KETIKA MASJID MENJADI ANGKER UNTUK ANAK MILINEAL

KETIKA MASJID MENJADI ANGKER
UNTUK KAUM MILINEAL


Catatan perjalanan

Halo guys, kali ini aku akan bercerita pengalamanku selama berkunjung ke beberapa makam yang dianggap memiliki sejarah atas kemerdekaan dan Islamisasi di Indonesia. Saat pekerjaan padat dan sangat lelah, kemudian hidup gini-gini aja, aku memutuskan untuk traveling religius mendatangi makam para pendahulu lalu melakukan ibadah di masjid samping makam. Sebagai orang yang hobi jalan, tentu aku membawa barang serba simple, sesuatu yang bisa tercover menjadi satu maka tidak perlu membawa barang terlalu banyak. Contohnya, ketika hendak mengaji AlQuran aku bisa membacanya melalui hp Android, seperti siang itu di masjid sebelum berjamaag shalat Duhur saya membaca Al QUran lewat ponsel, baru dapat surat Yasin ada nenek-nenek sekitar 65 tahunan tiba-tiba menggerutu dibelakangku kasar dan keras dengan bahasa Jawa Ngoko, artinya:

"Anak zaman sekarang memang tidak bisa lepas dari HP, dikit-dikit HP, HP dimatikan dung saat mau shalat, kayak tidak ada waktu main HP,"

Aku berusaha memaklumi namun hatiku belum ikhlas, diam saja dan menutup hp, karena tidak mungkin juga aku memberikan penjelasan dan konfirmasi, biasanya juga gak akan di dengar. hehehehhe.

Mungkin mengingatkan itu baik, tapi jangan dengan bahasa kasar dan keras, apalagi ada orng lain selain kita berdua, sebab malu adalah perkara yang susah dilupakan. kejadian ini terjadi di Masjid makam Jawa Timur. Dengan tipe orang yang mudah trauma, tentu saja saya berhati2 dikemudian hari kalau masuk di masjid-masjid Jawa Timur. Apalagi yang sering jamaah ke masjid adalah orng-orang tua yang mungkin dizamannya belum ada AlQuran dalam Android dan kebetulan di masa sekrang mereka tidak memiliki untuk mengikuti perkembangan.

Selanjutnya,

Aku pikir model masjid yang didatangi kaum dewasa dan lebih banyak ke yang tua hanya di Jawa Timur, ternyata di tempat lain mirip-miriplah. Masih dalam suasana yang tidak jauh berbeda dengan keadaan diatas, namun waktu yang berbeda. Aku mendatangi tempat sejarah di Yogyakarta, sowan dan jalan-jalan. Saat itu aku bersama teman, saat Magrib datang, temanku bilang "aku gak mau shalat disini, imamnya lama sekali dan sudah sangat tua". sebagai yang sama-sama datang, aku lebih memiliki menghargai pendapatnya, tentu saja aku tidak bisa maksa dia untuk jamaah, meski jamaah pahalanya lebih banyak dibanding shalat sendiri. akhirnya aku putuskan untuk mengambil motor di parkiran.

Eitss... betapa malunya aku, ketika ada pengurus masjid mendatangi dan menghentikan motorku "Disini kalau waktu shalat tidak bisa keluar masjid, itu aturannya". Hmmm aku celingak celinguk, karena temanku menunggu diluar dan mencoba mencari informasi siapa tahu aku belum baca, tapi gak ada aturan itu tertulis. Akhirnya aku menunggu sampai shalat selesai dan aku memiliki shalat di masjid lain yang tak jauh dari situ.

Lagi-lagi aturan emang baik, untuk menertibkan, tapi paling tidak kasih info yang jelas, toh dana tarikan orng masuk tidak sedikit. Jangan sampai, membuat malu orang lain, sebab malu itu sembuhnya lama, selain itu ini adalah kota yang terkenal budaya dan toleransi, tidak elok kalau ada kenangan "memaksakan ibdadah" ke orang lain. Shalat memang wajib, tapi jamaah tidak wajib, ada hukum untuk laki-laki dan perempuan.

Dengan gaya khas para orang tua yang rajin jamaah dan mungkin terbesit dalam hatinya bahwa dia yang masuk surga dan lainnya jika tidak seperti dia akan masuk neraka sehingga mudah memaki-maki tanpa jelas kepada orang lain, tidak mau intropeksi dan merasa paling benar. Kemudian, aturan tidak tertulis yang ada di lingkup wisata, kadang ada orang yang tidak tahu, mungkin lebih di fisikkan aturannya, sehingga masjid tdak dianggp angker dan menakutkan. ketika masjid menjadi tempat bersandar untuk menemui Tuhannya, bukankah orang-orangnya harus lebih sabar, lebih tawadu', lebih rendah hati dan menyayangi.....

Apalah fungsi agama, jika penganutnya merasa paling suci dan benar diantara yang lain? jika penganutnya tidak memiliki kasih sayang kepada sesama? jika penganutnya arogan?

 

 

logoblog
Previous
« Prev Post