Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

PEREMPUAN YANG MENCINTAI

 


PEREMPUAN YANG MENCINTAI

 

 

Tiiiiiiitttt….tiiiiiitt……tiiiiiit….

 

Pukul 04.00 WIB Jam digital led weker berbunyi lebih keras dari hari-hari sebelumnya, suaranya menggema di ruangan 4x6 meter yang mayoritas memiliki unsur kayu mulai lantai hingga furniture utamanya serta penataan warna putih menjadikan tampak netral dan indah. Jam digital it uterus saja berbunyi hingga tangannya tergopoh-gopoh keluar dari bad cover untuk menekan tombol “off”, lalu senyap kembali.

Beberapa menit kemudian, suara pintu dikethuk berulang kali, namun kamar itu masih gelap, belum ada tanda-tanda si empunya bangun. Hingga kethukan dari luar semakin keras, Alea si dengan malas dan setengah marah melangkah menuju pintu. Kreeek…..pintu bergeser.

            “Ada masalah apa?,” tanyanya ketika ia berhadapan dengan perempuan seusianya yang dengan cengengesan menjitak kepalanya.

            “Woy bangun Al, katanya mau jogging di Embung Tambakbayan, tadi malam kau sendiri yang minta kita bangunin,” katanya kemudian memberikan segelas air hangat.

            “Thanks, Eh… jam berapa sekarang?,” matanya langsung menyala, lalu ia masuk ke dalam kamar terburu-buru sambil melihat handponnya, ia mengeluarkan nafas beratnya ketika taka da WA ataupun panggilan dari orang yang ditunggu-tunggu 3 tahun terakhir ini. Beberapa menit kemudian ia berbaur keluar kamar sembari minum segelas air hangat tadi.

            “Hmmm…untung masih jam 04.15 WIB, eh kalian belum tidur?,” tanyanya saat ia menyadari posisi ke dua temannya masih sama dengan waktu ia berpemitan untuk tidur duluan.

            “Belum, besok harus segera kita setor ke pembimbing ni,” kata Rere si anak matematika yang rajin banget di rumah.

            “Kita baru buat sarapan, kau makan dulu sebelum berangkat, pingsan nanti, mana gak pernah jogging outdoor gitu, jangan lupa pake AUTAN juga, siapa tahu banyak nyamuk di luar,” sahut Nay, anak Teknologi Pendidikan yang hobi masak dan olahraga, dia juga teman paling care ke Alea yang sering kali teledor.

            Hmmm… Alea melangkah ke ruang makan dan benar ia mendapati kentang yang masih hangat diatas meja, lalu daging panggang dan salad sayuran. “Kalian udah makan?,” tanya Alea dari meja makan.

            “Belum, masih panas itu, kamu mandi dulu sana, biar gak buru-buru, lagian lokasinya kamu gak tahu lo, pertemuan pertama yang kedua kali, jangan sampai ngecewain,” kata Nay. Di tahun 2017 Alea pernah sukses membuat pertemuan perdananya dengan cow yang selalu ia idamkan berantakan, gara-gara ada teman S1 nya tiba-tiba datang dari Surabaya dan langsung menemui Alea. Sehingga kesalahpahaman itu membuat cow itu memblokir kontak Alea, hingga wakil bupati dimana si cow itu berasal menelfonnya dan menunjukkan profil Alea, untung saja cow itu sekarang single, meski ia telah melewati PDKT, jadian dan putus d. Memang dunia itu kadang aneh, manusia disuruh putar-putar dulu, lalu dipertemukan lagi, sehingga apa-apa yang sudah jadi takdirnya tak akan pernah salah ke orang lain.

            Beberapa detik kemudian Alea membawa kentang sambil masuk ke kamarnya, ia berniat membawanya, sebab ia tidak terbiasa makan pagi. Lalu ia mandi, shalat dan berberes, hingga handponnya berbunyi, tanda WA masuk pada iphonya

“Salam, hai… sudah bangun?,”

“Salam, hai… sudah (emot tersenyum),”

“Setelah jogging ada kegiatan tidak?,” tanya laki-laki diseberang sana, yang sebenarnya weekend ini ada rapat untuk pembukaan cabang selanjutnya, lalu mengecek laporan bulanan karyawan dan tentunya ia akan lihat gudang. Namun, ini adalah pertemuan yang tidak setiap hari, ia telah berdosa 3 tahun lalu, tanpa menanyakan alasan dan mendengarkan penjelasannya-ia memblokir kontanya, bahkan saat itu ia benar-benar tidak tahu siapa “cewek” yang ia temui, temannyapun tidak memberikan profil, maka ia mengira seorang play girl yang hobi hura-hura.

“Enggak ada, free hari ini,” jawab Alea, padahal dia punya jadwal zoom ama mahasiswanya, ada rapat kantor mengenai projek barunya dengan salah satu perusahaan Migas di Kalimantan. Dalam hati, ia meminta maaf atas jadwal-jadwal yang sudah diatur, semoga mereka memaafkan.

“ Apa kau suka gudeg?,” tanya laki-laki diseberang sana bosa basi.

“Suka sekali, cuman kadang aku tidak menemukan gudeg yang nikmat,” kata Alea bosa basi pula, tentu saja dia tahu mana gudeg dengan rating pertama sampai yang fenomenal.

“Aku ingin kau mencicipi gudeg langgananku, siapa tahu kau punya rekomendasi yang lebih enak,” kata laki-laki itu sambil senyum-senyum sendiri.

“Tentu saja, itu ide bagus untuk menikmati weekend ini,”

“heheh thanks, aku jemput kamu saja ya, biar tidak dikira berantem, serloc dung,”

“Sorry, tempat tinggalmu bukanya searah ama Embung?,” tanya Alea keceplosan, ia pura-pura selama 3 tahun ini tidak mengingatnya, meskipun kenyataannya ia selalu pantau apa saja tentangnya. Lagian rumah laki-laki yang sering dipanggil “Arsyad” itu satu komplek perumahan dengan pamannya, bahkan saat Arsyad nge gym di tempat olahraga umum, ia juga disana, memandangnya dari jauh.

“Wah… kau udah tau tempat tinggalku ya?, hahaha,” kata laki-laki itu yang tak bisa menahan tawanya sebab itu surprise ada cewek yang menyukainya sampai mengumpulkan detail informasi tentangnya.

“Iya si Mary pernah cerita soal tempat tinggalmu, kalua tidak keberatan aku saja yang kesana, tapi jika kamu menyukai bolak-balik aku kirim serloc,”

“Ok dengan senang hati, ini adalah pertama kali aku memperbolehkan cewek datang ke tempatku, hati-hati di jalan,” WA Arsyad.

Alea kembali bersiap, karena Arsyad sudah berniat mengajaknya makan pagi, ia tidak jadi membawa kentang, lalu ia berjalan ke parkiran yang berderet 4 mobil, HRV merah, Jazz Metalik, Juke Putih dan Mobilio hitam, kemudian ia menyalakan mesin juke dan memasukkan sepatu, baju ganti, minuman dan tas pribadinya. Setelah semua selesai, ia kembali ke rumah dan berpamitan dengan Nay serta Rere.

“Sukses bro…jangan bikin salah paham lagi, 3 tahun tu lama lo,” kata Nay menggoda dan Rere tertawa melihat muka Alea yang agak malas itu.

 

 

CASAGRANDE, 05;00 WIB

            “Halo mbak, pagi-pagi kali datang, mau kerumah pakde?,” tanya security yang sudah hafal dengannya.

            “Mau jemput Arsyad pak, jangan bilang pakde ya pak,” kata Alea sembari memberikan tips yang sebenarnya memang ia mau kasih ke pak Atman.

            “Wah apa ini, uang tutup mulut,” kata pak Atman menggoda.

            “Hahaha… buat beli permen anak bapak,” kata Alea, lagian mana mungkin security laporan urusan pribadi dan kalaupun mau kasih laporan tidak akan masalah.

            “Siap…makasih mbak,” katanya lalu Alea melanjutkan kerumah Arsyad tanpa melihat serlock yang diberikan, tentu ia sudah sangat hafal rumahnya yang sering kosong karena ditinggal keluar kota. Sesampainya di depan rumahnya, Alea menelfon laki-laki bertubuh tegab itu, “Hay sorry…wait ya, aku keluar,” kata Arsyad sembari terburu-buru keluar rumah. Dan benar 5 menit kemudian Arsyad sudah dibalik pintu depan mobil Alea. Kemudian Alea turun dari kursinya dan mereka saling bersapa, kemudian Alea memberikan kunci ke Arsyad untuk memintanya menyetir.

            “Permisi ya…,” kata Arsyad sambil menerima kunci dari Alea, ia sedikit canggung sebab dulu hanya sempat makan bersama, dan karena banyak teman sehingga tidak fokus, sekrang tiba-tiba semobil berdua.

            Dalam hati Aleapun tak kalah canggung, selama ini ia hanya berani menatapnya dari jauh, melihat social medianya, mengikuti vlognya, tidak lebih, sekarang ia bisa satu mobil, membuatnya berdoa “wahai waktu berjalanlah lambat,”.

            Sesampainya di security, Arsyad sudah bersiap menyapa, sebab tidak mudah masuk ke lingkungan ia tinggal, apalagi Alea baru pertama kali. Namun, sebelum ia menyapa, plang udah dibuka, Arsyad berjalan pelan, ia berniat menyapa pak Atman. Tapi, bapak 50 tahunan itu menyapa duluan, “Selamat jalan mbak Alea, mas Arsyad,” sapaan yang membuat Arsyad terkejud, ia tak habis pikir, why? Alea menanggapinya biasa, ia lupa jika hal ini akan membuat Arsyad bertanya.

            “Al, kau punya rumah di sini, atau…?,” tanya Arsyad tak bisa menyembunyikan penasaran.

            “Hehehe… karena aku ngefans berat kamu, aku kirim mata-mata disini,” jawab Alea yang membuat Arsyad semakin bingung.

            “Ha??? Kau bercanda kan? Apa sebegitunya kau menjadi fans militanku?,” tanya Arsyad lebih canggung dari sebelumnya.

            “Hay aku bercanda, ada rumah pakdeku disini dan tentunya aku sering main,” kata Alea kemudian, ia akan siap dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang diajukan Arsyad, tentu saja jawaban-jawabannya akan memiliki konswekuensi memuakkan atau membuat tersanjung laki-laki itu.

            “Selama ini kau tahu aku tinggal disitu?, kau tidak menyapaku? Mencoba jelasin ke aku misalnya?, atau berusaha lagi mendekatiku,” serentetan pertanyaan yang membuat Alea menghela nafas Panjang.

            “Syad… aku ingin kau bahagia, jadi tak sampai hati membuatmu muak padaku,” kata Alea yang membuat Arsyad semakin merasa bersalah, selama 3 tahun ia gonta ganti cewek, mencari mana yang menurutnya sesuai, yang bisa mencintai dia apa adanya, bukan karena harta yang ia punya. Ternyata, ada perempuan yang setiap saat memandangnya dari jauh dan mendoakan kebahagiannya, waoo… itu luar biasa.

            “Al, maafkan aku 3 tahun lalu, aku merasa bersalah padamu, dan terimakasih, kamu adalah salah satu orang yang menginginkaku bahagia, terimakasih,” kata Arsyad pelan, ia ingin menangis tapi malu, ia begitu tersentuh dengan kata Alea.

            Alea menoleh ke Arsyad, ingin mengusap air matanya tapi tentu saja tak enak, ia menyodorkan tissue “Its okey, sudah berlalu, meski kamu tidak begitu mengenalku, tapi kau perlu tahu aku adalah fansmu, yang mengharapkan kamu bahagia dan baik-baik saja,” kata Alea yang begitu senang melihat Arsyad duduk disampingnya.

            Arsyad tak kuasa menahan harunya, entahlah kata terakhir Alea mengandung bawang, ia melihat sekilas wajah Alea yang putih dengan riasan natural menatapnya sayang. “Al jangan pandangi aku seperti itu,”. Spontan Alea tidak dapat menekan perasaannya, lalu ia kembali membenarkan duduknya menatap lurus kedepan, melihat jalanan ring road utara yang masih sepi. Alea menekan tombol play , lagu jazz yang menjadi play listnya menggema dan mereka menikmati perjalanan dengan bercandaan dan saling bertukar cerita.

            “Alhamdulillah kita sampai, tunggu Al jangan keluar dulu!,” kata Arsyad serius, Alea  terdiam, dia tidak tahu apa yang membuat Arsyad begitu. Kemudian mata Alea tidak bisa lepas dari Arsyad, pandangannya mengikuti setiap gerak Arsyad, ia takut terjadi apa-apa kepadanya. Laki-laki itu cepat turun dari mobil dan berputar lewat belakang mobil, kemudian membukakan pintu Alea. “Silahkan keluar,” kata Arsyad membuat Alea sedikit sebal namun senang.

            “Jangan khawatir begitu, aku tidak apa-apa,” kata Arsyad sembari mengusap kepala Alea. Lalu Arsyad mengajaknya mengelilingi Embung Tambakboyo yang biasanya ia menghabiskan sore di akhir pekannya, bercerita pada langit dan menumpahkan kegalaunnya pada danau. Ia selalu sendirian ketempat ini, meski sebelum-sebelumnya beberapa perempuan datang disisinya, entahlah hanya saja ia merasa cukup sendiri.

            Pagi ini, ada yang berbeda dalam hidup Arsyad, meski banyak hal indah datang padanya, namun lari berdua ternyata sangat membahagiakan, baru kali ini pula ia mampu menyingkirkan pikiran-pikiran beratnya -karyawan, pengembangan produk, perusahaan baru--. Betapa ia menyia-nyiakan waktu 3 tahunnya untuk mencari, padahal ia pernah datang namun ia tak menyadarinya. Bukankah kalua dipikir-pikir lagi, Alea memang perempuan idaman dan kriteria yang diminta pada Tuhan ada padanya. Hmm… pagi jangan cepat berlalu, aku ingin tahu lebih banyak surprise tentangnya.

            Bagi Alea, tentu pagi ini bersejarah, setelah ia hanya bisa berdoa untuk Arsyad, rasanya begitu ringan berjalan dengan orang yang diinginkan, yang selalu dilangitkan setiap waktu, hingga ia merasa jika waktunya berhenti sekrang itu taka da penyesalan dalam hidupnya. Sebab sebelumnya Alea pernah mencoba dekat dengan laki-laki lain, namun rasa dan takdir memng tidak pernah diminta, ia datang kepada jiwa-jiwa yang tenang.

            “Kenapa?,” tanya Arsyad yang menoleh ke belakang, dilihatnya Alea ngos-ngosan dan berkeringat.

            “Syad, teri..maka…sih,” kata Alea terbata-bata.

            “Hei…relax… aku disini, thanks for what?,” tanya Arsyad lagi.

            “Kamu adalah surprise dalam hidupku,” kata Alea yang membuat jantung Arsyad berdetak lebih cepat dari sebelumnya.

            “Kau kenapa selalu membuatku malu, Aku yang harus berterimakasih, thanks Alea sudah mencintaiku sedalam ini,” kata Arsyad kemudian dan Alea menatapnya dengan mata berbinar serta senyum yang mengembang.

            Mereka berlari dengan hati yang berbunga, membuang segala energi negative yang tersimpan, memulai membuka lembaran baru setelah dari masing-masing memiliki pengalaman dan kisah lama. Kemanapun kamu berjalan, jika itu bukan takdirmu maka tak akan kau dapati, tapi jika sesuatu itu adalah takdirmu maka berlari menjauh kemanapun kau akan bertemu dengannya.

 

 

Next..... mau tahu gudeg rekomendasi Arsyad?

 

           

 

 

logoblog

AKHIRNYA HUJAN REDA


 

AKHIRNYA HUJAN REDA

Oleh: Aries Lailiyah

 

Hujan membuatnya jatuh cinta padaku, seandainya aku tahu itu, maka sejak pertama kali hujan di 2015 aku akan mendatanginya.”

 

 

Namaku Akram, tahun ini aku akan melanjutkan studyku ke Kuala Lumpur, namun aku tak akan pergi sebelum aku bertemu dengan cewek yang entah bagaimana, dia selalu ada di daftar pertama ketika aku merasa sedih. Aku merasa tidak mencintainya, tapi aku selalu membayangkan, bahkan memimpikannya. Aku tidak mengaguminya, tetapi aku selalu bangga dengan pencapaian-pencapaiannya. Aku tidak pula merasa dia cantik, tapi standar cewek pilihanku seperti dia. Lantas, aku kenapa?.

            “Minum kopi bersamaku?,” WA ku yang entah keberapa.

            “Kapan ada waktu luang, aku ingin ngobrol denganmu?,” WA ku yang monoton, selalu ngajakin dia bertemu dan jawabannya pun datar. “Sorry, lain kali ya,”. Hmmm… serius bisa gila ku dibuatnya. Setelah kulihat tanggal pertama kali kapan aku mengajaknya bertemu, ternyata hampir 2 tahun aku PDKT tapi gak pernah sampai dan nyatanya aku hanya bisa melihatnya dari jauh atau bertemu dikampus dengan kebetulan-kebetulan yang membuatku terpana, tak pernah bosan.

            “Hei..aku sudah mengajakmu berulang kali, tidak cukupkah dua tahun untukku menunggu?, aku akan ke KL minggu depan, tapi aku ingin bertemu denganmu,” kataku yang sudah kubuang semua rasa maluku, lagian aku sudah tidak memiliki banyak waktu.

            “Ok, Rabu siang,” jawabnya. Aku tersenyum melihat pesan singkatnya, nyatanya dia masih menghargaiku yang sudah bekerja keras untuk sekedar minum kopi bersama. Padahal, untuk mengajak cewek aku tak perlu bersusah payah sampai dua tahun begini. “Thanks Al, dimana aku bisa menjemputmu?,” tanyaku. “Tunggu di kampus, 12.30 WIB ya,” katanya.

            “Yes!!!, thank,” aku merasa sangat bahagia dengan jawabannya. Kemudian kutelfon Memet temenku untuk mengantarkanku ke Centro, aku merasa tidak PD dan membutuhkan make over. “Bro, menurutmu aku beli yang mana?,” tanyaku pada cowok pengarah fashion milineal yang berdiri di sampingku. “Lo mau ngapain? Isi seminar, ngajar mahasiswa atau rapat ama karyawan?,” tanyanya. “Ketemu Alea,” jawabku. “Whatttt??? Gak salah tuh, dia mau juga ketemu ama lo, bro saingan lu berat,” kata Memet bikin suasana gak enak aja. “Apaan lo,” kataku sambil ku pegang hem warna putih dan biru dongker,” kemudian aku jalan ke ruang ganti.

            Memet menunggu di depan pintu ruang ganti. Ketika aku memakai hem biru dia nampak menggeleng, kemudian aku masuk ke ruang ganti lagi dan keluar menggunakan hem putih ia masih menggeleng, kemudian ia menyodorkan sweater coklat muda dengan denim jeans dan sepatu sneakers. “Hmmm, gak terlalu muda ni aku pake ini?,” tanyaku agak keberatan, soalnya udah jarang pake sweater. “Coba aja, dan menurutku kau harus menunjukkan sisi-sisi lembut dan santaimu, biar gak kaku banget,” katanya sembari tangannya mengarahkanku untuk segera masuk keruang ganti.

            “Ok… perfecto,” katanya, dan okelah kali ini aku mengikuti fashion ahli.

            “Lo yakin?,” tanyanya lagi seakan tidak percaya.

            “Ya, kenapa?,” tanyaku balik.

            “Aku tahu Alea orang baik, cuman kalau seleranya seperti kamu, aku masih sangsi, jadi kuharap kau jangan menaruh harapan tinggi padanya,” katanya seakan meremehkanku, tunggu saja nanti.

            “Lo kira, aku buruk banget untuknya, yuk kita hitungan-hitungan, aku dan Alea satara jenjang Pendidikan, cuman dia lebih pintar dan cerdas, muka ya mirip-miriplah, keluarga besar sama-sama memiliki nama, soal penghasilan ini yang aku gak tau,” kataku pada Memet yang mendengarkanku tanpa menyela.

            “Ya… setelah kupikir-pikir, lo ganteng juga,” katanya sembari menjitak kepalaku. “Dasar.”

 

***

 

Rabu, 12: 00 WIB

 

            “Al, aku sudah dikampus, kabarin jika kau sudah selesai,” aku mengirim pesan wa padanya, sedangkan aku sudah menunggu di parkiran depan rektorat yang rindang. Ini memang bukan pertemuan pertama, tapi pertama kali aku keluar berdua dengannya. Sebelumnya, aku hanya berani menatapnya dari jauh, mengamatinya dari sela-sela pertemanan kita secara luas. “Ahgg ini begitu mendebarkan”.

            “Tuk…tuk..,” aku terkaget saat jendela mobilku ada yang mengetuk, lalu aku membenarkan posisi dudukku yang ternyata aku habis ketiduran, aku melihat dibalik kaca yang memanggilku, “Ahggg Alea,” batinku kaget.

            “Sorry Al,” kataku lalu aku turun dari mobil dan bosa basi yang kemudian aku membukakan pintu untuknya. “Terimakasih,” jawabnya.

            Hmmm… benar-benar suasana mobil yang dingin membuatku berkeringat, 5 menit berlalu tanpa ada pembicaraan, aku sangat grogi ada dia di dalam mobilku. “Al kok tahu aku parkir di depan rektorat?,” aku membuka pembicaraan.

            “Ya, tadi aku juga parkir disampingmu,” katanya.

            “Mobilku kan baru, emang kamu tahu dari mana?,”

            “Kemaren kamu jemput si Abul pake ini kan kalua gak salah, dan tadi saat aku lihat beneran kamu, makanya aku ketok, karena kamu gak bangun saat aku telfon,” katanya, ahgg terlanjur PD aku, kukira dia diam-diam perhatian juga sama aku.

            “Heheh…maaf, ketiduran,” kataku.

            “Tidak masalah,” katanya.

            “Kamu suka es krim kan? aku mau ajak kamu ke Gelatto,” kataku, karena aku melihat dari status-statusnya dia sering posting es krim.

            “Apapun, aku akan ikut,” katanya Dugg…. Padahal baginya itu biasa saja.

            Aku sengaja membawa mobil dengan kecepatan rendah, agar waktuku bersamanya tidak cepat berlalu. Karena setelah ini, aku tidak tahu apakah dia mau bersamaku lagi apa tidak? Ya, benar kata Memet, sainganku tidak satu.

            Sesampainya di Gelatto, langit yang awalnya baik-baik saja, mendadak mendung dan menumpahkan hujan begitu deras, "Hmmm...," batinku, kulirik Alea yang mukanya seperti kaget namun ia diam. aku mencari parkiran yang tidak terlalu mepet dengan mobil lainnya, "Al, tunggu sebentar," kemudian aku keluar menembus hujan sembari membuka jok belakang, dan ternyata hanya ada satu payung, aku membukanya lalu aku membukakan pintu Alea. Hmmm... dia sangat dekat denganku, andai jalanan menuju pintu Gelatto sangat panjang, itu akan membuatku susah tidur. Sayangnya jaraknya hanya 30 meteran. Mungkin ini yang dinamakan berdebar-debar, mungkin ini yang dibilang "laki-laki siap melakukan apapun, untuk mendapatkan cintanya".

            "Makasih Akram," katanya dan aku terseyum tipis.

        "Apa kau basah?," tanyaku dan dia menggeleng "ya sedikit," jawabnya sambil berdiri menungguku menutup payung dan meletakkannya di tempatnya.

            "Maaf ya, dingin-dingin malah mengajakmu kesini," kataku dan dia melirikku sembari bibirnya merekah. Aku mengikutinya mencari duduk di dekat jendela yang terbuka, bau hujan tercium syahdu, kali ini aku merasa hujan begitu indah.

           "Terimakasih sudah mau keluar denganku," kataku. "Maaf, aku baru bisa kali ini, jadi kapan berangkat?," tanyanya. "Dua minggu lagi insyallah," kataku.

            "Semoga lancar ya," katanya. "Terimakasih," kataku.

            'Yuk.. mau menu apa?," tanyaku dan dia mengamati menu-menunya kemudian mendatangi etalase eksrim yang besar, beberapa pelayan menanyakan apa yang dia inginkan. "Pesankan aku seperti yang kamu pilih," kataku. Kemudian aku berdiri di dekat kasir, ini semacam kencan pertama, jadi jangan sampai aku salah sikap.

             Ketika aku melihatnya selesai memilih, aku meminta bil kepada kasir, dan beberapa pesannya aku segera membawanya ke meja, dia menatapku kaget, namun ia biarkan. "Kau sering kesini?," tanyaku.

            "Sesekali sih, terimakasih ya," katanya. Hmmm... kalaupun disuruh menghamba kepadanya, akan kulakukan, entahlah banyak wanita yang kutemui, namun bersamanya membuatku ingin melindunginya.

            "Ikut denganku ke Malaysia yuk," ajakku tiba-tiba, ouhhh itu kalimat begitu saja terucap, namun ketika aku menyadari seberapa berat kalimatku itu, mukaku seperti kepiting rebus.

            "Hmmm... kau memang suka bercanda?," 

        "Enggak, aku serius," kataku sembari menatap matanya dan dia memalingkan pandangannya dariku ke secangkir es krim yang berwarna pink itu. Oke, aku tidak memaksanya untuk menjawab, karena dalam diamnya mungkin saja dia sedang berfikir. Aku jadi mengingat pertama kali bertemu dengannya yang sebenarnya karena si Ilham, temanku yang menaruh hati meski saat itu tahu Alea sudah ada pacar. Ilham yang setiap malam membuat aku dan teman-teman bosan dengan ceritanya sebagai pengagum berat cewek yang sedang ada didepanku. Apa yang ia rasakan saat itu ternyata kini kurasakan. Karena begitu penasaran, saat itu aku tanya ke teman pacarku tentang "Alea" dan ternyata pacarkupun kenal dengan Alea, sebab dia sering datang ke kos untuk nyamperin tetangga kamarnya yang kalau tidak salah sahabatnya Alea, akhirnya dengan berbagai alasan aku meyakinkan pacarku untuk membuat mini party yang akan mengundang Alea, agar nampak logis aku mengajak Ilham, tentu saja ia sangat setuju bahkan sebelum berangkat dia meminta pendapat teman-teman jam mana yang cocok untuk ia kenakan, dari ruang santai aku melihat Ilham sangat sibuk, keluar masuk kamar dengan gonta ganti baju.

              Kemudian, siang itu setelah menunggunya sangat lama, pacarku menelfonku untuk segera datang, karena katanya Alea akan segera datang pula, hmm... jujur saja akupun ikut grogi, seperti apa sih cewek yang sering dibicarakan teman-teman ini. Aku segera memberitahkan Ilham soal Alea beneran akan datang, disitulah aku melihat Ilham menjadi laki-laki sangat salting, padahal biasanya dia adalah orng yang paling lantang bicara terutama di depan umum.

          "Bro, penampilanku gimana?," tanyanya dan aku mengangkat dua jempolku. Ilham begitu semangat yang sebelum-sebelumnya tak pernah aku tahu dia begitu. Sehingga tanpa dia bilang menyukai Alea, semua anak kontrakan sudah sangat faham bagaimana perasaannya.

                "Sayang cepetan," WA pacarku dan kemudian kutarik Ilham untuk segera naik di boncengan motorku. Sejujurnya aku juga berdebar-debar, bukan karena ketemu pacarku, tapi entahlah. 10 menit kemudian, aku sampai di kos pacarku dan mataku menyapu ruangan 4x7 meter sambil was-was, kulihat pacarku sedang sibuk memotong semangka, lalu tetangga kamarnya membuat sambal rujak, dan teman lain menyiapkan minuman. "Sayang, Alea belum datang?," tanyaku pelan dan pacarku menggeleng, "masih diperjalanan mungkin". Dan setelah makanan semuanya siap, teman-teman lain satu persatu berdatangan dengan membawa makanan masing-masing, kami bercanda ngalor ngidul, kecuali Ilham yang lebih banyak diam dan menahan senyum saat digodain teman-teman lain. Hmm...dia pasti sedang berdebar-debar untuk membayangkan pertemuannya dengan Alea siang ini.

            "Santai aja bro," goda Mei tetangga kamar pacarku. Ilham hanya nyengir, serius yang kulihat sekarang seperti bukan Ilham biasanya. Dan akhirnya yang ditunggu datang juga, Alea datang sendiri dengan membawa bungkusan lumayan besar, dia membawa kopi cup 12 bungkus, "baik juga ni cewek," batinku sembari melihat senyumnya yang menyapu ruangan. Dia berjalan ke Mei bersalaman dan memeluk khas gaya cewe pas ketemu, lalu ke pacarku dan teman-temannya kemudian menyapa kami dengan melambaikan tangannya "halooo". Sekilas kulirik Ilham, dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari menatap Alea.

          "Bro, biasa aja, jaga pandanganmu," kataku sambil kusenggol pundaknya.

         "Heh.. iya bro, q gak bisa menahan gejolak ini," katanya membuatku semakin pusing karena membawanya dalam situasi seperti ini.

          "kak, kenalin ini Akram calon suamiku," kata pacarku ke gadis berjilbab coklat itu, ia menatapku dan menganggukkan wajahnya, isyarat salam perkenalan.

            Sejak saat itu, jika ada perempuan yang ingin kujadikan istri adalah dia, pikiran itu datang begitu saja, tanpa menjaga perasaan Ilham, pacarku dan teman-temanku semuanya. Namun, sudah menjadi berita umum, jika dia memiliki pacar yang ganteng dan kaya raya, kekasih yang dari jalur keluarganya sendiri, sehingga saat dikampus hampir gak ada yang berani nganterin dia balik, karena pacarnya selalu menjemputnya tepat waktu. Lagian saat itu, aku dan teman-teman seangkatan masih sangat jarang yang menggunakan mobil, sehingga merasa tidak imbang.

             

 

 

"Akram, ada lagi yang ingin kamu bicarakan?," tanya Alea mengagetkanku.
"Hm...apa ya... aku hanya ingin melewati waktu bersamamu," kataku dan dia tersenyum.

"Kamu tu suka gombal terus," katanya lalu menyendok es krim ke mulutnya.

"Al...aku serius," kataku, setelah puluhan purnama dan kupikir ini waktu yang tepat pula untuk mengatakan apa yang sudah kusimpan sejak 4 tahun lalu.

"Terlalu cepat jika itu serius," katanya.

 

 

Alea dari hati terdalam:

"Rasanya, baru kemaren aku bertemu dengannya di sebuah party kecil di kos teman, baru kemaren aku bergeming dalam hati seandainya laki-laki itu bukan pacar temanku, seandainya dia bukan adek kelas yang lumayan jauh,--- aku yang pernah memintanya kepada Tuhan, meski kupikir ini tidak akan mungkin, tapi ternyata di waktu yang tidak disangka Tuhan memberikan jawabannya. Dari kemaren-kemaren, aku tidak mau bertemu dengannya, sebab aku tidak mau membuat hatiku terluka dengan imagenya sang pematah hati wanita. Sebelum dia berkata seperti itu, 4 tahun yang lalu aku sudah mengagguminya dalam diam, sebelum dia ngotot ngajak ketemu aku, hatiku terusik dengan senyumnya, tatapannya dan sikapnya saat pertama kali berjumpa dan tentunya.... saat ini, ketika hujan turun dia membukakan pintu dan membagi payungnya untukku.
"Hujan semakin kuat, memberikan kesimpulan bahwa aku memang menyayanginya, mengaguminya....sejak party kecil hingga hujan diluar sana yang belum reda,"

 


 "Hujan sudah reda, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat," katanya sembari menyodorkan telapak tangannya yang terbuka di depanku, matanya menunggu jawabanku.... hmmmm aku tak bisa lagi menyembunyikan perasaanku...

             

 

logoblog