syekh Siti Jenar ini Babad Tanah Jawi (Wirjapanitra, hlm.21-22) menuliskan,
Sunan Mbenang Mbisiki Sunan Kudus supaya Sitijenar den pateni. Ing wasana Sitijenar pinedhang dening Sunan Kudus, sirahe gumlundhung ing lemah, getihe abang muncrat-muncrat. Sunan Kudus ngendika: Elo iki jarene Allah, teka getihe abang. Padha sanalika metu getihe putih, gandane arum mengambar, sarine gumlundhung aneng lemah. Sunan Kudus ngendika; jarene Allah, teka padha bae karo aku, jisime gumluntung aneng lemah. Padha sanalika jisime mumbul terus sirna. Sunan Kudus ngendika maneh; lah iki wali apa, dene patine nggawa jisim, kaya jim prayangan. Kacarita jisime tumuli niba eneng lemah. Banjur dukubur.

Intinya, perkumpulan para wali di Demak, dipimpin oleh Sunan Giri, yang memutuskan untuk menghukum Syekh Siti Jenar. Sunan Kudus mengusulkan agar Syekh Siti Jenar diundang ke Demak. Untuk itu diutuslah dua orang memanggil Syekh Siti Jenar. Pertama kali kedua utusan itu tidak berhasil, utusan lalu kembali ke Demak. Akan tetapi keduannya disuruh kembali ke tempat tinggal Syekh Siti Jenar untuk memanggil lagi. Pada panggilan kedua ini Syekh Siti Jenar mau datang dan kemudian ditetapkan hukum mati baginya. Pelaksanaan hukuman mati tersebut dilakukan oleh Sunan Kudus dengan dipedang lehernya.[18]
Sumber lain menyatakan, bahwa rombongan utusan raja Demak yang ditugaskan untuk mengatasi masalah Syekh Siti Jenar itu dipimpin Sunan Mbonang. Ketika rombongan utusan Demak tiba di desa Krendhasawa, mereka lalu menuju tempat tinggal Syekh Siti Jenar. Salam yang diucapkan oleh pimpinan rombongan, yaitu sunan Mbonang sama sekali tidak dijawab oleh Syekh Siti Jenar yang sedang mengajar murid-muridnya. Oleh karena itu surat raja lalu dilemparkan kepada Syekh Siti Jenar dan jatuh dipangkuannya. Syekh Siti Jenar terkejut dengan kejadian itu, tetapi tidak menghiarukan tamunnya dan terus melanjutkan mengajar ilmu kepada murid-muridnya, pura-pura tidak tahu kalau ada rombongan tamu terhormat.
Setelah terjadi perdebatan lama antara sunan Mbonang dengan Syekh Siti Jenar, dan kemudian Syekh Siti Jenar pilih mati dengan caranya sendiri. Cara yang ditempuh, menurut Abdul Munir Mulkhan yaitu memusatkan fikiran, lalu menutup rapat-rapat pintu nafas, menggulung habis rahasia hidupnya, kemudian dilepas ke tempatnya semula. Cara mati ini tentu sulit ditangkap orang lain dan tidak masuk akal, tetapi sangat dikagumi oleh para penganutnya. Cara bunuh diri seperti ini dianggap hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang tingkat kerohaniannya sangat tinggi.[19]
Dalam serat Syekh Siti Jenar disebutkan bahwa ketika walisongo membuka keranda yang berisi jenazah Syekh Siti Jenar, mereka mencium bau wangi dan cahaya kemilau. Kalau hal itu diketahui umum, mereka khawatir popularitas Syekh Siti Jenar akan meningkat dan sebaliknya membuat walisanga merasa malu serta wibawa kerajaan Demak akan memudar. Olek karena itu tanpa sepengetahuan raja Demak, jenasah Syekh Siti Jenar lalu diganti dengan bangkai anjing kudisan.[20]
Selain itu, sebuah kisah lain lagi menyatakan bahwa pengadilan Syekh Siti Jenar dan pemakamannya dilakukan di Cirebon. Bahkan kisah pengadilan Syekh Siti Jenar di cirebon ini juga dilengkapi dengan tempat pemakamannya yang dinamakan makam Pamlaten, karena katanya pada waktu makam dibongkar kembali yang nampak bukan jenasah manusia, melainkan dua kuntum bunga melati yang harum baunya.[21]
Menurut Agus Sunyoto, Syekh Siti Jenar wafat biasa karena usia tua. kisah-kisah legenda tentang eksekusi membingungkan dan tidak sesuai kronologi waktu, terutama saat terjadi kontroversi naskah Cirebon dan Demak. Menurut naskah Cirebon, Syekh Siti Jenar diadili dan dieksekusi di Masjid Cipta Rasa Cirebon. Menurut versi Demak, Syekh Siti Jenar diadili dan dieksekusi di Masjid Demak. Mungkinkah satu orang diadili dan dieksekusi di dua tempat dalam waktu berlainan?.[22]
Menurut penganut Tarikat Akmaliyah yg dinisbatkan kepada Syekh Siti Jenar, sesungguhnya Syekh Siti Jenar tidak diadili dan dieksekusi mati. Tapi ajarannya dilarang Sultan Demak.
Bagaimanapun Kisahnya, semua serba kontrofersi mulai dari adanya, asal usulnya bahkan makamnya. Namun, setiap elemen pasti memiliki negatif dan positifnya, begitu juga Dia.
Banyak pelajaran kebaikan yang dapat kita ambil dari kisah hidup dan ajaran Syekh Siti Jenar. Meski sumber tentang kehidupan dan pahamnya hanya bersumber karangan pujangga, yakni Raden Sosrowidjojo dan kenjeng Sunan Pakubuwono VI, hal ini tidak menjadikan kita surut untuk menggali kebenaran umat di saat kini, yakni tingkah dan tindakannya yang congkak, kurang mengahargai tatanan masyarakat, kurang menghormati hukum syari’at dan negara, serta tutur kata yang kasar tiada mengerti perasaan lawan bicara. Hal ini tidaklah sesuai dengan teladan kanjeng nabi Muhammad Saw.[23]
Ragil menuliskan 7 kesalahn Syekh Siti Jenar, yaitu:[24]
a)      Syekh siti jenar tidak menggunakan cara yang baik untuk mencari ilmu
b)      Syekh Siti Jenar keluar dari syari’at
c)      Syekh Siti Jenar tidak menempatkan ilmu pada tempat yang seharusnya
d)     Syekh Siti Jenar tidak mencapai maksud dalam belajar ilmu
e)      Syekh Siti jenar tidak menghargai kedudukan orang lain
f)       Syekh Siti Jenar tidak menghargai kehidupan
Sementara pelajaran baik yang dapat kita ambil adalah tentang kesempurnaannya dalam bertauhid. Puncak pengharapan seorang saalik atau penempuh jalan spiritual adalah tercapainya keadaan tauhid dalam diri secara sempurna. Tauhid dalam arti penyatuan, yakni penyatuan tuhan dan meniadakan yang lainnya. Sebagaimana isi syahadat atai penyaksian sebagai rukun islam yang pertama.[25]
Menurut penganut Tarikat Akmaliyah yg dinisbatkan kepada Syekh Siti Jenar, sesungguhnya Syekh Siti Jenar tidak diadili dan dieksekusi mati. Tapi ajarannya dilarang Sultan Demak.
Dari ulasan diatas dapat disimpulkan, bahwasanya kematian Syekh Siti jenar ada dua pendapat:
a)      Menurut Widji Saksono, mati karena hukuman kisas (dipenggal) 
b)      Menurut Munir Mulkhan, mati karena keinginannya sendiri
c)      Menurut Agus sunyoto, mati karena usia tua
Makam Syekh Siti Jenar:
a)      Masjid Demak
b)      Cirebon, pemakaman Pamlaten

B.       Ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar
         1.         ajaran Syekh Siti Jenar
Ajaran Syekh Siti Jenar dikenal sebagai ajaran ilmu kebatinan. Suatu ajaran yang menekankan aspek kejiwaan dari pada aspek lahiriah yang kasat mata. Intinya ialah konsep tujuan hidup. Titik akhir dari ajaran Siti Jenar ialah tercapainya manunggaling kawula-Gusti. Yaitu bersatunya antara roh manusia dengan Dzat Allah. Paham inilah yang hampir sama dengan ajaran para zuhud, wali dan orang-orang khowash. Zuhud banyak dijumpai dalam dunia tasawuf. Mereka merupakan orang-orang atau kelompok yang menjauhkan diri dari kemewahan dan kesenangan duniawi. Sebab mereka mempunyai tujuan hidup yang lebih utama, yakni ingin mencapai kesucian jiwa atau roh.
Inti ajaran Syeh Siti Jenar adalah pencapaian spiritualitas yang tinggi dalam penyatuan antara makhluk dengan Dzat Pencipta, yang lebih populer disebut sebagai manunggaling kawula-Gusti. Bagian-bagian dari ajaran itu adalah meliputi penguasaan hidup, pengetahuan tentang pintu kehidupan, tentang kematian, tempat kelak sesudah ajal, hidup kekal tak berakhir, dan tentang kedudukan Yang Mahaluhur. Paham yang hampir senada dengan falsafah Jawa kuno.
Menurut Walisana, Syekh Siti Jenar adalah San Ali Ansor, yaitu seorang ahli sihir yang tidak diterima berguru kepada sunan Giri karena sang guru khawatir ilmunya akan diselewengkan.[26]
Disisi lain Gatra dalam bukunya mengatakan bahwa Syekh Siti Jenar pada awalnya adalah bagian dari walisongo. Oleh dewan walisongo, Syekh Siti Jenar diserahi tugas untuk mengajar sasahidan, yaitu belajar syahadat dan tauhid. Tetapi belakangan ajaran Syekh Siti jenar lebih mengarah ke ilmu hakikat yang kemudian mengabaikan syari’at sehingga walisongo menilai hal itu bukan konsumsi orang yang awam dengan ajaran islam. Di daerah miskin dan terbelakang yang masyarakatnya baru saja meninggalkan agama Hindu dan terlepas dari kekangan aturan kasta, ajaran pembebasan seperti itu sangat menarik. Itulah sebabnya mengapa di daerah tertentu ajaran Syekh Siti Jenar cepat berkembang dari pada ajaran walisongo.[27]
Ada kemungkinan, bahwa bergabungnya mereka dengan aliran Syekh Siti Jenar itu bukan karena landasan keyakinan agama, melainkan karena alasan politik stategis. Karena hal serupa pernah terjadi sekitat tahun 1965-1968, ketika para penganut faham komunis di Indonesia ketakutan dengan reformasi orde baru yang membubarkan partai komunis itu lalu menggabungkan diri dengan kelompok non Islam apa saja karena sebelumnya PKI sangat bermusuhan dengan golongan Islam.
Kepada siapa saja Syekh Siti Jenar menggali ilmu, beritanya sangat simpang siur. Mungkin Syekh Siti Jenar pernah berguru kepada Vendanta Budhisme, mungkin pula pada seorang guru Syi’ah Bathiniyah, bahkan mungkin dari mazhab Zindiq. Dalam kitab Walisana disebutkan bahwa Syekh Siti Jenar pernah berguru pada sunan Giri secara mencuri-curi, karena beliau dianggap memiliki ilmu sihir, dengan alasan ditakutkan kalau ajaran Islam disalah gunakan untuk meningkatkan ilmu sihir yang telah dimiliki oleh beliau.[28]
Salah satu ajaranya yang dianggap aneh ialah tentang hidup dan mati, tentang tuhan dan manusia, serta kewajiban memenuhi rukun Islam. Syari’at yang dikenakan bagi orang hidup, tidak berlaku bagi orang yang mati. Padahal, Syekh Siti Jenar berpendapat bahwa semua orang di dunia ini adalah mati, dan kehidupan yang sesungguhnya baru dimulai setelah orang meninggalkan dunia. Orang-orang yang nampaknya hidup di dunia ini tak lain adalah bangkai-bangkai yang terdiri atas tulang dan daging yang kelak akan ditinggalkan.[29]
Sebelumya, agar pembahasan lebih sistematis, maka dipisahkan antara inti ajaran dan pandangan Syekh Siti Jenar terhadap syari’at Islam. Kedua hal itu sebenarnya memang sangat erat hubunganya. Dengan pemisahan itu diharapkan pembahasan selanjutnya lebih terfokus.
Dengan pendirian serta keyakinan kepada murid-muridnya, beliau mengajarkan lima tahap ilmu, yaitu:
a)      tentang asal-usul manusia.
b)      masalah yang berkaitan dengan pintu kehidupan.
c)      tempat manusia hidup kekal dan abadi.
d)     tempat alam kematian yang sekarang sedang dialami.
e)      tentang adanya Yang Maha Luhur yang menciptakan bumi dan angkasa.
Para murid yang kebanyakan orang awam menerima dengan mentah-mentah, berlaku seperti orang kehilangan akal, sikapnya angkuh bahwa ia adalah orang pilihan sebagai murid beliau. Seperti gurunya mereka merasa bahwa hidup di dunia adalah siksaan maka tindakanya menunjukkan sebagai orang yang tidak betah hidup.
Setelah menerima lima langkah ilmu tersebut, banyak murid Syekh Siti Jenar yang memilih mengakhiri kematian di dunia ini dengan cara bunuh diri atau berbuat onar agar mereka terbunuh. Murid-murid Syekh Siti Jenar merasa tidak tahan lagi berada di dunia yang selalu mengalami kesulitan, penderitaan dan kesengsaraan. Mereka merasa bosan dan muak melihat bangkai-bangkai berserakan dan berkeliaran ke mana-mana.[30]
Bagi beliau hidup di dunia ini adalah mati yang disitu terdapat baik buruk, sakit dan enak, mujur dan celaka, surga dan dunia. Bahagia dan sempurna campur menjadi satu. Dengan adanya peraturan, maka manusia terbebani sejak lahir. Oleh karena itu, ajaran Syekh Siti Jenar sangat menekankan pada upaya mencari hidup yang abadi agar tahan mengalami hidup dunia itu. Beliau selalu mengajarkan bagaimana cara mencari moksa. Hidup ini mati karena mati adalah hidup yang sesungguhnya, karena manusia bebas dari segala derita.[31]
Beliau memandang kehidupan di dunia ini sebagai kematian yang singgah di dalam raganya. Inilah yang membuat manusia tersesat di dalam neraka. Oleh karena itu Syekh Siti Jenar ingin segera mengakhiri kematianya di dunia dan menempuh kehidupan yang abadi.[32]
Pandangan seperti ini ditolak oleh orang-orang yang tingkatanya masih syari’at, dengan rasionalisasi, Allah Swt memang beberapa kali bersabda dalam Al-Qur’an, bahwa setelah seseorang meninggal dunia, dia akan hidup kekal di alam lain. Misalnya surat Al-Baqoroh ayat 154 yang artinya:
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Yang dimaksud hidup disini adalah hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.
Dari ayat ini sama sekali tidak tersirat bahwa hidup di dunia itu sia-sia. Mereka telah berjihad dan rela mati karena Allah, kemudian setelah itu mereka hidup di alam akherat dengan menikmati jerih payahnya selama berjuang di alam dunia. Jadi jelas disini bahwa hidup di dunia dan akherat merupakan rangkaian yang saling berkaitan.
Selain itu dalam surat Adz-Dzariat ayat 56 mengatakan:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”

Jadi kalau beliau memandang kehidupan di dunia itu sebagai kematian, lalu orang hidup dianggap sebagai bangkai yang genthayangan, itu jelas penafsiran yang keliru atau penafsiran yang tidak berdasarkan ajaran al-Qur’an. Hidup di dunia hanya sementara waktu, paribahasanya “hanya mampir ngombe”, tetapi bukan berarti yang hanya sebentar itu tidak penting. Namun bukan berarti kita harus mencela ajaran-ajaran Syekh Siti Jenar, memang kelihatannya lain dari pada yang lain tapi kalau dipikir secara mendalam semua perbedaan tidak ada yang salah karena memiliki dasar-dasar sendiri.
Dari sisi lain, Widji Saksono berpendapat bahwa faham Syekh Siti Jenar merupakan bibit Zindik, yaitu gerakan politik yang menentang atau melemahkan gerakan Islam yang dipimpin oleh walisongo. Pada waktu itu Zindiq merupakan gerakan politik yang datang dari kaum atheis, hindu, budha atau gerakan lain yang tidak rela melihat majapahit jatuh. Sikap ingin mempertahankan nilai-nilai Hidhu-Budha pada ajaran Syekh Siti Jenar maupun murid-muridnya dapat dilihat dari langgam pangkur yang dikutib Dr Rinkes sebagai berikut:
Kang kapindo aja sira, ngrusak barang tinggalan barang dingin, kaya rontal sastrayu, tulis-tulis neng sela, kayu watu patilasan, ywa kelebur, wharuhanira bangsa jawa, budine tan bisa enting. Kang kaping tri mbok menawa, kowe rujuk buangen masjid iki, sirnakna serana latu, sun owel turunanira, nora wurung tembe kanut mendem kulhu, edan kedanan mring Allah, nganggit-anggit nora panggih.[33]

Ungkapan diatas sangat jelas menunjukkan keberatan dan kekhawatiran Syekh Siti Jenar akan hilangnya tradisi agama Hindhu-Budha yang akan diganti dengan agama Islam. Pada awal abad ke-16 rasa khawatir tersebut sudah memuncak, karena kekuasaan kerajaan Hindhu Majapahit telah digantikan oleh kerajaan Islam Demak Bintara. Begitu sengitnya sikap Syekh Siti Jenar demi menyaksikan meningkatnya perkembangan Islam, sampai-sampai dia ingin menggerakkan masyarakat untuk membakar masjid yang sudah mulai berdiri di mana-mana.[34]
Yang paling unik dari ajaran beliau adalah cara dan kemampuanya dalam memilih mati. Dalam serat Syekh Siti Jenar disebutkan bahwa cara mati Syekh Siti Jenar dengan murid-muridnya membuat para wali terkejut. Namun boleh jadi hal itu hanya merupakan simbolik dengan pesan tertentu. Boleh jadi juga hal itu merupakan siasat walisongo dan raja Demak untuk menghindari tanggung jawab sebagai penyebab kematian mereka. Atau itu sekedar simbol dari para pembangkang untuk tidak mau kehilangan muka dan bukti bahwa mereka tetap tak terkalahkan.[35]
Jika Al-hallaj mati dipancung kepalanya, Syekh Siti Jenar memilih sendiri cara matinya. Akan tetapi cara mati beliaupun penuh dengan kontrofersi. Dalam kaitan dengan kematianya, hal ini apa benar beliau memang mati dihukum pancung atau hanya mengelabui walisongo. Setelah ia matipun ada cerita aneh bahwa mayatnya berubah menjadi anjing kudisan, yang menurut cerita kejadian ini dilakukan oleh walisongo untuk meyakinkan kepada masyarakat akan kesesatan Syekh Siti Jenar.
Dilihat dari segi akhlak, beliau dianggap menyimpang dari akidah akhlak pada umumnya. Menurut Zoetmulder, praktik yang dijalankan murid-murid beliau, antara lain:
a)      Lebe Lontang[36]
b)      Seks bebas
c)      Cabul
Sesuai dengan diatas, pandangan Syekh Siti Jenar terhadap seks sangatlah bebas, tidak ada haram-halal, boleh sesukanya mengadakan hubungan intim meskipun bukan suami-istri. Padahal di antara agama Al Kitab, sudah jelas Islamlah yang paling ketat dalam mengatur hubungan pria-wanita. Hanya ajaran Islam yang mengenal istilah aurat dalam hal berpakaian, juga istilah mukhrim yang antara lain mengatur pergaulan.
Pendapat diatas sangat jarang sekali, dalam dialognya bersama Agus Sunyoto, ajaran-ajaran seperti itu hanyalah tingkah laku orang-orang yang mengaku murid Syekh Siti Jenar, ajaran Syekh adalah manunggaling kawulo gusti.
Dikuatkan dengan salah satu pendapat yang mengatakan bahwa beliau adalah wali yang terkenal setelah sunan Kalijogo, sehinggga delapan wali kecuali sunan Kalijogo kalah denganya.[37]
Ada pula yang berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar hanya nama simbolik yang dipergunakan walisongo untuk melambangkan sifat-sifat tercela yang harus dijauhi oleh setiap muslim.[38] 
Jadi kisah-kisah disekitar kematian beliau yang aneh-aneh itu hanya untuk membentuk opini masyarakat Islam agar tidak mudah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang berbeda dengan Al-qur’an.
Melihat bahwa dalam pelbagai serat dan babat, nama Syekh Siti Jenar disebut dan disertai dengan nama muridnya secara jelas, secara hipotesis bisa dikatakan bahwa jenar bukan tokoh fiktif. Perselisihan dikalangan para ahli tentang Siti Jenar sebagai tokoh fiktif atau bukan pada hemat penulis disebabkan perbedaan antara yang termuat pada peninggalan yang ada.
Sedangkan dibidang politik, ketundukan mutlak hanya taat kepada Allah yang dijadikan oleh pengikut Syekh Siti Jenar untuk membangkanng kekuasaan Demak Bintara.pandangan ini menjadi dasar para elit keturunan majapahit yang yang berada diluar istana demak untuk mendukung ajaran Syekh Siti Jenar, misalnya Ki Ageng Pengging. Jadi isu Syekh Siti Jenar sebenarnya hanya dijadikan motivator untuk untuk menggerakkan masyarakat yang masih mencintai kerajaan Majapahit menentang kerajaan Demak Bintara.[39]
Jadi ajaran syekh siti jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan mati, tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Beliau memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. sebaliknya, yaitu apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki dan abadi.
Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah. dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran siti jenar bahwa manusia di dunia ini tidak harus memenuhi rukun islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji. baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. syekh siti jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. pemahaman inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. mirip dengan konsep Al-Hallaj (tokoh sufi islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan islam sekitar abad ke-9 masehi) tentang hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan tuhan. dimana pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ;
a)      syariat (dengan menjalankan hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll).
b)      tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu.
c)      hakekat, dimana hakekat dari manusia dan kesejatian hidup akan ditemukan.
d)     ma'rifat, kecintaan kepada allah dengan makna seluas-luasnya.
Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan dibawahnya ditiadakan. pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh syekh siti jenar. ilmu yang baru bisa dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang syekh. para ulama mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh syekh siti jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran islam yang harus disampaikan adalah pada tingkatan 'syariat'. sedangkan ajaran siti jenar sudah memasuki tahap 'hakekat' dan bahkan 'ma'rifat'kepada allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada allah). oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh siti jenar hanya dapat dibendung dengan kata 'sesat'.
         2.         Tentang Hidup
Syekh Siti Jenar berpendapat bahwa makhluk hidup adalah kehidupan yang terperangkap dalam alam kematian, zat mati tak akan pernah menimbulkan kehidupan. Sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Tuhan disebut Al-Hayy karena dia maha hidup dan eksis karena dirinya sendiri. Nah, kekuatah hidup-Nya mengalir dalam alam kematian ini muncul sebagai makhluk hidup. Karena itu, kita yang dilahirkan ini bukan untuk hidup tetapi untuk mati.[40]
Suluk Sungsang menceritakan, dalam perdebatan antara Syekh Siti Jenar dan Kebo Kanigoro. Syekh Siti Jenar melontarkan pertanyaan,[41]
“Ada berapa cara yang saling berbeda dari kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini. Tolong jelaskan pada kami, cara apa saja itu dan disebut apa proses kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini?,”
Kebo kanigoro tercekat kaget, lama ia tidak menjawab, akhirnya ia mengembalikan kepada Syekh Siti Jenar, “kami tidak bisa menjawab pertanyaan tuan Syaikh, kami mohon penjelasan.”
“Ketahuilah pangeran kebo Kanigoro, kemunculan makhluk hidup di dunai ini melalui tiga cara berbeda yang disebut wetu telu (keluar tiga). Pertama, adalah yang disebut menganak (melahirkan). Kedua, mengendong (melalui telur). Ketiga, masemi (tumbuh). Seluruh makhluk hidup yang memiliki daun telinga, umumnya muncul di dunia melalui cara menganak. Sedang makhluk-makhluk yang tidak memiliki daun telinga umumnya muncul ke dunia melalui mengendong. Dan semua makhluk hidup yang muncul tidak memiliki cara menganak atau mengendong, umumnya muncul ke dunia melalui cara masemi.”  
Mati itu seperti tidur. Di dalam tidur ada mimpi. Hidup kita sekarang ini bagaikan tidur. Jadi, yang terjadi sekarang ini hanyalah bayang-bayang kehidupan. Realita yang ada sekarang ini masih maya. Karena masih terkena kematian. Kalau diamati secara seksama, realita sekarang ini ada tetapi maya. Ada, tetapi selalu bersifat baru.
Banyak orang mengatakan bahwa kita harus mendahulukan kewajiban daeipada hak. Padahal, tak ada hak, manusia tidak dapat mewujudkan kehidupannya. Harus ada hak hidup lebih dulu, lihatlah benih yang ditanam di kebun. Ia kita beri hak untuk hidup lebih dulu. Kita rawat dan pelihara. Akhirnya, dengan kemandirian dan kodrat benih itu, ia tumbuh dengan subur dan memberikan hasil yang baik. Setiap manusia ada kodrat untuk hidup mandiri. Tetapi hak untuk mengekspresikan kemandirian dan kodrat hidupnya harus ada. Itu lah hak hidup.
Agar kodrat dan kemandirian manusia di alam ini bisa terpenuhi, maka manusia berhak untuk memperoleh kehidupannya. Orang tua dan masyarakat memlihara bayi-bayi yang dilahirkan. Mereka membangun keamanan dan ketentraman bersama. Tak ada diskriminasi, orangtua dan masyarakat menyediakan pendidikan. Orang tua dan masyarakat menyediakan lapangan kerja. Maka, lahirlah manusia-manusai baru yang membrikan buah kehidupannya bagi masyarakat tempat tumbuh hidupnya. Ini sebuah masyarakat yang didambakan Siti Jenar. Tetapi ide ini lahir sebelum zamannya. Justru di Milinium III ini manusia ingin hidup yang ebbas dari kerangkeng kekuasaan negara. Manusia ingin hidup mandiri.
         3.         Surga dan Neraka
“Anal jannatu wa nara katannalr al anna”, sering digunakan oleh Syekh Siti Jenar dalam menjelaskan hakikat surga dan neraka. Penulisan yg benar nampaknya adalah “inna al-janatu wa al-naru qath’un ‘an al-ana” (Sesungguhnya keberadaan surga dan neraka itu telah nyata adanya sejak sekarang atau di dunia ini).
Sesungguhnya, menurut ajaran Islam pun, surga dan neraka itu tidaklah kekal. Yang menganggap kekal surga dan neraka itu adalah kalangan awam. Sesungguhnya mereka berdua wajib rusak dan binasa.
Bagi Syekh Siti Jenar, surga atau neraka bukanlah tempat tertentu untuk memberikan pembalasan baik dan buruknya manusia. Surga neraka adalah perasaan roh di dunia, sebagai akibat dari keadaan dirinya yg belum dapat menyatu-tunggal dgn Allah. Sebab bagi manusia yg sudah memiliki ilmu kasampurnan, jelas bahwa ketika mengalami kematian dan melalui pintunya, ia kembali kepada Hidup Yang Agung, hidup yang tan kena kinaya ngapa (hidup sempurna abadi sebagai Sang Hidup). Yaitu sebagai puncak cita-cita dan tujuan manusia.[42]
Jadi, karena surga dan neraka itu ternyata juga makhluk, maka surga dan neraka tidaklah kekal, dan juga bukanlah tempat kembalinya manusia yang sesungguhnya. Sebab tidak mungkin makhluk akan kembali kepada makhluk, kecuali karena keadaan yang belum sempurna hidupnya. Oleh al-Qur’an sudah ditegaskan bahwa tempat kembalinya manusia hanya Allah, yang tidak lain adalah proses kemanunggalan.
         4.         Seputar amalan Syari’ah; Sholat Dan Haji
Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Makah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar.[43]
Tiada pernah Syekh Siti Jenar menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini idak masuk akal, di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.
Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yang artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.”
Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal syariat tsb.
Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi.
Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syari’at hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga). Yang mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.
Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yang sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya.
Beralih kepada ibadah haji, bagi beliau ibadah haji di al-Haramain merupakan tindakan atau laku ‘abid yg sedang menjalankan ibadah untuk mengarahkan kiblat kepada Ma’bud. Inilah inti ibadah haji yg menurut Syekh Siti Jenar akan mampu membawa pencerahan bagi pelaksananya. Haji bukan semata-mata melaksanakan ihram, thawaf, sa’i, wuquf, bermalam di Muzdalifah dan Masy’ar al-Haram dan melempar jumrah secara badani.
Tetapi makna hakiki haji bagi beliau adalah peribadatan yang mampu membawa seorang salik mendaki maqam jasadiyah ke maqam rohaniyah; tindakan manapaki kembali jejak Adam yang terusir dari surga, ke asal penciptaan yang mulia di antara semua hamba-NYA, yaitu Adam yang kepadanya seluruh malaikat bersujud dan dibanggakan Rabb-nya karena mengetahui nama-nama serta berwawan sabda dengan al-Khaliq.
Demikian pula dengan Makkah. Bagi beliau kota suci ini merupakan tempat meningkatkan kualitas kehidupan mistiknya. Ka’bah sebagai “pusat kosmik” merupakan tempat khusus memperoleh pengalaman rohani yang tidak mungkin diperoleh di temapat lain. Perenungan yang demikian dalam itulah yang kemudian menghasilkan pengalaman spiritual, menuju puncak ma’rifatullah.
Pengalaman spiritual pertama, Syekh Siti Jenar mengalami ke fana’-an yang lebih tinggi dibanding pengalaman spiritual yang sudah lewat. Dalam keadaan fana’-nya itu, ia mengalami pandangan lawami’, menyaksikan seorang pemuda yang telah sampai kepada tingkatan puncak dalam pendakian spiritual. Melalui isyarat (pembicaraan dengan bahasa perlambang) dan al-ima’ (pembicaraan tanpa lisan dan bahasa perlambang), pemuda tersebut mengungkap jalan menuju-NYA; menembus berbagai tabir hijab dualitas insaniyah dan Ilahi-yah, memasuki samudera sifat dan Asma Allah. Beliau dituntun menjadi al-insan al-kamil, dimana potensi roh al-haqq yang bersemayam dalam Baitul Haram hati-jiwanya, dioptimalisir bagi eksistensi dirinya di dunia. Jika roh al-haqq ini tidak dioptimalisasikan, maka hakikat manusia hidup adalah hanya sebagai mayat atau bangkai. Demikian pula jalur ibadah formal yang tidak disertai kebangkitan roh al-haqq, tidak akan memiliki efektivitas apapun, bagi kehidupan sejati di akhirat kelak.
Roh al-haqq dari lubuk Abitul Haram hati itulah yang menjalin relasi dengan dia (Huwa), yang meniupkan roh-NYA melalui nafs al-rahman. Melalui jalur itulah akan tersingkap seluruh rahasia keberadaan al-Haqq (Yang Riil) yg menjadi esensi sekaligus substansi roh al-haqq. Jalinan antara al-haqq dan huwa (Dia Yang Mutlak Tak Terbatas) itulah hakikat sejati dari fana’ fi tauhid; yang riil yang beragam (farq), manunggal dengan yang satu (Jam’).
Setelah beliau mengalami pengalaman puncak spiritual yang dahsyat tersebut, kembali terjadi pengalaman kedua. Melalui nur lawami’ dan fawa’id-nya, ia mengetahui bahwa pemuda yang semula membimbingnya mengalami pengalaman puncak, tiada lain dan tidak bukan adalah Abu Bakar al-Shidiq, sahabat terkasih rasulullah. Pengalaman pertemuan dengan roh Abu Bakar itu terjadi dalam kondisi ekstase kesufian, ketika kesadaran jiwanya berada dalam ‘alam al-khalaq (alam kasatmata) dengan 'alam al-khayal (alam imajinasi).
Pengalaman ketiga, terjadi ketika thawaf wada’. Ketika kondisi rohaninya sedang berada dalam ke-fana’-an, ia merasakan nur dalam dirinya menyatu dengan nur muhammad. Dalam pergulatan kalbunya itu, kemudian ia terbawa dalam situasi yang mencengangkan. Mendadak Ka’bah dan segala yang disekitarnya lenyap. Ia berada di alam syahadah yang maha-luas, dimana seluruh tubuhnya memancar nur. Ia merasakan dan menyatu dengan Nur, sehingga ia tidak tahu lagi tentang eksistensi dirinya. Antara sadar dan tidak, ia merasakan al-Haqq yang bersemayam di arsy Baitul Haram hatinya berkata-kata sendiri, “Ana sirr al-Haqqi wa ma al-Haqq ana, wa ANA al-haqq fa innani ma ziltu aba wa bi al-Haqqi haqqun.”
Di Makkah beliau telah berhasil mencapai kemanunggalan. Kini seluruh pandangan beliau telah selalu berada dalam ‘ain al-bashirah, sebagai pengejawantahan dari al-Bashir.
Ketika Syekh Siti Jenar berada di depan kubur Rasulullah, ia kembali mengalami lintasan-lintasn rohani yang menakjubkan. Kali ini melalui pandangan al-bashirah-nya, ia dipertemukan dengan sosok agung Muhammad SAW, yang mengungkapkan rahasia Nur Muhammad dan wujudiyah kepada Syekh Siti Jenar, mengungkapkan rahasia kalimat, “Ana min nur Allah wa khalq kulluhum min nuri.” Demikian pula mengenai rahasia Haqiqah Muhammad, di dalamnya terhadap nama lain Nabi Muhammad, yaitu “Ahmad” itulah yg dimaksud dalam hadist “ana Ahmadun bi-la mim.” maksudnya adalah “Aku tidak lain adalah Ahad.” Jadi Nabi Muhammad yang diberi nama semesta “Ahmad” tidak lain adalah pengejawantahan dari sang “Ahad” sendiri.
Dari pengalaman kemanunggalan yang dialami di Makkah itu, Syekh Siti Jenar tidak bisa membedakan antara fana’ fi Allah dan fana’ fi rasul, sebab hakikat dan esensinya sama. Fana’ fi rasul, melalui rahasia di balik nama “Ahmad”, tidak lain juga fana’ fi al-Ahad.
         5.         Manunggaling Kawulo Gusti
Tasawuf sebagai salah satu inti ajaran keagamaan yang berbasis pada moralitas ketuhanan, justru semakin dimintai para pemeluknya yang merindukan kedamaian lahir dan batin. Karena melalui tasawuf, ajaran inti agama yang lain seperti tauhid dan fiqh teringtegrasi membentuk suatu Islam yang kaffah. Melalui penghayatan dunia tasawuf, seseorang mendapatkan kelezatan beragama melalui pengalaman keagamaan. Maka tidak berlebihan jika dikatakan tasawuf yang memunculkan pengalaman keagamaan merupakan unsur vital dalam struktur keagamaan. Pada posisi inilah maka konsep dan konteks mistik Islam-Jawa menjadi bagian sangat penting dari Islam secara keseluruhan. Dan memposisikan Syekh Siti Jenar sebagai salah satu dari imam madzhab sufi karena keberhasilannya merumuskan dan menyebarkan mazhab sufistiknya secara independen.[44]
Menurut C.Y. Glock dan Stark cara beragama memiliki lima dimensi yang saling terkait. Kelima dimensi itu adalah:[45]
1)      Dimensi keyakinan yang berisikan pengharapan dengan berpegang teguh pada teologi tertentu.
2)      Dimensi praktik agama yang meliputi perilaku simbolik dari makna-makna keagamaan yang terkandung di dalamnya.
3)      Dimensi pengalaman keagamaan yang merujuk pada seluruh keterlibatan subyektif dan individual dengan hal-hal yang suci dari suatau agama.
4)      Dimensi pengetahuan agama, artinya orang beragama memiliki pengetahuan tentang keyakinan, ritus, kitab suci, dan tradisi-tradisi.
5)      Dimensi konsekuensi yang mengacu kepada identifikasi akibat-akibat keyakinan, praktik, pengalaman, dan pengetahuan seorang dari hari kehari.
Dari lima dimensi tersebut tampak bahwa dimensi pengalaman keagamaan menjadi titik sentral atau pusat dari antar dimensi. Dimana dalam dimensi pengalaman keagamaan yang dalam Islam terkait erat dengan sistem tasawuf melibatkan secara intensif empat dimensi yang lain.
Spiritual keagamaan sebagaimana dialami Syekh Siti Jenar telah berhasil memadukan kelima dimensi tersebut.
Keterkaitan erat antara tasawuf dengan pengalaman keagamaan sangat jelas, dimana proses penempuhan jalan sufi merupakan upaya dan proses untuk dapat “mengalami” kelezatan beragama. Oleh karena itu “pengalaman” ini menjadi sesuatu yang sangat individual. Tetapi justru dengan statusnya inilah, pengalaman keagamaan menjadi sumber utama dalam penelitian-penelitian psikologi agama sejak tahap perintisnya dalam bentuk personal document.
            Sebagai ungkapan-ungkapan yang menggambarkan “pengalaman keagamaan”, banyak istilah yang dipergunakan oleh para ahli. Seperti:[46]
1)      Mystical Experience yang digunakan oleh F.C. Hoppald dan Merkur
2)      Mysticism Experiencw sekaligus Religious Experience oleh William J. Wainwright.
3)      Spiritual Experience oleh Charles T. Tart
4)      Religious Experience oleh William James, Brian Morris dan Erich Fromm
5)      Experience of Religious oleh R. Needham
6)      Estatic Religion oleh I. Lewis
7)      Mystical Awareness oleh Paul Mommaers dan Jan Van Bragt
8)      Peak Experience oleh Abraham W. Maslow
Variasi ungkapan mengenai pengalaman keagamaan itu, semuanya bermuara pada titik temu mistisisme, yakni pengalaman “merasakan” kemenyatuan dengan tuhan serta pengalaman merasakan keabadian. Jauh sebelumnya telah dirumuskan berdasarkan pengalaman riil oleh Syekh Siti Jenar dalam apa yang kemudian disebut Manunggaling Kawulo Gusti.
Manunggaling Kawulo Gusti adalah kebebasan manusia yang mutlak seperti kemutlakan kekuasaan tuhan sendiri. Karena manusia telah jadi tuhan seperti halnya konsep Wisnumurti atau Bimasakti.[47] Dalam tulisan Jawa keadaan ketunggalan tertinggi yang masih sepi dari determinasi disamakan dengan ahadiyya sama dengan emanasi pertama yang keluar dari keadaan belum terinci itu, yang bahkan belum memiliki ketunggalan dalam dirinya.[48]
Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama. alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat yang maha kuasa. hanya saja masing - masing menyembah dengan menyebut nama yang berbeda - beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. oleh karena itu, masing - masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa agamanya yang paling benar.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas dalam menjalankan ibadah. orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala berarti belum bisa disebut ikhlas.
Dalam ajarannya, Manunggaling Kawula Gusti adalah bahwa di dalam diri manusia terdapat ruh yang berasal dari ruh tuhan sesuai dengan ayat al Qur'an shaad: 71-72 yang menerangkan tentang penciptaan manusia yang artinya:
Ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat: "sesungguhnya aku akan menciptakan manusia dari tanah. maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya roh ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.

Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh tuhan dikala penyembahan terhadap tuhan terjadi.
Manunggaling kawulo gusti (Bersatunya Tuhan dan Manusia) adalah ajaran yang sangat kontroversial sampai saat ini. Banyak yang mengatakan kalau Syekh Siti Jenar mengaku sebagai tuhan dengan ajarannya itu. Tetapi kini banyak ditulis oleh penulis muda muslim yang tegas menolak pencitraan yang sudah sekian ratus tahun diyakini tersebut.
Para pendukungnya berpendapat bahwa syekh siti jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai tuhan. manunggaling kawula gusti dianggap bukan berarti bercampurnya tuhan dengan makhluknya, melainkan bahwa sang pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. dan dengan kembali kepada tuhannya, manusia telah menjadi sangat dekat dengan tuhannya.
Dari sebuah karya sastra benama pupuh dimana Syekh Siti Jenar mendokumentasikan pendapat dan pandangannya tentang agama Islam, banyak yang berpendapat ajaran Syekh siti Jenar ternyata memiliki kesamaan dengan pandanga islam modern yang berkembang saat ini.
Tuhan ada dimana-mana, disetiap jengkal tanah dan setiap detakan jantung manusia. Tuhan ada di dalam hati dan otak manusia adalah inti ajaran manunggaling kawulo gusti itu sebenarnya.
Perbedaan penafsiran ayat al Qur'an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh tuhan, yaitu polemik paham 'manunggaling kawula gusti'.
Menurut Agus Wahyudi, manunggaling kawulo gusti hanyalah bersifat hakikatnya saja, maka tidak patut seseorang mengatakan gunung adalah Allah, sungai adalah Allah, manusia adalah Allah, dan seterusnya. Kalau ada seorang sufi yang berkata “Aku adalah Allah,” sebaiknya kita berpraduga baik saja, yakni bahwa dia berkata demikian lantaran merasa sedang berada dalam kesadaran hakikat. Ibaratnya dia sedang dalam keadaan mabuk tuhan.[49]
Menilik ke akidah sufi, dalam konsepnya jelas diterangkan bahwasanya Allah memilih tubuh-tubuh manusia tertentu untuk mengambil tempat di dalamnya, setelah sifat-sifat kemanusiaan dihilangkan atau dilenyapkan. Bagi orang-orang sufi, manusia adalah penampakan lahir dari cinta tuhan yang azali kepada zat dan esensi-Nya, yang mutlak dan tidak bisa disifatkan. Oleh karena itu, manusia diciptakan tuhan dalam rupa-Nya yang mencerminkan segala sifa dan nama-Nya, sehingga “ia adalah Dia”.[50]
Berbagai pemikiran dan pandangan Syekh Siti Jenar itu dapat di kaji dari buku “Serat Siti Jenar” kesatuan dirinya dengan dzat tuhan atau sebaliknya. Dengan jelas dan terang ia menyatakan dirinya adalah tuhan dan tuhan itu adalah dirinya. Ajaran ini akhirnya mengantarkannya pada suatu kesimpulan bahwa manusia yang telah mencapai taraf penyatuan dengan tuhan, tidak lagi terbebani hukum dan bebas dari hukum. Beban hukumnya dibebankan kepada mereka yang belum mencapai kesatuan dengan hakikat hidup, dan menurut Syekh Siti Jenar, setiap orang mampu mencapai taraf itu jika mau.[51]
Menemukan kesatuan dengan hakikat hidup atau dzat tuhan, segala peribadatan adalah kepalsuan. Karena tuhan tidak terkenal hukum kealaman, maka manusia yang telah menyatu dalam dzat tuhan, akan mencapai keabadian seperti tuhan yang bebas dari segala kerusakan. Puncak penyatuan “Kawulo Gusti” oleh Syekh Siti Jenar disebutkan sebagai uninong aning unong.[52]
Dalam sebuah lakon, yang bersumber dari serat Dewa Ruci, menurut Haryanto mengisahkan tentang Bima yang mawas diri dengan tujuan menyucikan dirinya agar dapat menyatu dengan khaliknya atau pamoring Kawulo Gusti. Serat tersebut merupakan karya sastra Jawa Klasik yang mengajarkan tasawuf lengkap dengan langkah-langkah takhali, tahalli dan tajalli. Wejangan dewa Ruci berinti lima aspek, yaitu:[53]
1.      Pancamaya,
Pancamaya (lima bayangan) bisa diartikan sebagai bayangan yang diperoleh melalui panca indera dan dismpan dalam hati secara tidak sadar. Pada saat panca indera reaktif terhadap segala sesuatu dari alam sekelilingnya, sesungguhnya ia didorong oleh nafsu.
2.      Makrokosmos dan mikrokosmos
Makrokosmos adalah alam semesta seisinya yang dapat ditanggapi oleh panca indera manusia, kemudian disimpan secara tidak sadar sebagai pancamaya. Dengan demikian, isi alam semesta terdapat pada diri manusia, sekalipun hanya sebagai bayangan maya, bersifat semu.
3.      Pramana
Pramana menunjukkan pengertian akan denyut jantung. Jadi selama masih berdenyut, selama itu raga masih hidup. Adapun yang menghidupi pramana adalah suksma sejati yang mampu merasakan adanya sifat-sifat Allah SWT. Pada raga dan jiwa manusia, jika raga manusia mati, pramanapun ikut mati. Akan tetapi, suksma sejati hidup terus dalam alam yang tidak terbatas waktunya, tanpa winates.
4.      Ilmu pelepasan
Ilmu pelepasan adalah ilmu menjemput kematian yang diwejangkan oleh dewa Ruci kepada sena mencakup kematian dan pegangan hidup. Dijelaskan bahwa hidup tiada yang menghidupi karena sudah ada sejak makhluk berupa janin. Hidup tidak bersela waktu, artinya hidup abadi (langgeng). Dengan demikian yang mengalami kematian adalah raga, dan raga yang telah mati kembali ke tanah. Sedang jiwa dan suksma yang menghidupi raga selama hayat dikandung badan tidak mengalami kematian, tetapi kembali kepada asalnya, yaitu yang maha pencipta.
5.      Hidup dalam mati dan mati dalam hidup
Hidup adalah mati dan mati adalah hidup menekankan bahwa agar selama orang masih hidup, nafsu yang mendorong seseorang untuk melakukan kejahatan atau perpuatan jelek hendaknya ditinggalkan, sehingga menjadi nafsu yang mendorong perbuatan baik (nafsu muthmainnah). Dengan jalan demikian manusia dapat menyatukan diri dengan khaliknya.
            Dalam pandangan kesatupadan serat dewa Ruci di atas, muncullah Bima yang tubuhnya menjadi kecil dalam kisah itu adalah proses ke arah semakin kecil dan ketiadaan diri. Itulah cermin kemanunggalan (larut dan lenyap) di dalam Allah.[54]
Pokok keilmuan Syekh Siti Jenar disebut sebagai “Ngelmu Ma’rifat Kasampurnaning Ngaurip” (ilmu ma’rifat kesempurnaan hidup [the science of ma’rifat to attain perfection of life]). Ranggawarsita menyebutkan basis ilmiah ajaran tersebut adalah renungan filsafat yg bentuk aplikasinya adalah metafisika dan etika.
Ajaran metafisika meliputi ontologi, kosmogoni dan antropologi. Ontologi berbicara tentang Ada dan tidak ada. Dalam hal ini, Syekh Siti Jenar merumuskan tentang the Reality of the Absolute being (hakikat Dzat Yang Maha Suci) yg memiliki sifat, nama dan perbuatan “Kami”. Dari “Kami” inilah kemudian muncul “ada” dan “keadaan” lain, yg sifat hakikinya adalah “Tunggal”.
Manusia yg dalam hidupnya di alam kematian dunia ini disebut sebagai khalifatullah (wakil Allah=pecahan ketunggalan Allah), dan kemudian ia harus berwadah dalam bentuk jisim (jasmani) ia harus menyandang gelar “kawula”, sebab jasad harus melakukan aktivitas untuk memelihara jasadnya dari kerusakan dan untuk menunda kematian yg disebut "ngibadah” kepada yg menyediakan raga (Gusti). Maka kawula hanya memiliki satu tempat kembali, yakni Allah, sebagai asalnya. Maka manusia tidak boleh terjebak dalam wadah yg hanya berfungsi sementara sebagai “wadah” Roh Ilahi. Justru Roh Ilahi inilah yg harus dijaga guna menuju ketunggalan kembali (Manunggaling Kawula Gusti).
Ajaran ini banyak ditentang karena Tuhan dan manusia adalah hal yang berbeda. Tuhan yang mencipta sedangkan manusia yang diciptakan. Jadi antara yang menciptakan dan yang diciptakan tidak bisa bersatu.
Kalo logikanya orang awam : manusia menciptakan mobil ya brarti mobil dan manusia memang berbeda. Manusia mengambil bahan baku untuk membuat mobil diluar dirinya. nah kalau Tuhan menciptakan manusia. Apakah ia juga mengambil bahan baku diluar diri-Nya?
Ada beberapa martir sufi yang mengakui ajaran ini misalnya Syeh Siti Jenar dgn slogannya "Tiada Tuhan Melainkan Aku". Atau Al Hallaj yang mengatakan "Ana Al Haqq". Bahkan ada hadist nabi yang menceritakan bahwa nabi Muhammad sendiri pernah mengatakan "Ana Ahmad bi la mim" (Ahad) artinya ya Nabi seakan-akan bilang dirinya Tuhan. istilah2 tersebut jelas menandakan bahwa Tuhan ada di dalam diri mereka. Bahkan di Quran pun dikatakan bahwa Allah itu lebih dekat daripada urat leher kita. (tulis alqur’an).
Bagi mereka yang mampu melakukan zikir hingga mencapai tahan "fana" maka biasanya ia akan mengalami "mahzub". Namun mahzub tidak mesti dalam keadaan fana. Mahzub bisa terjadi dalam keadaan sadar. Manusia yang mengalami mahzub biasanya akan mengatakan "Subhani" (Maha Suci Aku) dan istilah2 lain yang "meniadakan" dirinya sendiri sehingga memunculkan Tuhan dalam dirinya.
Ajaran MKG mengajarkan bahwa ada 3 unsur yang menyatu yaitu :
1. Sukma Kawekas (Nur Illahi)
2. Sukma Sejati (Nur Muhammad)
3. Nur Insan

C.    Konsep Pendidikan Syekh Siti Jenar  
Istilah pendidikan bagi Syekh Siti Jenar tak akan terlepas dari kata budi pekerti atau adab. Sebelum membahas konsep pendidikan itu sendiri, peneliti memulai tentang pendapat-pendapatnya tentang pendidik, peserta didik serta tujuan pendidikan.
1.    Pendidik (Guru)
Manusia tidak hidup diatas realita tapi hidup diatas opini “pendapat”. Orang tua mengajar dan mendidik anaknya berdasarkan pandangan yang dia terima dari orang-orang yang berpengaruh di lingkungannya.
Syekh Siti Jenar tidak memperlakukan orang dewasa seperti anak-anak. Dia tidak mencari murid, tetapi orang-orang ingin menjadi muridnya. Orang yang betul-betul ingin tahu harus diberi tahu apa adanya. Tidak boleh dibohongi. Orang harus dituntun untuk mendapatkan jalan hidup. Cara-cara yang digunakan untuk mengajari orang Arab yang masih jahiliyah, ditinggalkan oleh Syekh Siti Jenar.
Induk kucing mengajak anak-anak bercanda, di tengah candanya itu sang induk pura-pura menangkap lawannya dan dan menggondolnya. Hanya dalam waktu relatif singkat anak-anak kucing itu mampu bertindak seperti induknya. Tetapi manusia? Justru kebanyakan orangtua tidak mampu meningkatkan kepandaian anaknya secara langsung. Biasanya orangtua mempercayakan pendidikan itu kepada orang lain yang disebut “guru”.
Rasanya pernyataan di atas memang tidak bisa dipungkiri, orang tua yang sibuk bekerja menjadikan interaksi dengan anak-anaknya sangat berkurang, sehingga guru yang meningkatkan kecerdasan afektif, psikomotorik dan kognitif adalah orang-orang yang bukan dari orang tua.
Selanjutnya Ahmad Chodjim juga menjelaskan bahwasanya ada 4 macam guru dalam konsep Jawa, yaitu:
a)      Guru ujud, seorang yang pekerjaannya sebagai guru. Ia bisa berupa guru formal seperti guru di sekolah-sekolah. Atau guru nonformal seperti guru silat, guru ngaji, guru agama di sekitar rumah kita, dan lain-lain keahlian. Guru ujud mengajarkan pendapat dan ketrampilan yang sudah berlaku umum.
b)      Guru pituduh atau guru petunjuk, fungsi guru ini memberikan petunjuk kepada murid-muridnya bagaimana ia harus menempuh hidup ini. Ia harus mengenal bakat dan potensi anak didiknya.
c)      Guru sejati, guru yang memahami hakikat hidup. Guru ini mampu mengajar murid-muridnya untuk merasakan dan mempraktikkan sendiri dalam menempuh jalan hidup. Guru ini mengetahui dan dapat mengajarkan cara menempuh kematian yang sempurna, kalepasan. Sebuah kematian berdasarkan iradatnya sendiri. Kematian yang tidak dikarenakan bunuh diri. Tetapi berdasarkan kemampuan menutup pintu kematian di dunia ini. Inilah yang dimiliki murid-murid Siti Jenar.
d)     Guru purwa, urutan guru yang tertinggi. Ia merupakan manifestasi tuhan. Dia mengetahui kodrat dan iradatnya sendiri. Seperti yang dikabarkan oleh sebuah hadist, bila tuhan telah mencintai hambanya maka dia sebagai penglihatan, pendengaran, tangan dan kaki hambanya. Jika dia mohon perlindungan, maka dia dilindungi-Nya. Siti Jenar adalah guru purwa, dia bisa menghendaki dirinya mati dengan cara berdzikir. Ketika dia mati, baunya harum bak seribu bunga. Mayatnya mengeluarkan cahaya yang lebih tenang dari bulan purnama.
Pendidikan sekarang banyak diajarkan oleh pendidik yang ujud saja, sehingga bukan bersifat “haqqu al-yaqin”, berdasarkan kenyataan. Banyak orang yang hafal secara teoritis tapi tidak mengerti praktiknya.
Dari sini, peneliti menyimpulkan bahwasanya guru bagi Syekh Siti Jenar adalah guru sejati yaitu sebagaimana yang diterangkan guru purwa.
2.    Arti Peserta didik
Dalam Serat Syekh Siti Jenar  yang dikisahkan oleh Arjawijaya, disebutkan:
Sejati jatining ngelmu
Lungguhe cipta pribadi
Pustining pangestinira
Gineleng dadya sawiji
Wijangin ngelmu dytmika
Neng kahanan eneng-ening[55]

Artinya: Ilmu sejati menurut beliau adalah ilmu yang sebenarnya, berada pada cipta pribadi. Kreasi yang tumbuh dari  dalam diri. Bukan yang kita terima dari orang lain. Yang kita dapat melalui indra, melalui pengajaran, itu hanyalah refleksi ilmu.

Untuk mendapatkan ilmu sejati manusia harus sunyi dari pamrih. Harus bening pikirannya. Bebas dari kekelutan dan kecemburuan. Bebas dari kekalutan dan kecemburuan, bebas dari dari kedengkian kalbu betul-betul diam., tak ada gemerisik. Hati dan pikiran menjadi satu sehingga tak ada konflik batin. Mak, dalam kondisi yang sepi dan tenang ini mengalirkan ilmu dari kedalaman pribadi. Mengetahui kenyataan, pancaindra tak berfungsi. Mengetahui bukan karena kata orang lain. Bukan karena membaca buku-buku.
Tapi beliau tidak mengharamkan membaca buku, Achmad Chodjim juga menjelaskan membaca buku-buku itu tetap harus karena sebagai penjelas atau jalan untuk memahami ilmu tersebut.
Jadi peserta didik yang telah dikonsep oleh beliau harus:
a)     Mengendalikan hawa nafsu
b)    Olah rasa dan olah nalar
c)     Sungguh-sungguh dan kukuh
d)    Tekad dan pekerti yang mengalahkana hawa nafsu
e)     Sunyi dari pamrih
f)     Bebas dari kecemburuan dan kedengkian.
3.    Tujuan Pendidikan
Dalam kultur Jawa tidak menyebutkan kata-kata pendidikan tapi ngelmu yang artinya ilmu itu dapat dicapai dengan tindakan olah rasa “menghayati”, olah nalar “berfikir jernih”, dan olah kabisan “mengasah ketrampilan”, disertai kesungguhan hati dan pengendalian hawa nafsu.
Ngelmu berarti mengetahui kenyataan. Jadi, berilmu bukan sekedar mengetahui tapi dapat juga mengaplikasikannya. Ada wujudnya, ia harus bebas dari indra. Ingat indra bisa menipu kita, ada kenyataan yang tak dapat diketahui oleh indra, yaitu hidup sejati. Karena hanya mengandalkan indranya maka manusia tidak mampu melihat kenyataan yang akan terjadi.
Dalam bukunya Achmad Chodjim dijelaskan bahwasanya tujuan pendidikan yang ditawarkan Syekh Siti Jenar adalah menjadi manusia sejati. Manusia sejati adalah manusia yang berkehendak, berbudi luhur, beramal saleh, bukan karena diiming-imingi surga oleh orang lain. Juga bukan karena ditakut-takuti neraka. Semua tumbuh dari iradatnya.
Menurut Agus Sunyoto dalam dialognya Inti tujuan pendidikan Syekh Siti jenar adalah menciptakan siswa yang beriman, berakhlah dan berbudi luhur, sehingga menjadi manusia yang membrikan manfaat bagi orang lain “anfa’uhum linnas”.
Kemampuan jiwa untuk menerima ilham atau jalan yang baik dan yang buruk dalam tatanan kehidupan ini. Dan, kemanusiaan mulai matang setelah sang pribadi mempunyai sandangan kehormatan yaitu nafs al-muthmainnah. Jiwa yang tenang. Pada jiwa ini aspek rasio dapat berkembang optimal. pada jiwa ini manusia dapat melangkah ke tangga yang lebih tinggi untuk menjadi insan kamil. Manusia sempurna. Manusia yang mulai arif menggunakan akal budinya.
Dalam hidupnya beliau mendidik orang untuk dapat mengetahui yang maha kuasa, dan mengethui letak pintu-pintu kematian. Yang maha kuasa dan pintu-pintu kematian adalah kenyataan. Nah, pribadi yang sejati adalah pribadi yang dapat mewujudkan kodrat, iradat dan ilmunya.


[1] Hasanu Simon, Misteri Syekh Siti Jenar (Yogyakarta; Pustaka Belajar, 2005), hlm. 364
[3] Rachimsyah, Biografi dan Legenda Walisanga (Surabaya; Penerbit Indah, 1997), hlm. 211-212
[4] Ibid, hlm. 211-212.
[5] Abdul Munir Mulkhan, loc, it, hlm. 3-4.
[6] Ibid, hlm. 62-63
[7] Widji Saksono, Mengislamkan Tanah Jawa; Telaah atas Metode Dakwah Walisongo (Bandung; Mizan), hlm. 49-50
[8] Uka Tjandrasasmita, Pertumbuhan Dan Perkembangan Kota-Kota Muslim Di Indonesia  (Menara Kudus, 2000), hlm. 34.
[9] Purwadi, Babad Tanah Jawi: Menelusuri Jejak Konflik (Yogyakarta: pustaka alif, 2001), hlm. 37
[10] Hasanu Simon, hlm. 367
[11] Agus Sunyoto, Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar  (Yogyakarta: Pustaka Sastra, 2006), hlm. 289
[12] Ibid, hlm. 290-291
[13] Ragil Pamungkas, Teka Teki Walisongo dan 7 Kesalahan Syekh Siti Jenar (Yogyakarta: Narasi, 2008), hlm. 91
[14] Ibid, hlm. 91
[15] Ibid, hlm. 301-302
[16] Abdul Munir Mulkhan 1999, 114-115
[17] Widji Saksono 1995, hlm. 61
[18] Hasanu Simon, 408
[19] Abdul Munir Mulkhan, 1999, 116-130
[20] Abdul Munir, 1999, 97-98
[21] Hasanu Simon, 415
[22] http://www.facebook.com/agus.sunyoto1#!/agus.sunyoto1/posts/1931317007238, Agus Sunyoto 06 Maret jam 23:30. Diakses 09032011,
[23] Agus Wahyudi, Ma’rifat Syekh Siti Jenar: Makna Bahagia Sejati (Yogyakarta: Lingkaran, 2007), hlm. 6
[24] Ragil Pamungkas, hlm. 129-137
[25] Ibid, hlm. 7
[26] Op, It, hal. 385.
[27] Gatra, Walisongo, Syiar Panjang Tanpa Pedang, Edisi Khusus, hal. 74.
[28] Op, it, hal. 388
[29] Ibid, hal. 389
[30] Abdul Munir Mulkhan, loc, it. hal. 74-75.
[31] Ririn Sofwan, H. Wasit, H. Mundiri, Islamisasi di Jawa, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000. hal. 210.
[32] Ibid. hal. 72 .
[33] OP, It. hal. 29.
[34] Ibid, hal. 292.
[35] Abdul munir mulkhan, lop, It. hal. 9-10.
[36] Lebe lontang pada hakekatnya merupakan praktik upacara agama budha sekte Bhairawa, yaitu budhisme yang mengalami sinkretasi dengan unsur-unsur Indonesia asli, Jawa dan Cina sehingga menjadi tantrayana atau saktayana. Bermula dari paham dan praktik keagamaan, dimodifikasi dan diberi label serta kedok Islam lengkap dengan pengucapan lafal Arab, terciptalah upacara ibadah, kaidah moral dan syariat yang bersifat amoral, anakhis dan zindiq. Tatanan tersebut oleh Lebe Lontang dinamakan dzikir ojrat ripangi, yang isinya memfitnah dan sangat melecehkan Islam.
[37] Widji Saksono, Loc, it, hal. 46-47
[38] Ibid, hal. 66
[39] Abdul Munir Mulkhan, Lop,it, hal. 7

[40] Ahmad Chodjim, hlm, 80
[41] Agus Sunyoto, Suluk Sungsang, hlm. 313-314
[42] http://indonesia.faithfreedom.org/forum/syekh-siti-jenar-t34838/, Wed Sep 02, 2009 7:54 pm.oleh, lemah abang
[43] Ibid, http://indonesia.faithfreedom.org/forum/syekh-siti-jenar-t34838/, Wed Sep 02, 2009 7:54 pm.oleh, lemah abang
[44] Muhammad Solikhin, Ajaran Ma’rifat Syekh Siti Jenar: Panduan menuju kemenyatuan dengan Allah, refleksi, dan penghayatan Syekh Siti Jenar (Jakarta: PT Buku Kita, 2007), hlm. 121
[45] Ibid, 122
[46] Ibid, 137
[47] Soesilo, hlm. 98
[48] P.J. Zoemulder, Manunggaling Kawulo Gusti: Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1991), hlm. 128
[49] Agus Wahyudi, hlm.7
[50] Abdurrahman Abdul Khaliq dan Ihsam Ilahi Zhahir, Pemikiran Sufismr: Di Bawah Bayang-Bayang Fatamorgana (Jakarta: Amzah, 2001), hlm.23
[51] Soesilo, Ajaran Kejawen: Filosofi dan perilaku (Jakarta: Yusula, 2002), hlm. 96-97
[52] Ibid, hlm. 97
[53] Haryanto, Bayang-Bayang Adiluhung: filsafat Simbolik dan Mistik dalam Wayang (Semarang: Dahara Priza, 1992)_
[54] Abdul Munir Mulkhan, Pewarisan Ajaran Syekh Siti Jenar: Pembuka Pintu Makrifat (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2003), hlm. 218-219
[55] Achmad Chodjim, hlm. 120