Tampilkan postingan dengan label pendidikan. Tampilkan semua postingan

TEORI TABULARASA, NATIVISME DAN KONVERGENSI

 

CARA MENDIDIK ANAK 

oleh: Lumna, Dewi, Zuhdan

A.   Latar Belakang

        Menurut Redja Mudyaharjo, dalam bukunya filsafat ilmu pendidikan suatu pengantar, mengatakan bahwa pendidikan adalah proses interaksi antara pendidik dan peserta didik untuk memperoleh ilmu pengetahuan maupun keterampilan. Interaksi ini secara nyata terwujud proses belajar mengajar didalam institusi-institusi terkait.

        Pendidikan tidaklah dapat dipisahkan dari kehidupan setiap individu, baik sebagai makhluk social. Tiap-tiap individu, baik sebagai makhluk individual, ethis maupun makhluk social. Tiap-tiap individu akan tumbuh dan berkembang, sepat atau lambat dalam lingkungan yang terus berubah ditentukan antara lain oleh kemampuan pendidik dalam memhami tujuan yang akan dicapai. Keadaan anak didik yang dihadapi dengan segala latar belakangnya.

        Sarana pendidikan, ketepatan memilih bentuk komunikasi pendidikan dan keadaan lingkungan sehingga memungkinkan terjadinya interaksi edukatif atau tindakan yang bersifat mendidik dalam pergaulan pendidikan. Hal seperti ini apabila pendidik memahami konsep dasar tentang pendidikan dan memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari.  

 

 

1.     Pendidik

              Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Pribadi pendidik adalah hal yang sangat penting. Kepribadian mencakup semua unsur, baik fisik maupun psikis. Sehingga dapat diketahui bahwa setiap tindakan dan tingkah laku seseorang merupakan cerminan dari kepribadian seseorang, selama hal tersebut dilakukan dengan penuh kesadaran.

              Dalam Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 ayat (3) butir b dikemukakan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

a.      Kepribadian yang mantap dan stabil

       Dalam hal ini untuk menjadi seseorang pendidik harus memiliki kemampuan yang mantap dan stabil. Ini penting karena banyak msalah pendidikan yang disebabkan oleh factor kepribadian pendidikan yang kurang mantap dan kurang stabil. Oleh karena itu, sebagai seorang pendidik seharusnya bertindak sesuai dengan norma hukum dan norma social, bangga sebagai pendidik, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.

       Kepribadian itulah yang akan menentukan apakah ia menjadi pendidik dan Pembina yang baik bagi peserya didiknya atau sebaliknya.

b.     Kepribadian yang dewasa

       Sebagai seorang pendidik, harus memiliki kepribadian yang dewasa karena terkadang banyak masalah pendidikan yang muncul yang disebabkan oleh kurang dewasanya seorang pendidik. Kondisi kepribadian yang demikian sering membuat pendidik melakukan tindakan-tindakan yang tidak professional. Ujian berat bagi setiap pendidik dalam hal kepribadian ini adalah rangsangan yang sering memancing emosinya. Kestabilan emosi sangat diperlukan, namun tidak semua orang mampu menahan emosi terhadap rangsangan yang menyinggung perasaan.

 

c.      Kepribadian yang dewasa

       Berwibawa mengandung makna bahwa seorang pendidik harus memiliki:

-       Perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik. Artinya, pendidik harus selalu berusaha memilih dan melakukan perbuatan yang positif agar dapat mengangkat citra baik dan kewibawaannya, terutama didepan peserta didiknya.

-       Perilaku yang disegani. Artinya, pribadi guru dipandang sebagai seorang yang menunjukkan integritas dan kredibilitas yang tinggi di lingkungan pendidikan terutama di hadapan peserta didik.

d.     Berakhlak mulia

       Pendidik harus berakhlak mulia karena pendidik adalah seorang penasehat bagi peserta didik. Dengan berakhlak mulia, dalam keadaan bagaimanapun pendidik harus memiliki rasa percaya dirii, hikmat dan tidak tergoyahkan. Tampilan kepribadian pendidik akan lebih banyak memengaruhi minat dan antusiasme peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Pribadi pendidik yang baik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan dalam pembelajaran apapun jenis mata pelajarannya.

       Karakteristik kepribadian yang berkaitan dengan keberhasilan pendidik dalam menggeluti profesinya alaha meliputi fleksibilitas kognitif dan keterbukaan psikologis. Fleksibilitas kognitif atau keluwesan ranah cipta merupakan kemampuan berpikir yang diikuti dengan tindakan secara simultan dan memadai dalam situasi tertentu. Pendidik yang fleksibel pada umumnya ditandai dengan adanya ketrerbukaan berpikir dan beradaptasi. Selain itu, ia memiliki resitensi atau daya tahan terhadap ketertutupan ranah cipta yang premature dalam pengamatan dan pengenalan.

 

2.     Bagaimana cara mendidik anak

              Mendidik anak termasuk kewajiban terbesar bagi para orang tua. Sebagaimana seseorang ayah bertanggung jawab dalam membina fisik dan tubuh anak-anaknya dan juga dituntut untuk bertanggung jawab dalam hal mendidik dan membina akhlak dan spiritual mereka. Yaitu dengan jalan berupaya membersihkan jiwa-jiwa mereka dalam meluruskan akhlaknya.[1]

              Pada hakikatnya, tanggung jawab pendidikan itu adalah tanggung jawab yang besar dan penting. Sebab, pada tatanan operasionalnya, pendidikan merupakan pemberian bimbingan, pertolongan dan bantuan dari orang dewasa atau orang yang bertanggung jawab atas pendidikan kepada anak yang belum dewasa. Dewasa dari segi rohaniah dan jasmaniah di dalam ketakwaan kepada Allah SWT., yang ditampilkan berupa tanggung jawab atas semua sikap dan tingkah lakunya pada diri sendiri, masyarakat, dan pada Allah SWT.[2]

              Di era ini orang tua tidak boleh lengah dalam memberi perhatian pada anak-anaknya, dan ini harus dilakukan sejak dini. Selain memahami hal-hal yang berkaitan dengan konsep pendidikan anak dalam Islam maka ada bebrapa hal yang harus diketahui dan difahami orang tua dalam mendidik anak, yaitu:

1.     Menjaga komunikasi dengan baik

       Komunikasi yang baik dengan anak adalah salah satu cara agar dekat dengan anak. Tapi kenyataannya, akhir-akhir ini komunikasi orang tua dengan anak semakin renggang. Anak-anak lebih sering berinteraksi dengan teknologi dari pada dengan orang tua. Seakan dunia maya sekarang ini lebih nyata dari pada dunia nyata itu sendiri.

2.     Menyisihkan waktu luang dengan anak

       Kelalaian orang tua dalam meluangkan waktu untuk anak sering kali mengakibatkan ia main hakim sendiri ketika melihat anaknya tidak berhenti-henti memainkan gadget.

3.     Bersikap lemah lembut terhadap anak

       Berbicara dengan lemah lembut kepada anak adalah wujud cinta kepadanya. Mencintai dan menyayangi anak adalah seni mengikuti ajaran Rasul. Jika diantara orang tua dan anak saling menyayangi dan tidak ada jarak diantara mereka, maka anak akan lebih senang menghabiskan waktu di dunia nyata bersama dengan orang tua dari pada asyik dengan dunia maya.

4.     Membekali anak dengan pendidikan agama yang kuat

       Saat ini, minat dan motivasi orang untuk mempelajari ilmu agama sangat rendah, dibandingkan dengan ilmu yang bersifat duniawi. Bagi orang tua yang bijak haruslah memberi bekal ilmu agama yang kuat. Karena, dengan pondasi ilmu agama yang dapat membentengi anak dari perbuatan yang menyimpang.

5.     Mendoakan anak

       Mendoakan anak adalah pilar pokok yang harus dilakukan orang tua dalam mendidik anak. Karena doa orang tua pasti dikabulkan oleh Allah SWT. Jadi selain berpayah-payah mendampingi anak, memberi perhatian, serta penerimaan tanpa syarat, maka kiranya belum cukup sehingga doa lah yang menjadi pelengkap. [3]Dalam doa hendaknya orang tua menitipkan anaknya pada Allah agar dijaga dari hal-hal buruk dan perbuatan yang dilarang oleh agama.

 

3.     Apa yang dimaksud Teori Tabularasa, Nativisme, dan Konvergensi

1.     Teori Tabularasa

       Teori tabularasa sering kali dikonsumsi dalam pendidikan anak usia dini. Teori ini dikemukakan oleh Jhon Locke, yang mana mengungkapkan bahwa anak lahir ibarat sebuah kertas kosong yang mana membutuhkan orang dewasa untuk mengisi dan mewarnainya. Dalam rentang usia 0 sampai 6 tahun, berbagai aspek perkembangan anak usia dini mulai dari kognitif, social emosional, bahasa, dan lainnya berkembang dengan begitu pesat.

       Masa ini adalah masa awal anak membangun karakter dalam dirinya. Indicator yang kita sadari saat proses ini berlangsung adalah dengan munculnya perilaku anak seperti menaruh atensi berlebih pada sebuah hal yang baru, berceloteh akan suatu hal secara sederhana menurut persepsi mereka serta yang paling dekat dengan kita adalah dengan munculnya perilaku sering bertanya.

       Anak akan menanyakan apa saja kepada orang dewasa atau teman sebaya yang mereka temui, hal ini dilakukan sebagai bentuk memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Anak akan bertanya ketika telah melewati proses memberi atensi dan memiliki persepsi atas apa yang ingin ia ketahui sebelumnya. Bertanya adalah karakter anak yang perlu diasah. Dengan bertanya, anak yang semula ‘kosong’ seperti halnya konsep tabularasa yang dibahas diawal akan menjadi terisi dan tidak kosong lagi.

2.     Teori Nativisme

       Nativisme berasal dari kata Nativus yang berarti kelahiran. Teori ini muncul dari filsafat nativisma (terlahir) sebagai bentuk dari filsafat idealism dan menghasikan suatu pandangan bahwa perkembangan anak ditentukan oleh hereditas, pembawaaan sejak lahir, dan factor alam yang kodrati. Pelopor aliran Nativisme adalah Arthur Schopenhauer seorang filsof Jerman yang hidup tahun 1788-1880.

       Aliran Nativisme adalah aliran yang menyatakan bahwa perkembangan individu ditentukan oleh bawaan sejak ia dilahirkan dan factor lingkungan sendiri dinilai kurang berpengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Pada hakekatnya aliran Nativisme bersumber dari Leibnitzian Tradition, sebuah tradisi yang menekankan pada kemampuan dalam diri seorang anak. Hasil perkembangan ditentukan oleh pembawaan sejak lahir dan genetic dari kedua orang tua.

       Dengan demikian, menurut aliran ini, keberhasilan belajar ditentukan oleh individu itu sendiri. Nativisme berpendapat, jika anak memiliki bakat jahat dari lahir, ia akan menjadi jahat, dan sebaliknya jika anak memiliki bakat baik, maka ia akan menjadi baik. Pendidikan anak yang tidak sesuai dengan bakat yang dibawa tidak akan berguna bagi perkembangan anak itu sendiri.

3.     Teori Konvergensi

       Jamaludin Darwis mendefinisian teori konvergensi secara bahasa yaitu berasal dari bahasa inggris dari kata verge yang artinya menyatu, mendapat awalan con yang artinya menyertai, dan mendapat akhiran ance sebagai pembentuk kata benda. Sedangkan secara istilan konvergensi mengandung arti perpaduan antara entitas luar dalam, yaitu antara lingkungan social dan hereditas. Sumadi Surya Brata mengaskan teori konvergensi yaitu bahwa dalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting, bakat kemungkinan telah ada pada masing-masing individu. Akan tetapi, bakat yang sudah tersedia itu perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.

       Jadi menurut aliran ini, hereditas tidak akan berkembang secara wajar apabila tidak diberi rangsangan dari factor lingkungan. Sebaliknya, rangsangan lingkungan tidak akan membina perkembangan tingkah laku baik tanpa disadari oleh factor hereditas. Penentuan kepribadian seseorang ditentukan oleh kerja yang integral (potensi bawaan) maupun factor eksternal (lingkungan).

       Aliran konvergensi lahir dikarenakan adanya perbedaan pendapat tentang dua factor yang memengaruhi perkembangan akhlak anak, yaitu faktor hereditas (ketutunan) dan Milliu (lingkungan).

 

4.     Apa itu Regulasi Pendidikan?

              Regulasi pendidikan adalah peraturan-peraturan atas keputusan terkait pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam bentu Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, atau Peraturan Daerah. Regulasi pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejaranh perkembangan pendidikan Indonesia.

              Seiring perkembangan bidang pendidikan sains, teknologi komunikasi, politik dan social budaya di Indonesia, regulasi yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Salah satu strategi pemerintah adalah melakukan perbaikan kurikulum yang di dukung oleh sejumlag peraturan untuk mengatur seluruh proses persiapan dan pelaksanaan, baik dibidang kurikulum kurikulum, sumber daya guru dan tenaga kependidikan.

              Regulasi kurikulum di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkembangan pendidikan sejak jaman colonial Belanda sampai dengan masa kini. Telah terjadi perubahan-perubahan  regulasi kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan sosial, hukum dan ekonomi baik ditingkat nasional, regional maupun internasional, khususnya di kawasan ASEAN. Regulasi kurikulum juga disusun secara berjenjang melalui kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), sehingga dapat memnuhi kebutuhan pasar kerja di tingkat regional khususnya MEA.

              Pelaksanaan regulasi pendidikan nasional memerlukan Peraturan Pemerintah dan/atau peraturan lain yang berada dibawahnya secara konstitusional. Dalam hal tata kelola penyelenggara pendidikan berbentuk badan hukum, maka pemerintah harus menggali rasa keadilan masyarakat yang didasrkan pada Undang-Undang Dasar 1945.

 

 

 

A.   Kesimpulan

1.     Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia. Pribadi pendidik adalah hal yang sangat penting. Dalam Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 ayat (3) butir b dikemukakan bahwa kompetensi kepribadian adalah kemampuan yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, serta menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia.

2.     Di era ini orang tua tidak boleh lengah dalam memberi perhatian pada anak-anaknya, dan ini harus dilakukan sejak dini. Selain memahami hal-hal yang berkaitan dengan konsep pendidikan anak dalam Islam maka ada bebrapa hal yang harus diketahui dan difahami orang tua dalam mendidik anak, yaitu: Menjaga komunikasi dengan baik, Menyisihkan waktu luang dengan anak, Bersikap lemah lembut terhadap anak, dll.

3.     Untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari factor pembawaan (gen) dan lingkungan itu diperlukan bagi seseorang meski hanya sekedar ada di dunia. Faktor bawaan dan lingkungan bekerja sama untuk menghasilkan kecerdasan temperament, tinggi badan, berat badan, kecakapan membaca, dan sebagainya. Tanpa gen tidak akan ada perkembangan dan tanpa lingkungan tidak ada pula perkembangan karena pengaruh lingkungan tergantung pada karakteristik genetic bawaan, jadi dapat dikatakan bahwa ke-2 faktor diatas saling berinteraksi.

4.     Regulasi pendidikan adalah peraturan-peraturan atas keputusan terkait pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam bentu Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri, atau Peraturan Daerah. Regulasi pendidikan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari sejaranh perkembangan pendidikan Indonesia.

5.      

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Fauzan, Abdul Aziz. 2007. Fikih Social: Tuntutan dan Etika Hidup Bermasyarakat. Jakarta: Qisthi Press.

Saebani, Beni Ahmad dan Hendra Akhidiyat. 2012. Ilmu Prendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia.

Nurhasanah, Ika dan M. Sugeng Solehudin, Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Perempuan, Forum Tarbiyah.

https://www.kompasiana.com/puja08587/5e48efedd541df77133cb902/kamu-harus-tahu-ini-penyebab-terbunuhnya-karakter-anak-sejak-dini-yang-jarang-kita-sadari?page=1 diakses pada 19 Maret 2022 pukul 14.35

https://mazanggit.wordpress.com/2021/10/17teorinativisme/ diakses pada 19 Maret 2022 pukul 15.47

https://www.gurupintar.ut.ac.id/content/regulasi-dan-kebijakan-pendidikann diakses pada 19 Maret 2022 pukul 16.09

https://juliawankomang.wordpress.com/2015/12/01/teori-belajar-menurut-nativisme-empirisme-dan-konvergensi/ diakses pada 19 maret 2022 pukul 17.34



[1] Abdul Aziz al-Fauzan, Fikih Social: Tuntutan dan Etika Hidup Bermasyarakat (Jakarta: Qisthi Press, Cet, 1, 2007),hlm. 211.

[2] Beni Ahmad Saebani dan Hendra Akhidiyat, Ilmu Prendidikan Islam, (Bandung, CV Pustaka Setia, Cet, II,2012), hlm 211-212

[3] Ika Nurhasanah dan M. Sugeng Solehudin, Peran Orang Tua dalam Mendidik Anak Perempuan, Forum Tarbiyah, 11.9 (2013),66-78.

logoblog

Pendidikan di Indonesia pada Zaman Penyebaran Islam



Pendidikan di Indonesia pada Zaman Penyebaran Islam
Oleh: Nurul hidayah

Pada permulaan abad ke-16 dan mungkin di dalam abad ke- 13 banyak masyarakat yang dahulu memeluk agama Hindu kemudian memeluk agama Islam. Mungkin sekali agama Islam mereka telah disesuaikan dengan keadaan dan adat istiadat dan mungkin dengan kebudayaan bangsa Hindu. Proses penyebaran Islam dilakukan dengan berbagai jalan, mulai dari perdagangan, pernikahan, pengobatan, budaya, maupun pendidikan.38Lembaga pendidikan Islam telah memainkan fungsi dan perannya sesuai dengan tuntutan masyarakat pada zamannya. Adapun lembaga pendidikan di Indonesia pada zaman penyebaran Islam antara lain:

a. Pendidikan Masjid, Langgar, dan Surau

   Hampir di setiap desa di Pulau Jawa terdapat tempat peribadahan. Di tempat tersebut, umat Islam dapat melakukan ibadahnya sesuai dengan perintah agamanya. Tempat tersebut dikelola seorang pertugas yang disebut “amil”, “modin”, lebai” (Sumatra). Petugas tersebut bertugas ganda yaitu memimpin dan memberikan doa pada waktu hajat upacara keluarga atau desa, dan bertugas sebagai pendidik agama. Pengajaran-pengajaran di langgar-langgar merupakan pengajaran permulaan. Sedangkan pengajaran di pesantren ditujukan kepada mereka yang ingin memperdalam ilmu ketuhanan. Apa yang diajarkan di langgar merupakan pelajaran agama dasar, mulai pelajaran dalam huruf Arab, tapi tak jarang pula dilakukan secara langsung mengikuti guru dengan menirukan apa yang telah dibacakan dari kitab Al-Qur’an. Tujuan pendidikan dan pengajaran di langgar adalah murid dapat membaca dan lebih tepat melagukan menurut irama tertentu seluruh isi Al-Qur’an.S istem pengajaran secara hoofdelyk atau individual. Yang secara individual anak satu persatu kehadapan guru sedang anak yang lain. menunggu gilirannya. Sementara menunggu, murid-murid lainnya duduk bersila melingkar dengan tetap berlatih melagukan ayat-ayat suci.43Di sini sang guru melakukan koreksi kepada bacaan murid-murid yang salah mengucapkannya. Pelajaran biasanya diberikan pada pagi hari (habis shubuh) atau petang hari (sesudah atau sebelum magrib) dengan lama pertemuan tiap harinya sekitar satu hingga dua jam. Proses tersebut biasa selesai atau dapat diselesaikan selama beberpa bulan, tetapi umumnya sekitar 1 tahun. Murid-murid yang belajar di langgar tidak dipungut uang sekolah. Kalaupun ada, uang sekolah yang diberikan itu tergantung kepada kerelaan orangtua murid yang dapat memberikan tanda mata berupa benda-benda atau uang. Sesudah murid menyelesaikan pelajaran dalam arti tamat membaca Al-Qur’an, biasanya diadakan selamatan dengan mengundang makan teman-teman murid atau kerabat dekat, di rumah guru atau di langgar. Hubungan antara murid dan guru pada umunya berlangsung terus walaupun murid kemudian meneruskan pendidikan pada lembaga pendidikan yang lebih tinggi.Selain langgar, di Sumatra pun terdapat sekolah-sekolah agama semacam langgar dan pesantren. Sekolah-sekolah agama di Sumatra, khususnya di Minangkabau disebut dengan “Surau” yang memberikan pelajaran permulaan dan pelajaran tinggi.

   Istilah surau di Minangkabau sudah dikenal sebelum datangnya Islam. Sebagai lembaga pendidikan tradisional, surau menggunakan sistem pendidikan halaqah. Sistem pendidikan ini seperti yang digunakan di langgar. Pada umumnya pendidikan ini dilaksanakan pada malam hari. Dalam surau-surau kecil hanya diajarkan membaca Al-Quran dengan tidak memakai pengertian dan kecakapan menulis. Disamping itu adapula ilmu-ilmu ke-Islam-an lainnya yang diajarkan, seperti keimanan, akhlak dan ibadah. Di surau yang besar mendidik siswanya supaya memiliki pandangan dan pendapat yang terang tentang pengetahuan umum. Metode pendidikan surau memiliki kelebihan dan kelemahannya. Kelebihannya terletak pada kemampuan mengafal muatan teoritis keilmuan. Sedangkan kelemahannya terdapat pada lemahnya kemampuan memahami dan menganalisis teks.

b. Pendidikan Pesantren

  BKeberadaan pesantren, khususnya di Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran Walisongo. Dakwah Walisongo berhasil mengislamkan Jawa karena metodenya mengombinasikan aspek spiritual, islam dan mengakomodasikan tradisi masyarakat setempat. Mereka mendirikan pesantren sebagai tempat dakwah Islam sekaligus sebagai proses belajar-mengajar. Pesantren mengambil alih pola pendidikan padepokan tapi mengubah bahan dan materi yang diajarkan dan melakukan perubahan secara perlahan-lahan tata nilai dan kepercayaan masyarakat setempat. Versi lain menyebutkan bahwa pesantren memiliki hubungan historis dengan Timur Tengah. Informasi ini berasal dari mereka yang melakukan ibadah haji. Mereka tidak sekedar melakukan ibadah haji tetapi juga menuntut ilmu, terutama menghadiri pengajian di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

   Proses belajar, pengajian serta pelaksanaan ibadah (selain haji) diadopsi para kiai untuk mendirikan pola pendidikan serupa di Tanah Air. Versi lain lagi menyebutkan bahwa proses kemunculan pesantren tidak dapat dilepaskan dengan sejarah gerakan tarekat di Indonesia. Gerakan kaum tarekat ini aktivitasnya kebanyakan adalah melakukan amalan-amalan dzikir atau wirid tertentu yang dikelola secara organisatoris. Disana juga diajarkan berbagai cabang ilmu pengetahuan agama Islam. Dari pengajian ini kemudian berkembang lebih lanjut menjadi institusi pendidikan bernama pesantren. Istilah pesantren berasal dari kata pe-santri-an, dimana kata "santri" berarti murid dalam Bahasa Jawa. Istilah pondok berasal dari Bahasa Arab funduuq (فندوق (yang berarti penginapan. Untuk mengatur kehidupan pondok pesantren, kyai menunjuk seorang santri senior untuk mengatur adik adik kelasnya, mereka biasanya disebut lurah pondok. Tujuan para santri dipisahkan dari orang tua dan keluarga mereka adalah agar mereka belajar hidup mandiri dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan dengan kyai dan juga Tuhan.

   Pendapat lainnya, pesantren berasal dari kata santri yang dapat diartikan tempat santri. Kata santri berasal dari kata Cantrik (bahasa Sansakerta, atau mungkin Jawa) yang berarti orang yang selalu mengikuti guru, yang kemudian dikembangkan oleh Perguruan Taman Siswa dalam sistem asrama yang disebut Pawiyatan. Istilah santri juga dalam ada dalam bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. Di pesantren yang diajarkan ialah berbagai kitab Islam klasik dalam bidang fiqih, teologi, dan tasawuf. Pesantren ini kemudian menjadi salah satu pusat penyiaran Islam. Beberapa pusat pesantren yang menjadi penyiaran agama Islam adalah sebagai berikut: Syamsu Huda di Jembrana (Bali), Tebuireng di Jombang, Al-Kariyah di Banten, Tengku Haji Hasan di Aceh, Tanjung Singgayang di Medan, Nahdlatul Watan di Lombok, Asadiyah di Wajo (Sulawesi), Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjar di Martapura (Kalimantan Selatan), dan banyak lainnya.Surya Siregar memberikan beberapa ciri dan prinsip yang bisa menjadi kehidupan pendidikan di pesantren. Hal ini mulai dari akrabnya hubungan antara peserta didik dengan pendidik, santri dengan kiai. Santri sebagai murid memiliki sikap patuh dan taat kepada sang pendidik, kiai, disebabkan

   kebijaksanaan dan karisma yang dimiliki oleh sang kiai tersebut. Kehidupan santri dalam pesantren terpola secara mandiri-sederhana, displin dan terampil dan pola sikap hidup hemat. Kemudian institusi tersebut banyak ditanamkan dan dipraktikkan semangat kebersamaan, persaudaran, saling bantu satu sama lain. Menurut Sudjoko prasodjo, pesantren adalah lembaga pendidikan dan pengajaran agama, umumnya dengan cara nonklasik, di mana seorang kiai mengajarkan ilmu agama Islam kepada santri-santri berdasarkan kitab-kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh ulama abad pertengahan, dan para santri biasanya tinggal di pondok (asrama) dalam pesantren tersebut.Umumnya, suatu pondok pesantren berawal dari adanya seorang kiai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah beberapa lama, banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kiai. Pada zaman dahulu, kiai tidak merencanakan bagaimana membangun pondoknya itu, namun yang terpikir hanyalah bagaimana mengajarkan ilmu agama supaya dapat dipahami dan dimengerti oleh santri. Kiai saat itu belum memberikan perhatian terhadap tempat-tempat yang didiami oleh para santri, yang umumnya sangat kecil dan sederhana. Mereka menempati sebuah gedung atau rumah kecil yang mereka dirikan sendiri di sekitar rumah kiai. Semakin banyak jumlah santri, semakin bertambah pula gubuk yang didirikan.

   Di dalam sistem pengajaran pesantren ini, para santri, yaitu murid-murid yang belajar, diasramakan dalam suatu kompleks yang dinamakan “pondok”. Disamping pondok pesantren tersebut juag terdapat tanah bersama yang digunakan untuk usaha bersama antara guru dan santri. Para santri belajar pada bilik-bilik terpisah dan belajar sendiri-sendiri, tetapi sebagian besar waktunya digunakan untuk bekerja di luar ruangan, baik untuk membersihkan ruangan, halaman, atau bercocok tanam. Mereka pada umumnya telah dewasa dan dapat memenuhi kebutuhan sendiri, baik dari bantuan keluarganya, atau telah mempunyai penghasilan sendiri. Pembagian waktu kegiatan sehari-hari di pesantren sebagai berikut:

1) Pukul 5 pagi mereka menjalankan ibadat

2) Sesudah itu, mereka mengerjakan kegiatan atau pekerjaan untuk kepentingan guru, seperti membersihkan halaman dan bekerja di pertamanan dan ladang. Perlu dicatat di sini bahwa guru-guru di pesantren tidak menerima gaji untuk penggantian jerih payahnya

3) Kalau pekerjaan ini selesai, pengajaran yang sesungguhnya dimulai

4) Sehabis makan siang, para santri beristirahat. Lalu belajar lagi, tetapi tidak melupakan kewajiban mereka beribadah

5) Beberapa santri menjaga keamanan pada waktu malam. Adakalanya, untuk memenuhi kebutuhan pesantren secara keseluruhan, para santri kerap bergerak ke luar pesantren untuk mencari dana pada umat Islam. Pada umunya masyarakat dengan sukarela dan hati terbuka memberikan dana atau materi yang diperlukan Besar kecilnya atau dalam dangkalnya bahan studi yang diberikan pada pesantren tergantung pada kiai dan pondok pesantren tersebut. Ada pondok pesantren yang diikuti oleh 8 hingga 10 orang. Akan tetapi, ada pula pesantren yang diikuti oleh ratusan murid. Luas dan sempitnya bahan studi tidak sama, tetapi semuanya telah mendapatkan pendidikan elementer pada langgar-langgar setempat. Lama berlangsungnya pendidikan di pesantren juga tak sama. Ada yang belajar hanya satu tahun, tetapi ada pula yang belajar bertahun-tahun hingga 10 tahun atau bahkan lebih. Pelajaran utama yang diberikan adalah dogma keagamaan (ushuluddin), yaitu dasar kepercayaan dan keyakinan Islam, dan fiqih, yaitu kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan bagi pemeluk Islam, meliputi:

1) Syahadat, yaitu mengucapkan kalimat bahwa tidak ada Tuhan yang harus disembah kecuali Allah dan Nabi Muhammad adalah utusannya.

2) Menjalankan shalat.

3) Membayar zakat pada fakir miskin.

4) Berpuasa pada bulan Ramadhan.

5) Pergi naik haji bagi yang mampu.66

Di dalam komplek pesantren, terdapat tempat kediaman para guru beserta keluarganya dengan semua fasilitas rumah tangga dan tidak ketinggalan masjid yang dipelihara dan dikelola bersama. Pendiidikan dan pengajaran di langgar dan di pesantren adalah suatu sistem yang ditemukan

di Jawa.

   Sebagai institusi pendidikan, pesantren pada mulanya sebagai tempat penyiaran agama Islam kepada khalayak ramai dan secara kultural dan pelan-pelan mengubah tradisi budaya yang berkaitan dengan pegangan agama sebelumnya dianut warga masyarakat. Di perkembangannya, institusi tersebut meluaskan garapan tidak sekadar mengajarkan pelajaran agama, tetapi juga ikut andil dalam memberikan jaran-ajaran pola nilai hubungan sosial-politik-ekonomi dan budaya masyarakat.

c. Pendidikan Madrasah

   Kemunculan madrasah erat hubungannya dengan sosok seorang meenteri dari dunia Arab bernama Nizam el-Mulk abad ke-11 sebagai pendiri lembaga pendidikan madrasah. Tokoh ini mengadakan pembaruan dengan memperkenalkan sisitem peendidikan yang bermula bersifat murni teologi (ilmu ketuhanan) dan menambah ilmu-ilmu yang bersifat keduniawian, seperti astronomi (ilmu perbintangan) dan ilmu obat-obatan.

   Bagi penulis khusus pendidikan Islam tipe madrasah dikaitkan dengan kemunculannya di Indonesia, merupakan peraliahan dan perkembangan pendidikan Islam yang mengadopsi sistem pendidikan modern dengan tetap mempertahankan beberapa pelajaran pokok islam dan porsinya lebih banyak diajarakan. Isi kurikulum pada umumnya adalah apa yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan islam (surau dan pesantren) ditambah dengan beberapa materi pelajaran yang disebut dengan ilmu-ilmu umum. Peralihan dari agama dan kebudayaan Hindu/Budha menuju Islam pada umumnya berlangsung secara damai dan tenang. Ketika agama Islam memasuki Indonesia, pengaruh dan cara berpikir Hindu masih kuat dan berakar. Pada masa itu, ada dua tipe guru. Pertama adalah guru untuk kalangan keraton dan bangasawan yang diundang atau hidup dikalangan keraton untuk mengajar para putra raja dan kestria lainnya. Kedua adalah guru pertapa yang bertapa di tempat-tempat yang menyendiri, jauh dari keramaian sambil belajar serta mendalami ilmi-ilmu ketuhanan serta ilmu-ilmu lainnya.

   Para penyebar agama Islam banyak menghubungkan para guru tipe kedua ini sehingga melalui    merekalah agama Islam tersebar luas di Indonesia. Para penyebar tersebut adalah “Walisongo” dan diberikan sebutan “Sunan”. Mereka adalah syaikh Maulana Malik Ibrahim, Sunan Gunung Jati, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Giri, Sunan Kudus, dan Sunan Muria. Mereka hidup pada waktu yang berlainan (abad 15 dan 16). Di Aceh pada masa Kerajaan Aceh Darussalam terdapat beberapa lembaga pendidikan Islam yang menyerupai madrasah, antara lain:

1) Pendidikan Meunasah

 a) Meunasah merrupakan tingkat pendidikan Islam terendah. Meunasah berasal dari kata Arab Madrasah dan berfungsi sebagai sekolah dasar. Meunasah merupakan suatu bangunan yang terdapat di setiap gampong (kampung, desa). Fungsi dari meunasah tersebut yaitu:Sebagai tempat upacara keagamaan, penerimaan zakat dan tempat penyalurannya, tempat penyelesaian perkara agama, musyawarah dan menerima tamu.

b) Sebagai lembaga pendidikan Islam di mana diajarkan pelajaran membaca Al-Qur’an. Pengajian bagi orang dewasa diadakan pada malam hari tertentu dengan metode ceramah dalam satu bulan sekali. Kemudian, pada hari jum’at dipakai ibu-ibu untuk shalat berjamaah zuhur yang diteruskan pengajian yang dipimpin oleh seorang guru perempuan. Pendidikan meunasah dipimpin oleh Teungku Meunasah. Pendidikan untuk anak perempuan diberikan oleh teungku perempuan yang disebut Teungku Inong. Dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak, Teungku Meunasah dibantu oleh beberapa orang muridnya yang lebih cerdas yang disebut sida.

    Umumnya pendidikan berlangsung selama dua sampai sepuluh tahun.Pengajaran umumnya berlangsung malam hari. Materi pelajaran dimulai dengan membaca Al-Qur’an yang dalam bahasa Aceh disebut Beuet Quran. Biasanya pelajaran diawali dengan mengajarkan huruf hijaiah. Selanjutnya membaca juz amma, sambil menghafalkan surat-surat pendek. Setelah itu ditingkatkan dengan membaca Al-Qur’an dilengkapi dengan tajwidnya. Di samping itu, diajarkan pula pokok-pokok agama seperti rukun iman, rukun Islam, dan sifat-sifat Tuhan. Adapula rukun sembahyang, rukun puasa serta zakat. Pelajaran menyanyi juga diajarkan, terutama nyanyian yang berhubungan dengan agama yang dalam bahasa Aceh disebut dike atau seulaweut (zikir atau selawat). Buku-buku pelajaran yang digunakan adalah buku-buku yang berbahasa Melayu seperti kitab parukunan dan Risalah Masail al-Muhtadin.

   Belajar di meunasah tidak dipungut biaya bayaran, dengan demikian para Tengku tidak diberi gaji, karena mengajar dianggap ibadah. Meunasah merupakan madrasah wajib belajar bagi masyarakat Aceh masa lalu.

2) Pendidikan Rangkang

   Pendidikan Rangkang dibangun pada setiap pemukiman. Biasanya pembangunan rangkang berdekatan dengan Mesjid. Gunanya untuk memudahkan peserta didik untuk shalat berjama’ah setiap waktu. Padazaman dahulu mesjid hanya terdapat pada setiap pemukiman. Jumlah rangkang di Aceh sama banyaknya dengan jumlah pemukiman pada waktu. Rangka dapat disamakan tingkatannya dengan Madrasah Tsanawiyah. Peserta didik pada tingkat rangkang berasal dari anak-anak kampung yang telah menyelesaikan pelajarannya di Meunasah. Bagi mereka yang ingin melanjutklan pelajaran yang lebih tinggi mereka diantarkan oleh orang tuanya ketempat itu. Karena pembangunan rangkang berjauhan dengan kampung, peserta didik kebanyakan memondok di kawasan rangkang. Waktu belajar di rangkang biasanya pagi dan sore. Pada malamnya mereka belajar dengan teman-temannya di tempat pemondokan masing-masing. Cara belajar berkelompok sudah lama dipraktekkan di rangkang dengan bimbingan kawan sebaya (Tengku Sida).

3) Pendidikan Dayah

   Pendidikan Dayah terdapat di setiap Negeri. Satu Negeri terdiri dari beberapa buah pemukiman. Kepala pemerintahan negeri disebut Ulee Balang. Pembangunan pendidikan dayah mungkin berdekatan dengan mesjid ada juga yang tidak. Apabila pembangunan pendidikan dayah tidak berdekatan dengan mesjid, dalam komplek dayah itu dibuat sebuah Aula tempat peserta didik shalat berjama’ah.Peserta didik tingkat dayah adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikannya dirangkang. Pendidikan tingkatan ini dapat dikatan sama dengan Madrasah Aliyah sekarang. Pendidikan tingkat dayah diatur lebih rapi. Pada umumnya peserta didik memondok. Kegiatan belajar lebih banyak. Ada yang berlangsung pada waktu pagi, ada pula yang berlangsung pada waktu sore, dan ada pula yang berlangsung pada waktu malam hari. Belajar di dayah lebih mandiri. Latihan lebih banyak. Seperti latihan berpidato, latihan dakwah, latihan berbicara, dengan bahasa Arab dan lain-lain. Latihan-latihan itu dilakukan supaya peserta didik lancar melakukan kegiatan-kegiatan dalam masyarakat. Pada waktu libur panjang bulan puasa dan pada bulan haji siswanya pulang kampung masuk kampung untuk mempraktekkan pengetahuannya

4) Pendidikan Dayah Teuku Chik

   Dayah Chik merupakan perguruan tinggi Islam zaman dulu. Setiap kerajaan Islam di Aceh memiliki Dayah Chik tersebut. Jumlah dayah tinggi sejak dari tahun 840-1903 (Masehi) lebih 50 buah di seluruh Aceh. Kerajaan-kerajaan Islam tersebut antara lain:

a) Islam Peurelak

b) Kerajaan Islam Tamiang.

c) Kerajaan Islam Dayah.

d) Kerajaan Islam Banda Aceh Darussalam.



 

Semoga bermanfaat

logoblog

Sejarah Pendidikan Indonesia Pada Masa Peradaban Islam


 Sejarah Pendidikan Indonesia Pada Masa Peradaban Islam

Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Pra Kolonialisme dibagi menjadi:

  1. Pendidikan Islam Pada Masa Kerajaan Islam di Indonesia
  2. pendidikan Islam pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. 

Pendidikan Islam pada masa kerajaan Islam di Indonesia yaitu pada masa Kerajaan Islam Aceh, Kerajaan Islam di Jawa, Kerajaan Islam di Maluku, Kerajaan Islam di Kalimantan, Kerajaan Islam di Sulawesi, pendidikan Islam Pada masa Wali Songo. 

Sejarah Perkembangan Pendidikan Islam Pada Masa Kolonialisme (Belanda, Jepang, Sekutu) yaitu pendidikan Islam pada masa kolonialisme Belanda dan penjajahan Jepang.

Pendidikan Islam Pada Masa Kerajaan Islam di Indonesia bisa dilihat antara lain:

  1.  Kerajaan Islam Aceh. Kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah kerajaan Samudera Pasai di daerah Aceh yang berdiri pada abad ke-10 M, dengan rajanya yang pertama Al Malik Ibrahim Bin Mahdun, yang kedua bernama Al Malik Al Saleh dan yang terakhir bernama Al Malik Sabar Syah (tahun 1444 M/abad ke 15H). Seorang pengembara dari Maroko yang bernama Ibnu Batutah pada tahun 1345 M sempat singgah di Kerajaan Pasai pada zaman pemerintahan Al Malik Al Zahir saat perjalanan ke Cina. Ibnu Batutah menuturkan bahwa ia sangat mengagumi kerajaan Samudera Pasai dimana rajanya sangat alim dalam ilmu agama dan menganut mazhab Syafii, fasih berbahasa Arab dan mempraktekkan pola hidup sederhana.Berdasarkan pendapat Ibnu Batutah tersebut dapat ditarik kepada system pendidikan yang berlaku di zaman kerajaan Samudera Pasai, yaitu:
    • Materi pendidikan dan pengajaran agama bidang syariat ialah Fiqh mazhab Syafii
    • System pendidikannya secara informal berupa majlis ta’lim dan halaqah
    • Tokoh pemerintahannya merangkap sebagai tokoh agama
    • Biaya pendidikan agama bersumber dari negara.
  2. Kerajaan Islam di Jawa. Salah seorang raja Majapahit yang bernama Sri Kertabumi mempunyai istri yang beragama Islam yang bernama Putri Cempa, dari Putri Cempa inilah lahir seorang putra yang bernama Raden Fatah yang dikemudian hari menjadi raja kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu kerajaan Demak. Tentang berdirinya kerajaan Demak para ahli sejarah berbeda pendapat, sebagian berpendapat bahwa kerajaan Demak berdiri pada tahun 1478 M. pendapat ini berdasarkan atas jatuhnya kerajaan Majapahit. Ada pula yang berpendapat bahwa kerajaan Demak berdir pada tahun 1518 M.
    Hal ini berdasarkan bahwa pada tahun tersebut merupakan tahun berakhirnya masa pemerintahan Prabu Udara Brawijaya VII yang mendapat serbuan tentara Raden Fatah dari Demak.Berdirinya kerajaan Islam Demak yang merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa tersebut maka penyiaran agama Islam semakin luas serta pendidikan dan pengajaran Islam pun bertambah maju.System pelaksanaan pendidikan dan pengajaran agama Islam di Demak punya kemiripan dengan yang dilaksanakan di Aceh yaitu denga mendirikan masjid di tempat-tempat yang menjadi sentral di suatu daerah.Disana diajarkan pendidikan agama di bawah pimpinan seorang badal untuk menjadi seorang guru yang menjadi pusat pendidikan dan pengajaran serta sumber agama Islam. Wali suatu daerah diberi gelar resmi, yaitu gelar Sunan dengan ditambah nama daerahnya, seperti Sunan Gunung Jati.
  3. Kerajaan Islam di Maluku. Islam masuk ke Maluku di bawah oleh Muballigh dari Jawa sejak Zaman Sunan Giri dari Malaka.Raja Maluku pertama yang masuk Islam adalah Sultan Ternate yang bernama Marhum pada tahun 1465-1486 M, atas pengaruh Maulana Husein saudagar dari Jawa.Raja Maluku yang terkenal dibidang pendidikan dan dakwah Islam ialah Sultan Zainul Abidin tahun 1486-1500 M.Dakwah Islam di Maluku mengalami dua tantangan yaitu yang datang dari orang-orang yang masih animis dan dari orang Portugis yang mengkristenkan penduduk Maluku.Sultan Sairun adalah tokoh yang paling keras melawan orang Portugis. Tokoh misi Katholik yang pertama di Maluku ialah Fransiscus Zaverius tahun 1546 M. ia berhasil mengkhatolikkan sebagian penduduk Maluku. Ketika bangsa Belanda yang beragama Kristen protestan datang di Indonesia mulai pula usaha memprotestan penduduk di Indonesia pada awal abad 17 M (Tahun 1600 M) Pemerintah Belanda berhasil memprotestan rakyat Indonesia secara massal di Batak. Manado dan Ambon, sedangkan Katholik berhasil di daerah Nusa Tenggara Timur yang mendapat pengaruh dari Portugis di Timur-Timur.
  4. Kerajaan Islam di Kalimantan.Islam mulai masuk di Kalimantan pada abad ke 15 M, dengan cara damai, di bawah oleh muballigh dari Jawa Sunan Bonang dan Sunan Giri mempunyai santri-santri dari Kalimantan, Sulawesi dan Maluku. Sunan Giri ketika berumur 23 tahun pergi ke Kalimantan bersama saudagar Kamboja bernama Abu Hurairah, muballigh lain dari Jawa adalah Sayid Ngabdul Rahman alias Khatib Daiyan dari Kediri. Perkembangan Islam mulai mantap setelah berdirinya kerajaan Islam Banjar Masin di bawah pimpinan Sultan Suriansyah sehingga masjid-mesjid di bangun dihampir setiap Desa. Pada tahun 1710 M (tepatnya 13 safar 1122 H) di zaman kerajaan Islam Banjar ke 7 di bawah pimpinan Sultan Tahmililah (1700-1748) telah lahir seorang ulama terkenal yaiatu Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari di desa Kalampayan Martapura. Sejak kecil beliau diasuh oleh Sultan Tahmililah dan cukup lama berstudi di Mekah sekitar 30 tahun sehingga pada gilirannya terkenal kelaiman dan kedalaman ilmunya, tidak saja di Kalimantan dan Indonesia tetapi sampai di luar negeri khusunya Kawasan Asia Tenggara. Syekh Muhammad Arsyad banyak mengarang kitab-kitab agama, diantaranya yang paling terkenal sampai sekarang adalah kitab Sahibul Muhtadin.Sultan Tahmililah mengangkat sebagai Mufti Besar kerajaan Banjar.Syekh Muhammad Arsyad juga berjasa besar dalam mendirikan Pondok Pesantren di kampong Dalam Pagar yang sampai sekarang masih terkenal yaitu Pesantren Darussalam.
  5. Kerajaan Islam di Sulawesi. Kerajaan yang mula-mula berdasarkan Islam di Sulawesi adalah kerajaan Kembar Gowa Tallo. Rajanya bernama I. Mallingkaang Daeng Manyonri yang kemudian berganti nama de ngan Sultan Abdullah Awwalul Islam. Menyusul di belakangnya raja Gowa bernama Sultan Aludin.Dalam waktu dua tahun seluruh rakyatnya telah memeluk Islam. Muballigh Islam yang berjasa di sana ialah Abdul Qadir Khatib Tunggal gelar Dato Ri Bandang berasal dari Minangkabau, murid Sunan Giri.
    Seorang Portugis bernama Pinto pada tahun 1544 M menyatakan telah mengunjungi Sulawesi dan berjumpa dengan pedagang-pedagang (muballigh) Islam dari Malaka dan Patani (Thailand).Pengaruh raja Gowa dan Tallo dalam dakwah Islam sangat besar terhadap raja-raja kecil lainnya.Beberapa ulama besar yang membantu Dato’ Ri Bandang ialah Dato’ Sulaiman alias Dato’ Pattimang dan Dato’ Ri Tirto alias Khatib Bungsu.Diperkirakan bahwa mereka itu juga berasal dari Minangkabau.Dari Sulawesi Selatan, agama Islam mengembang ke Sulawesi Tengah dan Utara. Islam masuk daerah Manado pada zaman Sultan Hasanuddin, ke daerah Bolang Mangondow di Sulawesi Utara pada tahun 1560 M, ke Gorontalo pada tahun 1612 M. Agama Islam yang telah kuat di Sulawesi Selatan itu menjalar masuk di Kepulauan Nusa Tenggara, yairu ke Bima (Sumbawa) dan Lombok, di bawa oleh pedagang-pedagang Bugis. Sumbawa di kuasai kerajaan Gowa pada tahun 1616 M.
     
     
     


     

     

     

     
logoblog