KONDISI SOSIAL NUSANTARA SEBELUM ISLAM MASUK

 KONDISI NUSANTARA SEBELUM MASUKNYA ISLAM



  Pembahasan materi sejarah Islam di Indonesia difokuskan kepada empat hal:
  • Kondisi Sosial 
  • Tentang waktu, kapan mulai masuknya Islam ke wilayah-wilayah nusantara\
  • Persoalan pembawa dan daerah asal sekaligus tentang corak Agama Islam 
  • Saluran dan cara Islamisasi di Indonesia

Namun, pada tulisan ini kami akan menjelaskan tentang kondisi Sosial Nusantara yang terbagi menjadi 3 kondisi, yaitu: Kondisi social politik, ekonomi dan budaya.

A.   Kondisi Sosial Politik

Dalam pembahasan ini, paling tidak ada 3 sample kerajaan yang akan mewakili corak politik nusantara, yaitu:

1.     Kerajaan Sriwijaya (corak budha)

Pada abad ke-7 sampai dengan abad ke-12, Sriwijaya mengalami masa kejayaan, baik dalam bidang politik maupun ekonomi. Kejayaan yang dialami Sriwijaya sangat ditentukan oleh letak dari kerajaan Sriwijaya sebagai kerajaan maritim. Sriwijaya merupakan bagian dari jalur perdagangan internasional.

Sebagai pelabuhan, pusat perdagangan, dan pusat kekuasaan, Sriwijaya menguasai pelayaran dan perdagangan di bagian barat Indonesia. Sebagian dari Semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatra Utara, Selat Sunda yang kesemuanya masuk lingkungan kekuasaan Sriwijaya. Sriwijaya sebagai pusat perdagangan dikunjungi oleh pedagang dari Parsi, Arab dan Cina yang memperdagangkan barang-barang dari negerinya atau negeri yang dilaluinya, sedangkan pedagang Jawa membelinya dan menjual rempah-rempah.

Akhir abad 12 M, SRiwijaya mulai Nampak kemunduruan, hal ini karena pengaruh politik di Asia Barat dan tengah yang bergolak, juga termasuk tingginya bea masuk pelabuhan, sedangkan bea masuk pelabuhan merupakan sumber vital bagi perekonomian kerajaan Sriwijaya di Sumatra. Di tengah lesunya Sriwijaya ini terjadi ekspedisi pamalayu dari SIngasari ke daerah Sumatra, selain itu daerah-daerah di bawah Sriwijaya ingin melepaskan diri.

Abad ke-13, Sriwijaya menunjukkan tanda-tanda kemunduran. Kekayaan alamnya sudah tidak lagi menghasilkan dan kalah dengan pulau Jawa. Untuk menyiasati hal ini, Sriwijaya menerapkan bea cukai yang mahal bagi kapal-kapal yang berlabuh. Tindakan Sriwijaya tersebut ternyata tidak memberikan keuntungan bagi kerajaan. Sebaliknya, kapal-kapal asing mencoba menghindar untuk berlabuh.

Kemunduran Sriwijaya diperparah dengan serangan Kerajaan Singasari dari Jawa melalui ekspedisi Pamalayu.Melalui Pekspedisi tersebut, supremasi Kerajaan Singasari dapat ditancapkan di bekas wilayah Sriwijaya di Sumatra. Setelah Singasari berkuasa, kemudian muncullah Majapahit sebagai kerajaan yang memiliki kekuatan dan pengaruh lebih besar. Kemunculan Majapahit ini semakin memperlemah kedudukan Sriwijaya. Majapahit pernah tampil sebagai supremasi kekuasaan di wilayah Indonesia setelah Sriwijaya runtuh.

2.     Kerajaan Majapahit (corah hindu)

Kerajaan Majapahit terletak di wilayah Jawa Timut. Kerajaan ini merupakan kelanjutan dari kerajaan Singasari di Malang-Jawa Timur. Kejayaan Kerajaan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk beserta patihnya yang terkenal, yaitu Gajah Mada. Dengan Sumpah Palapa, Gajah Mada melakukan perluasan wilayah secara luar biasa yaitu wilayah nusantara yang samai ke Malaya dan Philipina. Kerajaan ini didirikan pada tahun 1293 M oleh Raden Wijaya, menantu terakhir raja Singasari dan tenggelam pada tahun 1522 M sebab masalah intern.

Sebenarnya embrio dari kekacauan politik kerajaan Majapahit sudah ada sejak kerajaan mulai dibangun, karena Raden Wijaya tidak memiliki putra mahkota dari istri yang sah dinikahinya, namun anak laki-lakinya yang bernama Raden Jayanegara diperoleh dari istrinya ketika ekspedisi pamalayu. Kemudian raden Jayanegara ini menggantikan kedudukan ayahnya.

Di pemerintahan raden Jayanegara penuh dengan pemberontakan, sehingga beliau meninggal pada usia yang masih sangat muda, kemudian kedudukan raja diberikan kepada puteri Raden Wijaya dari istri sahnya yaitu Tribuwanattunggadewi. Meskipun masa ini banyak pemberontakan, namun dengan adanya patih Gajah Mada, pemerintahan beliau bisa terkondisikan. Kemudian tahta kerajaan selanjutnya dipegang oleh Hayam Wuruk, putra Tribuwanattunggadewi yang ternyata memiliki legitimasi internasional ketika tampil duet pimpinan dengan ibunya serta Patih Gajah Mada.

Kemudian lagi-lagi Majapahit memiliki permasalahan internal, yaitu Hayam wuruk tidak memiliki anak laki-laki dari permasisurinya dan anak laki-lakinya yang bernama Wirabumi lahir dari selirnya. Akhirnya Hayam Wuruk membagi kekuasaan kerajaan pusat diberikan kepada putrinya Kusumawardani dan majapahit wilayah Timur diberikan kepada Wirabumi.

Selanjutnya Kusumawardani yang menikah dengan Wikrawardhana tidak memiliki anak satupun, namun tahta selanjutnya diberikan kepada Suhita (anak Wikramawardana dengan saudara sepupunya), hal ini membuat Wirahbumi tidak terima sebab Suhita bukan dari nasab Hayam Wuruk, ia ingin mengambil kekuasaan dari Suhita, konflik ini menimbulkan perang saudara yang dinamakan perang PAREGREK.

Perang ini yang menimbulkan dampak negative ke Majapahit. mengalami kemunduran yang lebih banyak disebabkan oleh adanya konflik internal. Pada tahun 1478, Majapahit mengalami keruntuhan.

3.     Kerajaan Dhaha (corak hindu)

Dhaha berlokasi di Banjar, Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh raja bijaksana Raja Sukarama. Dengan adanaya kerajaan di Banjar, hubungan antar pulau semakin intensif, bukan hanya soal ekonomi namun juga politik. Kemudian setelah raja meninggal digantikanlah oleh anaknya Pangeran Mangkubumi sebagai anak tertua. Meskipun sebelum meninggal Raja Sukarama berwasiat yang akan menggantikannya adalah cucunya Raden Samudra. Namun keadaan ini tidak lazim menurut ketiga anak raha Sukarama, sehingga raden Samudra lari karena tidak nyaman dengan perebutan kekuasaan, dalam pelariannya inilah ia mengumpulkan masa dan kekuatan untuk merebut kekuasaan yang diwasiatan oleh kakeknya. Selain itu Raden Samudra minta bantuan ke kerajaan demak dan dibantulah oleh kerjaan Demak dengan syarat raden Samudra masuk Islam. Setelah berhasil maka kemudian Dhaha menjadi kerajaan Islam pertama kali di Kalimantan dan raden Samudra bergelar sultan Suryanullah, hal ini terjadi kira2 tahun 1550 M.

B.    Kondisi Sosial Ekonomi

Secara ekonomis Indonesia memiliki gabungan dari berbgai potensi, diantaranya:
  • Letak geografis nusantara yang berada ditengah-tengah lalu lintas jalur perdagangan laut dunia 
  • Wilayah maritime yang memiliki biota laut melimpah 
  • Memiliki pulau-pulau subur yang menghasilkan berbagai komoditas dan keperluan hajat hidup orang banyak 
  • Memiliki hutan yang luas dengan berbagai hasil yang potensial


C.    Kondisi Sosial Budaya

Sebelum kedatangan Islam di wilayah Nusantara, peradaban yang pernah muncul dan mampu membangun suatu struktur masyarakat yang mapan yaitu Hindu-Buddha. Peradaban Hindu-Buddha sangat berpengaruh pada pembentukan struktur masyarakat di Nusantara. Masyarakat yang dibentuk dalam peradaban ini adalah masyarakat yang memiliki struktur hierarkis.

Dalam masyarakat seperti ini, terdapat lapisan-lapisan sosial yang sangat ketat. Masyarakat terbagi atas kasta yaitu kasta Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Hubungan antarkasta ini bersifat vertikal yang sempit, artinya interaksi antarindividu hanya terjadi pada kelompok kastanya sendiri. Sebagai contoh seorang kasta Ksatria tidak bisa menikah dengan seseorang yang berasal dari Kasta Waisya.

Dalam konsepsi Hindu-Buddha, hubungan antara manusia dan jagad raya bagaikan hubungan kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos. Manusia adalah mikrokosmos dan jagad raya adalah makrokosmos. Menurut kepercayaan ini, manusia senantiasa berada di bawah pengaruh tenaga-tenaga yang bersumber pada penjuru mata angin, bintang-bintang dan planet-planet.

Tenaga-tenaga ini mungkin menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan atau berakibat kehancuran. Terjadinya kesejahteraan atau kehancuran tergantung pada dapat tidaknya individu-individu dan kelompok-kelompok masyarakat terutama sekali negara, berhasil menyelaraskan kehidupan dan kegiatan mereka dengan jagad raya. Keselarasan antara kerajaan dan jagad raya dapat dicapai dengan menyusun kerajaan itu sebagai gambaran sebuah jagad raya dalam bentuk kecil.

Penguasa makrokosmos adalah Dewa, sedangkan penguasa mikrokosmos adalah raja, sehingga lahirlah konsep dewa-raja. Raja adalah wakil dewa di muka bumi. Kedudukan raja dianggap sebagai titisan (inkarnasi) dari dewa atau sebagai keturunan, atau sebagai kedua-duanya, baik sebagai penitisan maupun keturunan dewa.

Raja memiliki kedudukan yang sangat sentral. Hubungan antara raja dengan rakyat membentuk struktur yang patrimonial. Dalam hubungan ini tercipta hubungan kawula dan gusti. Rakyat lebih banyak melakukan kewajibannya. Pemikiran konsep ini tidak memungkinkan adanya suatu bentuk perjanjian sosial (social contract) atau konsep mengenai kewajiban-kewajiban timbal balik antara atasan dan bawahan

 
Kuis:

1. Urutkan Raja2 Majapahit 1-4?

2. Kenapa Bangsa Barat mengincar Nusantara untuk wilayah ekspansi?

3. jelaskan secara singkat sosial agama sebelum Islam masuk ke nusantara?

4. Sebutkan tradisi yang diakulturasi oleh Hindu Budha?



Terimakasih
 

logoblog
Previous
« Prev Post